Demokrasi Sebagai Jalan Perubahan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Demokrasi Sebagai Jalan Perubahan


Demetris A. Z. Pitay, SE (FOTO: DOK. PRIBADI)

POLITIK

Demokrasi Sebagai Jalan Perubahan


Oleh: Demetris A.Z Pitay, SE *)

Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Dengan kata lain, Pemilu merupakan sarana bagi rakyat untuk menjalankan kedaulatan dan merupakan lembaga demokrasi.

Secara teoritis Pemilihan Umum dianggap merupakan tahap paling awal dari berbagai rangkaian kehidupan tata negara yang demokratis. Sehingga Pemilu merupakan motor penggerak mekanisme sistem politik Indonesia yang perlu dijalankan secara demokratis.

Demokrasi secara etimologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni demos dan kratos.

Demos berarti rakyat, sementara kratos atau cratein berarti pemerintahan. Menurut Yusuf Al Qordhawi Demokrasi secara umum terjadi dimana masyarakat dapat menunjuk seseorang untuk mengurus maupun mengatur segala urusan mereka melalui suatu wadah yang dinamakan demokrasi. Masyarakat berhak untuk meminta pertanggungjawaban kepada pemimpin atau wakil yang mereka pilih apabila bersalah sehingga dapat dimaknai bahwa rakyat memiliki kewenangan untuk memilih pemimpinnya lewat proses pemilu itu sendiri.

Kontestasi politik atau pesta demokrasi Pemilihan Umum tidak boleh dimaknai secara sempit karena sejatinya politik tidak hanya hadir saat pemilu semata, tetapi juga hadir melalui kebijakan yang menyangkut kehidupan kita sehari-hari. Ruang politik tidak boleh dimaknai sesempit Tempat Pemungutan Suara (TPS), karena jika dimaknai secara sempit, politik hanya akan diturunkan derajatnya untuk memilih kepala daerah, legislator, dan Presiden dan Wakil Presiden.

Jika kita kembali melihat difinisi politik, bahwa politik berasal dari kata Yunani, Politika, yang berarti urusan warga kota. Ini ada kaitannya dengan organisasi politik tertua di dunia, yaitu polis (pólis) atau Negara Kota, yang muncul di Yunani pada abad ke-8 SM.

Dalam polis Yunani, sudah dikenal pembagian antara urusan bersama/umum (polis/publicus) dan urusan rumah tangga (oikos/privatus).

Pengorganisasian kepentingan bersama itulah yang melahirkan istilah politik. Sementara itu Aristoteles, seorang filsuf penemu istilah itu, menyebut politik sebagai pengorganisasian warga untuk mewujudkan kebaikan bersama. Sedangkan gurunya, Plato, menyebut politik sebagai cara hidup bermasyarakat untuk mewujudkan kebajikan (virtue).

Politik sejatinya adalah seni yaitu seni mengggunakan kekuasaan untuk kepentingan bersama atau kepentingan umum. Dimana kekuasaan tak lebih dari otoritas yang diberikan oleh publik untuk lembaga/manusia politik untuk mengorganisasikan kepentingan bersama. Dengan begitu Politik tidaklah dimaknai secara sempit, misal sekedar ikut mencoblos berada dalam bilik TPS selama 5 Menit untuk kepentingan rakyat selama 5 Tahun.

Perkara Politik sejatinya tertuang melalui kebijakan, baik harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan dan kebijakan lain, jadi suka atau tidak suka politik hadir mengatur seluruh sendi kehidupan di dalam masyarakat sehingga benar yang disampaikan penyair Jerman Bertolt Brecht pernah mengingatkan, “buta yang terburuk adalah buta politik.” Karena manusia yang buta politik tidak tahu bahwa biaya hidup dan harga kebutuhan pokok ditentukan oleh keputusan politik.

Sementara ini terdapat 9 Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahapan pelaksanaan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati sementara berjalan sehingga Pelibatan masyarakat dalam proses politik saat ini merupakan sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan figur dan arah kepemimpinan negara atau daerah dalam periode tertentu. Politik sejatinya adalah ruang mempertarungkan gagasan tentang bagaimana Indonesia hari ini dan di masa depan.

Ada masalah besar jika ruang politik tidak disesaki oleh gagasan yang bertarung sehingga yang paling nyaring terdengar dari politik adalah kebohongan dan ujaran kebencian. Olehnya itu para pemegang kendali seperti Politisi harus membuat dirinya penuh gagasan sehingga tidak salah mengarahkan daerah ini melangkah maju menuju cita-citanya.

Jika Pemilu adalah pesta demokrasi yang menjadi penentu masa depan negeri ini, maka sudah sejatinya momentum setiap Pemilihan Umum dijadikan ajang untuk hanya tidak sekadar mengganti kekuasaan tetapi digunakan lebih kepada sebuah proses perubahan yakni dengan memberikan kesempatan kepada yang memiliki gagasan untuk membangun bangsa ini.

“Jangan sampai bangsa dan daerah  ini rusak hanya karena kepentingan pemilihan yang hanya lima tahun sekali. Salam Demokrasi…!!! (*)

*) Komisioner Bawaslu TTS  

Komentar

Berita lainnya POLITIK

Populer

To Top