Matim Tidak Ada Sekolah Daring, Semua Tatap Muka | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Matim Tidak Ada Sekolah Daring, Semua Tatap Muka


Kepala Dinas PPO Matim, Basilius Teto. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

PENDIDIKAN

Matim Tidak Ada Sekolah Daring, Semua Tatap Muka


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengizinkan sekolah-sekolah di wilayah itu, baik SD maupun SMP, dalam tahun ajaran baru 2020/2021, memberlakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Tidak ada satu sekolah yang melaksanakan sistem pembelajaran dalam jaringan (daring) atau online.

“Untuk Matim, KBM sudah serentak dilaksanakan pada 13 Juli 2020. Semua tatap muka. Hanya tingkat PAUD dan TKK, pada September 2020, baru mulai masuk sekolah,” ungkap Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga (PPO) Matim, Basilius Teto, kepada TIMEXKUPANG.com saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/8).

Menurutnya, kebijakan menerapkan sistem pembelajaran tatap muka, karena kabupaten Matim mampu mempertahan status zona hijau dengan nol kasus positif Covid-19. Selain itu, semua orang tua siswa menyetujui dengan sistem pembelajaran tatap muka.

“Orang tua sendiri juga tidak mampu kalau belajar dengan sistem daring,” jelas Basilius.

Basilius menyebutkan beberapa alasan sekolah daring sulit diterapkan di Matim. Misalnya, ada banyak orang tua siswa yang tidak mampu membeli android untuk kepentingan belajar daring. Selain itu, jaringan internet di Matim juga masih terkendala. Oleh karena itu, kata Basilius, dalam penerapan KBM tatap muka di Matim, seluruh sekolah ditekankan untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, dan pihak Dinas PPO Matim terus memantau dan mengevaluasi secara berkala.

“Seluruh sekolah harus patuh dengan protokol kesehatan. Seperti guru dan siswa pakai masker, menyiapkan sarana cuci tangan, ukur suhu, dan satu ruangan kelas jumlah murid tidak boleh lebih dari 18 orang. Waktu KBM diatur, dan dengan sistem begilir atau shift,” jelas Basilius.

Pihak sekolah, lanjut Basilius, juga diminta tidak boleh membuka kantin atau kios di dalam dalam lingkungan sekolah atau sekitar lingkungan sekolah. Hal itu untuk menghindari terjadinya kerumunan. Artinya usai selesai KBM, semua murid langsung pulang ke rumah masing-masing.

“Kami sudah berapa kali lakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah sekolah. Semua sekolah, melaksanakan KBM dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara ketat,” kata Basilius.

Basilius menambahkan, di Kbupaten Matim, total sekolah jenjang SD sebanyak 329 unit, terdiri dari 101 SD swasata dan 228 SD Negeri/Inpres. Sementara jenjang SMP total seluruhnya sebanyak 137 sekolah, yakni sebanyak 125 SMP Negeri dan 12 SMP swasta. Sementara PAUD dan TKK, total seluruhnya di Matim sebanyak 17 sekolah. Terdiri dari 9 sekolah/PAUD/TK negeri, dan 8 swasta.

“Saya sudah ingatkan seluruh kepala sekolah, kami dari dinas yang pasti nanti rajin untuk sidak ke sekolah-sekolah. Sehingga tidak boleh main-main dengan aturan sekolah tatap muka dalam pandemi Covid-19,” tegasnya.

Terpisah Kepala SD Inpres Sok, Hermanus Djeramat, kepada TIMEXKUPANG.com mengatakan, KBM tatap muka di sekolahnya itu normal dilaksanakan pada 20 Juli 2020. Total seluruh murid di sekolah itu, dari kelas 1-6 sebanyak 287 orang. Karena pandemi Covid-19, jam belajar dibatasi dan disesuaikan jadwalnya. Disini ada pengaturan sift bagi siswi dan siswi.

“Tanggal 13 Juli itu, kami sistem kunjungi rumah siswa. Sehingga tatap muka itu efektifnya tanggal 20 Juli. Jam pelajaran itu hanya 30 menit. Jadi satu kelas itu kami bagi dua jadwal jam pelajaranya. Kami benar-benar mengikuti protokol kesehatan. Kalau ada murid dan guru yang datang sekolah tidak pakai masker, kita suruh pulang untuk ambil masker,” kata Hermanus.

Menurutnya, walau Kabupaten Matim masih aman dan masuk zona hijau dan diberlakukannya fase adaptasi kebiasaan baru (AKB), sekolah yang berlokasi di Desa Compang Ndejing, Kecamatan Borong itu tetap menerapkan KBM tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. “Sebelum masuk lingkungan sekolah saja, guru dan murid wajib cuci tangan pakai sabun dan air mengalir. Karena fasilitasnya, sekolah sudah siapkan,” kata Hermanus. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top