Pemkab Matim Coret 197 Penerima Bantuan Mahasiswa, Sekda Beber Alasannya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemkab Matim Coret 197 Penerima Bantuan Mahasiswa, Sekda Beber Alasannya


Sekda Matim, Boni Hasudungan. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pemkab Matim Coret 197 Penerima Bantuan Mahasiswa, Sekda Beber Alasannya


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur mencoret sebanyak 197 penerima bantuan mahasiswa lantaran setelah melalui proses verifikasi, nama-nama penerima ini tak memenuhi syarat sebagai ketentuan yang dikeluarkan pemerintah setempat.

Sebagaimana diketahui, sesuai syarat, mereka yang berhak menerima bantuan mahasiswa terdampak pandemi Covid-19, haruslah merupakan warga Matim, dan masih aktif kuliah di perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia. Selain itu calon mahasiswa penerima bantuan itu orang tuanya bukan ASN, anggota DPRD, anggota TNI/Polri, dan pegawai BUMN.

“Dari data mahasiwa yang sudah masuk dan dilakukan verifikasi, ada  197 orang yang tidak dapat diproses lebih lanjut. Alasanya, karena mereka itu sudah tamat alias bukan berstatus sebagai mahasiswa lagi,” jelas Sekretaris Daerah (Sekda) Matim, Boni Hasudungan, kepada TIMEXKUPANG.com di ruang kerjanya, Jumat (14/8).

Boni menjelaskan, data awal usulan mahasiswa ini semua dari desa dan kelurahan. Sejak awal Juni hingga awal Agustus 2020, usulan yang masuk sebanyak 8.464 mahasiswa. Setiap data mahasiswa yang masuk,  langsung dilakukan verifikasi.

Menurut Boni, berdasarkan data yang masuk, Pemerintah langsung melakukan klarifikasi dengan memeriksa data kependudukan calon penerima dengan data dari Dinas Dukcapil Matim. Tujuannya untuk memastikan mahasiswa tersebut benar-benar warga Matim. Kedua, verifikasi data Kemahasiswaan melalui aplikasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan maksud mengecek kembali data atau status kemahasiswaan calon penerima di perguruan tinggi.

BACA JUGA: Bantu Mahasiswa Terdampak Covid-19, Pemkab Matim Siap Dana Rp 8 Miliar

“Aplikasi itu bisa memastikan mahasiswa tersebut masih aktif atau tidak. Ketiga, melakukan verifikasi nomor rekening di bank pada masing-masing bank yang ada. Tujuannya untuk memastikan kebenaran nomor rekening dan nama pemilik nomor rekening yang diberikan,” kata Boni.

Boni menyebutkan, dari data mahasiswa yang masuk tersebut, setelah diverifikasi ada sebanyak 3.039 data mahasiswa yang salah dan harus diperbaiki. Kesalahan diantarnya itu terkait dengan data kependudukan, data kemahasiswaan, dan nomor rekening. Termasuk 197 yang sudah tidak berstatus mahasiswa lagi.

“Bantuan untuk hahasiswa ini sebesar Rp 1 juta per mahasiswa. Disalurkan langsung dari rekening kas daerah ke rekening masing-masing mahasiswa. Sumber anggaran ini dari APBD Matim, pada pos belanja tak terduga,” jelas Sekda Boni.

Boni menyebutkan, penerima yang datanya sudah benar berdasarkan hasil verifikasi sebanyak 5.228 mahasiswa, dan dana bantuan sudah ditransfer ke rekening para mahasiswa. “Ini berdasarkan data tertanggal 14 Agustus 2020,” ungkap Boni.

Sedangkan bagi mahasiswa yang belum menerima karena adanya kesalahan data, Boni mengaku, Pemkab Matim masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki data yang ada. Saat ini, lanjut Boni, sedang dibuat aplikasi khusus yang nantinya bisa diakses langsung oleh kepala desa atau lurah dan mahasiswa.

“Aplikasi ini dibuat supaya kades atau lurah bisa mengetahui mahasiswa yang sudah dan belum mendapat bantuan. Juga setiap mahasiswa bisa mengecek langsung, sekaligus bisa langsung memperbaiki data yang salah. Targetnya, pertengahan Agustus ini, aplikasi tersebut sudah selesai dan bisa diakses,” katanya. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top