Siswa Bisa Tularkan Covid-19 ke Keluarga di Rumah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Siswa Bisa Tularkan Covid-19 ke Keluarga di Rumah


CUCI TANGAN. Sejumlah siswa SMP Negeri 2, Bekasi, Jawa Barat, antre mencuci tangan sebelum memasuki jam makan siang, Selasa (4/8/2020). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

PENDIDIKAN

Siswa Bisa Tularkan Covid-19 ke Keluarga di Rumah


Bahaya Klaster Baru di Sekolah

SURABAYA, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah telah mengizinkan sekolah di zona hijau dan kuning untuk kembali buka. Di Jatim, sekolah di zona kuning dan oranye bakal menjalankan uji coba pembelajaran tatap muka mulai 18 Agustus. Tapi hati-hati. Jangan sampai sekolah menjadi klaster baru penularan Covid-19.

Di Tulungagung, Jawa Timur, Satgas Covid-19 setempat menemukan seorang anak yang positif terinfeksi virus korona. Bocah berusia 9 tahun itu diduga tertular dari ayahnya. Bocah tersebut termasuk anggota kelompok belajar secara luring. Petugas akhirnya melakukan tracing dan testing terhadap lima anak dan dua guru yang menjadi anggota kelompok belajar itu. Untungnya, hasilnya negatif. Meski demikian, Satgas Covid-19 mengimbau agar kegiatan luring dihentikan sementara.

Wakil Juru Bicara Satgas Covid-19 Tulungagung Galih Nusantoro mengatakan, kasus itu menjadi bahan evaluasi kegiatan luring di tempat lain. ’’Protokol kesehatan harus tetap dipatuhi, ini upaya untuk menekan angka penularan,” terang dia kepada Jawa Pos Radar Tulungagung.

Di Bondowoso, beberapa SMA dan SMK telah melakukan pembelajaran tatap muka. Menurut Kepala Cabdin Jatim Wilayah Bondowoso-Situbondo Sugiono Eksantoso, sekolah daring banyak ruginya. ”Sangat tidak efektif, banyak masalah di lapangan,” kata Sugiono saat ditemui Jawa Pos Radar Bondowoso di ruang kerjanya kemarin. Karena itu, pihaknya mengizinkan sekolah tatap muka. ”Kita sudah tatap muka dengan jumlah terbatas dan menjalankan protokol kesehatan ketat,” imbuhnya. Semua guru dan siswa yang ke sekolah harus dideteksi suhu tubuhnya, cuci tangan, memakai masker, serta menjaga jarak saat kegiatan belajar-mengajar.

Sementara itu, di Kabupaten Tegal, beberapa guru, siswa, serta tenaga Tata Usaha (TU) SDN Bogares Kidul 02, Kecamatan Pangkah, menjalani tes swab. Sebab, seorang siswa di sekolah tersebut terkonfirmasi Covid-19.

”Siswa kami yang berinisial ZNK positif Covid,” jelas Sri Hayati, guru SDN Bogares 02, kepada Radar Tegal Rabu (12/8). Dia menjelaskan, jumlah siswa yang sempat kontak erat dengan ZNK 16 anak. Sedangkan guru dan TU, ada beberapa orang. Beruntung, hasil swab mereka negatif.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Tegal dr Joko Wantoro mengatakan, ZNK yang masih berusia 8 tahun itu berasal dari Desa Bogares Kidul, Kecamatan Pangkah. Pasien itu merupakan cucu B, 66, yang sebelumnya terpapar Covid-19. Pasien B yang bekerja sebagai sopir bajaj di Jakarta tersebut sekarang masih menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr Soeselo Slawi.

Namun, lanjut Joko, sebelum dinyatakan positif Covid, ZNK sempat masuk sekolah selama tiga hari. Mulai Senin (20/7) hingga Rabu (22/7). Alhasil, kontak erat ZNK harus menjalani rapid dan swab test. Jumlah kontak erat ditemukan 29 orang. Mereka adalah teman sekolah, guru, dan teman mengaji di TPQ. ”Mereka sudah di-swab. Hasilnya negatif,” jelasnya.

Sejumlah pihak memang menentang kebijakan pemerintah yang mengizinkan sekolah buka lagi. Sebab, pembelajaran tatap muka dianggap berpotensi menjadikan sekolah sebagai klaster baru penularan Covid-19.

Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud Evy Mulyani mengatakan, jika ada satuan pendidikan atau sekolah terindikasi tidak aman, pemerintah daerah (pemda) wajib menutup kembali satuan pendidikan itu.

Termasuk apabila ada daerah yang tingkat risiko penularan Covid-19-nya berubah menjadi berbahaya, lembaga pendidikan harus ditutup. Misalnya dari semula zona hijau menjadi oranye atau merah. Atau dari yang semula kuning menjadi oranye atau merah. ”Implementasi dan evaluasi pembelajaran tatap muka adalah tanggung jawab pemerintah daerah,” katanya kemarin.

Evy menuturkan, dalam menjalankan evaluasi itu, pemda didukung pemerintah pusat. Dia berharap dinas pendidikan dan dinas kesehatan di daerah bersama kepala satuan pendidikan berkoordinasi terus dengan satgas Covid-19 setempat.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, akan banyak bermunculan klaster Covid-19 di sekolah karena Kemendikbud melonggarkan pembelajaran tatap muka. ”Semua dokter sudah bilang jangan. Kok ngeyel,” cetusnya.

Dia menegaskan, sejak terjadi pandemi pada Maret lalu, sampai sekarang tidak ada perbaikan pelaksanaan PJJ yang signifikan. Tidak ada panduan serta pendampingan secara lebih teknis dari Kemendikbud.
Dalam situasi seperti saat ini, guru perlu mendapatkan pelatihan yang terorganisasi secara rapi. Dia menegaskan, mengelola SDM berbeda dengan mengelola aplikasi. ”Mengelola aplikasi tinggal memasukkan algoritma sudah beres. Mengelola SDM tidak bisa seperti itu,” cetusnya.

Lima Syarat

Dokter spesialis anak Soedjatmiko menuturkan, seharusnya sekolah ditutup setelah ada klaster baru di lingkungan itu. ”Murid pulang menularkan ke orang tua, nenek, atau kakek,” kata konsultan tumbuh kembang tersebut kemarin. Pemerintah harus tegas menyikapi hal itu. Jika tidak, penularan tidak akan berhenti. ”Kalau masih ingin juga membuka sekolah tatap muka, ada lima syarat yang harus dipenuhi,” ungkapnya.

Pertama, harus dipastikan kasus baru Covid-19 dan pasien dalam pengawasan di wilayah tersebut terus-menerus menurun. Tak hanya satu atau dua hari saja. Penurunan harus terjadi setidaknya selama dua minggu. Akan lebih baik lagi kalau tidak ada kasus baru. ”Kalau masih fluktuatif, maka tunda dulu,” imbuh dia.

Selanjutnya, organisasi wali murid harus mengecek kesiapan guru dan sarana di sekolah sebelum dibuka. Di sekolah harus ada penyemprotan disinfektan ke meja, kursi, pintu, hingga dinding. Selain itu, sekolah harus memiliki banyak wastafel dengan air mengalir dan sabun. Sekolah juga harus mampu mengatur jumlah, jarak, dan posisi anak. ”Guru dan murid yang demam, batuk, pilek, diare berobat dulu, istirahat tiga sampai lima hari,” ujarnya.

Persiapan juga harus dilakukan orang tua dan anak. Orang tua harus menyiapkan masker yang seukuran dengan wajah anak. Yang tak kalah penting adalah membiasakan anak untuk memakai masker. ”Orang tua harus melatih anaknya segera cuci tangan dan jangan berdekatan dengan orang lain,” tuturnya. Pastikan juga anak siap untuk memakai masker dan mencuci tangan. ”Tidak boleh saling pinjam barang.”

Kalau semua ketentuan itu terpenuhi, seluruh sekolah tidak serta-merta bisa dibuka. Soedjatmiko meminta sekolah dibuka secara bertahap. Dimulai dari jenjang SMA/SMK dan diamati selama dua minggu. Jika jenjang tersebut patuh protokol kesehatan, lanjut SMP dan tingkat di bawahnya. Hingga terakhir baru PAUD dan TK. (aro/nda/and/yer/wan/lyn/tau/c9/c10/oni/jpg)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

Populer

To Top