Pemuda Desa Tublopo Tewas Gantung Diri, Sang Ayah Ungkap Perilaku Anak Beberapa Hari Terakhir | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemuda Desa Tublopo Tewas Gantung Diri, Sang Ayah Ungkap Perilaku Anak Beberapa Hari Terakhir


GANTUNG DIRI. Unit Inafis Polres TTS bersama pihak TNI saat hendak mengevakuasi jasad Petra Yohanis Nesimnasi yang tewas gantung diri di dalam rumahnya, Jumat (21/8). (FOTO: YOPI TAPENU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Pemuda Desa Tublopo Tewas Gantung Diri, Sang Ayah Ungkap Perilaku Anak Beberapa Hari Terakhir


SOE, TIMEXKUPANG.com-Warga RT 05/RW 02, Desa Tublopo, Kecamatan Amanuban Barat dan sekitarnya, digegerkan dengan kasus gantung diri dengan korban Petra Yohanis Nesimnasi. Kejadian menggemparkan Jumat (21/8) pagi itu diduga terkait persoalan asmara sehingga korban memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya.

Yesepus Nesimnasi, ayah kandung Petra, adalah orang pertama yang menemukan anaknya tak bernyawa dalam posisi tergantung di dalam rumah mereka.

Menurut Yesepus, ia bangun tidur sekira pukul 06.00 Wita dan langsung keluar dari kamar untuk mematikan lampu. Saat keluar dari kamar itu, ia kaget melihat anak laki-lakinya itu tergantung pada seutas tali dan sudah tak bernyawa di ruang tamu dari rumah yang selama ini mereka berdua tinggali.

Melihat kejadian itu, Yesepus langsung memberitahukan hal tersebut kepada saudara korban, Melianus Nesimnasi dan Imanuel Puay. Mendapat informasi itu, kedua saksi langsung memberitahukan kepada tetangga dan keluarga sekitar serta pihak keamanan. “Saya keluar dari kamar mau kasi mati lampu, saya lihat dia (Korban, Red) gantung diri di ruang tamu,” ungkap Yesepus saat ditemui di lokasi kejadian.

Yesepus menuturkan, beberapa hari terakhir, ia melihat korban sering berkomunikasi melalui telefon genggam dan ia menduga, jika orang yang sering korban komunikasi melalui telefon itu adalah pacarnya.
Korban, kata Yesepus terlihat stres beberapa hari terakhir, setelah berkomunikasi dengan orang melalui sambungan telefon. Karena usai berkomunikasi, korban nampak marah dan hendak membanting HP dan juga terkadang hendak membanting diri. Meski demikian, ia tidak mengetahui persis apa yang dialami korban sesungguhnya. “Saya lihat kalau abis telefon dia (Petra, Red) mau banting HP, dan kadang mau bating diri,” kata sang ayah yang tampak sedih kehilangan putranya.

Kamis (20/8) sekira pukul 07:00 wita, lanjut Yesepus, korban bersama beberapa temannya, yakni Semi Taneo, Yusuf Boimau, Ismail Isu, dan Yabes ke rumah Bill Nope di Niki-niki untuk memperbaiki atap rumah kuburan yang rusak.

Korban dan teman-temanya itu baru kembali ke rumah sekitar pukul 22:00 Wita. Saat itu, kata Yesepus, terdengar Petra membuka pintu rumah dan masuk. Sang ayah yakin sang anak akan beristirahat. Ternyata kejadian duka yang ditemukan sang ayah ketika bangun pagi, dimana sang anak sudah dalam kondisi tak bernyawa dalam posisi tergantung.

“Mereka datang saya sudah tidur, namun saya dengar, dia (Petra, Red) buka pintu dan masuk tidur,” jelas Yesepus.

Kasat Reskrim Polres TTS, Iptu Hendricka R. A. Bahtera mengatakan ketika mendapati laporan itu, anggota langsung bergerak ke lokasi kejadian dan mengevakuasi jasad korban serta melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil olah TKP, pihak kepolisian tidak menemukan tanda-tanda kekerasan selain luka jeratan tali di leher korban.

Atas fakta itu, kata Iptu Hendricka, kuat dugaan korban meninggal akibat murni gantung diri. Meski demikian, untuk mengetahui kepastian penyebab kematian korban, perlu dilakukan otopsi. Hanya pihak keluarga menolak pihak kepolisian melakukan otopsi.

“Di bawah dari jasad korban, terletak satu buah HP merk Opo dan juga sepasang sandal milik korban. Jasad korban diserahkan kembali pada keluarga untuk dikebumikan,” pungkas Hendricka. (yop)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top