FAN Kembali Adakan Pelatihan Laboran Tim Pool Test Labkesmas Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

FAN Kembali Adakan Pelatihan Laboran Tim Pool Test Labkesmas Covid-19


PELATIHAN TAHAP II. Para laboran untuk Labkesmas sedang mengikuti pelatihan tahap II sebagai persiapan untuk pelaksanaan tes massal Covid-19 di NTT. (FOTO: FAN for TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

FAN Kembali Adakan Pelatihan Laboran Tim Pool Test Labkesmas Covid-19


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Tekad para akademia yang tergabung dalam Forum Academia NTT (FAN) untuk menghadirkan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) bagi upaya test massal (Pool Test) Covid-19 bakal segera terwujud. Untuk tujuan tersebut, selama empat hari ke depan, sejak Selasa (18/8) pagi hingga Jumat (21/8) nanti, kembali diadakan pelatihan bagi para laboran untuk Labkesmas yang akan bekerja di Klinik Pratama hasil kerjasama Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Pelatihan ini merupakan bagian dari penyiapan tim laboran untuk melakukan tes massal (Pool Test).

Doktor Biomolekuler tamatan Amerika Serikat di FAN, Dr. Fima Inabuy mengatakan, keberadaan tim pool test dan Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat hadir sebagai bagian dari mekanisme pencegahan penyebaran Covid-19. Upaya surveillance ini menjadi penting sebab hingga 17 Agustus 2020, jumlah angka positif di NTT baru mencapai angka 165 orang.

“Jumlah ini tergolong minim di Indonesia, tetapi kita tidak boleh lengah karena dalam data juga tertera ada 2000-an suspek Covid-19. Dan dengan keberadaan laboratorium ini, kita bisa melakukan tes swab dengan menggunakan qPCR. Harapannya ini semakin meminimalisir transmisi lokal di daerah yang berisiko tinggi,” kata Dr. Fima dalam keterangan tertulis FAN yang diterima TIMEXKUPANG.com, Selasa (18/8).

Doktor Fima mengatakan, berdasarkan data Pemerintah menunjukan bahwa jumlah sampel Covid-19 yang diperiksa PCR dari seluruh kabupaten/kota di NTT hingga 17 Agustus 2018 baru diangka 3000-an atau total rerata sekitar 0,6 per 1.000 penduduk di NTT. Padahal standar WHO diharapkan jumlah pemeriksaan 1 per 1.000 penduduk per minggu.

Dengan jumlah penduduk NTT sebanyak 5,5 juta jiwa, kata Dr. Fima, idealnya jumlah pemeriksaan sampel Covid-19 adalah 5.500 sampel per minggu atau minimal 1.000 sampel per hari. Kondisi saat ini, rerata pemeriksaan jumlah sampel di NTT hanya berkisar angka 100 per hari atau hanya 10 persen dari target.

Untuk itu, katanya, diperlukan upaya tambahan meningkatkan jumlah sampel Covid-19 yang diperiksa di NTT. “Misalnya melalui test massal. Namun, hingga kini tes massal belum menjadi metode populer di Indonesia sebagai bagian dari upaya pencegahan,” katanya.

Fima menyebutkan, Provinsi Sumatera Barat adalah salah satu daerah yang mampu mengambil keputusan berbeda dari provinsi lainnya di Indonesia. Mereka melakukan kontrol dengan menggunakan tes massal. Jika test massal ini dilakukan di NTT, maka kedua provinsi dapat menjadi rujukan untuk provinsi lainnya di Indonesia dalam melakukan langkah pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Pelatihan ini merupakan pelatihan kedua untuk memastikan kesiapan praktik laboratorium, diantaranya prosedur kerja dan keselamatan di dalam laboratorium, dan penguatan alur kerja antar unit,” jelasnya.

Fima menyebutkan, pelatihan pertama bagi para laboran dilakukan pada minggu kedua Juni 2020 lalu. Hari ini (18/8) hingga Jumat (21/8), pelatihan kembali berlangsung di tempat yang sama, yakni di Laboratorium Biotenologi Politani Kupang, dan didukung dengan dana publik yang dihimpun oleh FAN guna penguatan penelitian biomolekuler.

“Untuk hari pertama, pelatihan berlangsung dalam dua kelompok. Pertama untuk para laboran, dan yang kedua untuk tim inti laboratorium. Ya…dua-duanya sekali jalan untuk memastikan kesiapan antar unit,” terang Dr. Fima.

Dalam pelatihan ini, Dr. Fima Inabuy didampingi koleganya, Dr. Alfredo Kono yang juga pakar biomolekuler yang baru kembali dari AS dan telah selesai melakukan karantina mandiri. “Ya, ini memang saatnya pulang juga. Jadi saya kembali dulu untuk membantu,” kata Dr. Edo.

BACA JUGA: NTT Bisa Bikin Tes Swab Per Kepala Rp 30 Ribu, dan 900 Swab Per Hari

BACA JUGA: Gubernur Ingin Laboratorium di 3 Pulau Besar, Wali Kota: Kupang Harus Punya Lab qPCR Sendiri

Di bawah koordinasi dua pakar biomolekuler ini, para laboran dan tim inti biomolekuler memasuki fase baru. Mereka mempunyai kelompok kerja untuk pertama kalinya. Sebanyak 40 orang anggota tim yang mengikuti pelatihan ini merupakan nafas baru untuk penelitian biomolekuler di NTT di masa depan.

“Ya, kami berharap bahwa teman-teman yang saat ini sudah menempuh studi master, dalam interaksi selama 6 bulan ke depan sudah mampu menghasilkan proposal riset doktoral mereka yang lebih terarah. Intinya mereka sudah mampu menentukan hendak kemana,” kata Dr. Alfredo Kono.

Sedangkan Dr. Fima Inabuy melihat bahwa para fresh graduate yang terlibat dalam tim laboran untuk menangani pandemi Covid-19 ini mendapatkan pengalaman berharga.

“Dengan terlibat dalam Tim Pool Test di Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Undana, mereka dipersiapkan untuk persiapan studi di jenjang selanjutnya. Ini kesempatan mereka juga untuk menentukan fokus,” tambah Dr. Fima.

Persiapan untuk pelatihan ini memakan waktu tiga minggu. Dalam pelatihan ini simulasi kerja di laboratorium akan dilakukan untuk memastikan agar semua anggota tim mempunyai mental yang sama untuk bekerja dalam laboratorium berisiko tinggi.

“Saya ingin memastikan bahwa semua anggota mengerti tentang prinsip dasar bekerja dengan virus, dan dapat melakukan dengan standar riset yang benar,” kata Dr. Fima.

Masih menurut Dr. Fima, selama pembangunan laboratorium biomolekuler ini, detail pembangunan laboratorium disupervisi langsung oleh tim BPTKL Surabaya. “Kami berkomunikasi secara intens di bawah supervisi BPTKL Surabaya, setelah kunjungan pertama mereka membantu untuk menyiapkan agar laboratorium ini mempunyai standar yang memadai,” kata Fima menjelaskan proses penjaminan mutu sebagai prasyarat sertifikasi laboratorium.

Salah satu anggota tim pool test FAN, Elcid Li mengatakan, jika seluruh alat yang dipesan sudah tiba, maka proses tes massal di NTT sudah bisa dilakukan pada minggu ketiga September 2020.

“Alat memang tiba bertahap sesuai dengan mekanisme anggaran yang ada. Kita berharap bisa lebih cepat, tetapi inilah prosedur birokrasi yang tidak terlalu peka pada situasi darurat, dan jika ingin dibenahi tentu harus dimulai dari pusat sebab daerah hanya sebagai pelaksana prosedur,” kata Elcid.

Elcid berharap, model penangan Covid-19 yang inovatif dari NTT dapat dilakukan secara leluasa dengan adanya infrastruktur pendukung untuk para peneliti biomolekuler dalam upaya memperkecil dampak pandemi Covid-19 di NTT.

Menurutnya penguasaan teknologi biomolekluer merupakan salah satu kunci utama di era biosecurity. Ini untuk menjamin keamanan warga, baik dalam aspek kesehatan maupun untuk menjamin aspek penghidupannya dalam memasuki era non-traditional warfare. (*/aln)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top