98 Tahun Misterius, Makam Raja Timor Sobe Sonbai III Ditemukan di Sonaf Nai Me | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

98 Tahun Misterius, Makam Raja Timor Sobe Sonbai III Ditemukan di Sonaf Nai Me


TABUR BUNGA. Ketua DPRD NTT, Emelia Nomleni, Asisten I Setda NTT, Yohana Lisapaly, Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran, Wawali Kupang, Herman Man, Staf Ahli Gubernur, Samuel Pakereng, sesepuh lembaga adat Sunda, tetua adat Timor dan undangan hadir dalam prosesi tubur bunga di makam Sobe Sonbai III di Sonaf Nai Me, Kelurahan Oetete, Kota Kupang, Sabtu (22/8).

KABAR FLOBAMORATA

98 Tahun Misterius, Makam Raja Timor Sobe Sonbai III Ditemukan di Sonaf Nai Me


Keluarga Gelar Ritual Adat, Hadirkan Para Tokoh dan Tua Adat

SABTU (22/8) pagi tadi, keluarga besar Sonbai, Saubaki, dan pihak terkait, melakukan ritual adat di lokasi yang diklaim sebagai makam Raja Sobe Sonbai III. Lokasi makam itu di sebuah lahan kosong, tepatnya di belakang rumah jabatan Wakil Gubernur NTT dan belakang RS Tentara Wirasakti Kupang.

Stenly Boymau, Kupang

Persiapan menyongsong dilaksanakannya ritus adat itu sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Hampir setiap hari, maayarakat adat dari marga Sonbai dan rumpun keluarga terkait berkumpul di sana.

Mereka membersihkan lahan, membangun sebuah lopo berukuran besar, menimbun serta meratakan tanah, tak terkecuali membakar rempah, adalah aktivitas mereka.

Bahu membahu. Saling menolong. Itulah cara kerja mereka. Dikoordinir sejumlah tetua, mereka sangat aktif. Hingga lokasi itupun kini bersih. Ada sebuah tenda berukuran sedang. Ukurannya sekira 4 x 5 meter. Dikelilingi tirai berwarna merah putih. Itulah lokasi makam Sobe Sonbai III.

Batu karang berukuran sedang, disusun rapi di atas sebuah tumpukan tanah hitam. Di kepala tumpukan tanah ada tiga pilar permanen ditanam. Di bagian atasnya ada lilin yang sementara menyala. Sedangkan di kakinya, ada segenggam kemenyan yang berasap. Itulah makam Sobe Sonbai III.

Asal tahu saja, Sobe Sonbai III bukan sembarang orang. Dia adalah seorang raja (kaiser) dari Pulau Timor yang berjuang menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga ditangkap tahun 1905.

Rabu, 19 Agustus lalu, DR. Sulastri Benufinit, seorang doktor antropologi yang didaulat menjadi juru bicara keluarga Sonbai, kepada saya di lokasi, mempertegas bahwa itulah makam sang raja.
Adhitya Alamsyah, yang merupakan sesepuh lembaga adat masyarakat Sunda, ikut hadir di lokasi. Ia diundang hadir untuk sebuah ritual adat yang sejatinya digelar 22 Agustus 2020 hari ini.

Mereka menuturkan bahwa makam Raja Sobe Sonbai III itu baru ditemukan setelah 98 tahun misterius. Kolonial Belanda yang berkedudukan di Kupang, menghabisinya dengan cara ditembak mati. Sobe Sonbai ditembak bersama empat pengawalnya.

Dikisahkan, usif ini ditawan di kantor pemerintahan Belanda di Fontein. Suatu pagi, 22 Agustus 1922 belenggu di kakinya dilepas, lalu ditembak mati. Mayatnya diseret dan dikuburkan di dekat Sonaf Nai Me yang berlokasi di Kelurahan Oetete, yang kini lokasinya di belakang rujab Wagub itu.

Agar tak ada yang mengetahui lokasi makamnya, maka empat pengawal raja yang bersamanya ikut ditembak. Mayat mereka dikubur persis dekat makam sang raja. Sejarahnya ditutup hingga beberapa saat lalu, ditemukan.

Dari pengamatan saya yang hadir saat itu, di sisi lain makam, ada juga beberapa titik yang disinyalir merupakan makam empat pengawalnya.

PERSIAPAN RITUAL. Para tetua adat keluarga Sonbai dan Saubaki, bersama Adhitya Alamsyah (Abah Alam), KNPI NTT dan Timex saat berada di lokasi makam Sobe Sonbai III, Rabu (19/8). (FOTO: ISTIMEWA)

***

DR Sulastri Benufinit, kepada mengaku bahwa memang Semula, dikira makamnya di Fatufeto. Ternyata tidak. Dalam beberapa kejadian mistis, akhirnya makam sang raja ditemukan. Seperti melalui mimpi, lalu tanda alam lainnya.

Data yang dikutip dari berbagai sumber menyebutkan, kisah ini bermula saat usif Sobe Sonbai III di awal abad ke-20 menolak sebuah pakta yang ditawarkan Belanda. Akibat penolakan sang usif, terjadilah penyerangan ke Bipolo yang kemudian terkenal dengan Perang Bipolo.

Ketika itu, kemenangan diraih Sobe Sonbai III. Hal ini memancing Belanda untuk menghimpun kekuatan besar lalu melakukan serangan balasan terhadap Sobe Sonbai III.

Dengan perlengkapan perang yang memadai, pasukan Belanda dapat menembus tiga benteng pertahanan dan menyerbu kediaman Sobe Sonbai III.

Sang raja akhirnya takluk dan ditangkap. Peristiwa tersebut terjadi tahun 1905. Tertangkapnya Sobe Sonbai III tidak berarti perlawanan berhenti sama sekali. Masih ada perjuangan yang dilakukan pengikut Sobe Sonbai III. Baru pada tahun 1908 seluruh wilayah Sobe Sonbai III jatuh ke tangan kolonial Belanda.

Menurut Belanda, Sobe Sonbai III menyerah dengan sukarela. Namun ada versi lain yang mengatakan bahwa Sobe Sonbai III dikhianati. Ia diundang untuk negosiasi namun akhirnya di tangkap. Tapi versi lain yang lebih dipercaya bahwa Sobe Sonbai III tertangkap di Kauniki tahun 1905, setelah benteng pertahanan terakhirnya yaitu Benteng Fatusiki di Desa Oelnaineno, berhasil direbut Belanda.

Tiga benteng Sobe Sonbai III itu antara lain benteng Kot Neno di Pasir Panjang (Kini Subasuka Resto), Sonaf Keta di Bakunase, dan Sonaf Nai Me di Fontein.

Pater DR. Gregorius Nenobasu, SVD yang juga antropolog yang ikut hadir dalam sejumlah ritus adat pasca penemuan makam, mempertegas bahwa itulah makam Sobe Sonbai III yang misterius hampir satu abad itu.

Sesepuh lembaga adat Sunda, Adhitya Alamsyah, menyerahkan benda pusaka Kujang dari Kerjaaan Sunda Besar sebagai pengakuan terhadap kepahlawanan Sobe Sonbai III di Sunda Kecil saat ritual adat, Sabtu (22/8). (FOTO: STENLY BOYMAU/TIMEX)

Sabtu (22/8) hari ini, keluarga menurutnya sudah mantap melakukan ritus adat. Malah, kehadiran Adhitya Alamsyah yang adalah utusan dari Sunda Besar, membuktikan pengakuan terhadap ketokohan seorang pahlawan perang asal Timor, bernama Sobe Sonbai III.

DR. Sulastri Benufinit, yang juga juru bicara keluarga, kemarin (21/8) menegaskan bahwa ritual adat yang dilangsungkan hari ini diikuti sejumlah undangan. Seperti dari unsur pemerintah juga para usif serta amaf dan tetua adat lainnya.

“Kami akan mengawalinya dengan kirab budaya setelah itu kami lakukan ritual adat serta tabur bunga. Kami pun akan melakukan ziarah ke lokasi artefak. Kami pun akan mengisahkan muasal penemuan makam,” terangnya.

Diakuinya bahwa setelah tabur bunga, pihaknya akan melakukan kajian ilmiah untuk riset yang lebih mendalam, baik itu tentang perjuangan Sobe Sonbai III maupun penemuan makam.

“Saya, Pater Gregor dan rekan-rekan akan melakukan riset sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Kami akan buktikan dari sisi ilmiah. Sekarang adalah prosesi adat untuk mempertegas bahwa itu adalah lokasi makam,” pungkasnya. (*)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top