Miris, Persetubuhan dan Pelecehan Seksual Anak di Bawah Umur Meningkat di Sikka | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Miris, Persetubuhan dan Pelecehan Seksual Anak di Bawah Umur Meningkat di Sikka


MELAPOR. Korban CMK saat melapor ke SPKT Polres Sikka, Minggu (23/8). (FOTO: Istimewa)

PERISTIWA/CRIME

Miris, Persetubuhan dan Pelecehan Seksual Anak di Bawah Umur Meningkat di Sikka


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Kasus persetubuhan dan pelecehan anak di Kabupaten Sikka akhir-akhir ini terus meningkat. Mirisnya para korban rata-rata masih berstatus pelajar, dan mereka baru melaporkan peristiwa yang dialami ke aparat kepolisian setelah mengandung janin hasil pertemuan terlarang.

Dalam pekan ini misalnya, Polres Sikka menerima setidaknya tiga laporan dugaan persetubuhan/pelecahan anak di bawah umur.

Kapolres Sikka, AKBP Sajimin membeberkan, pada Sabtu (22/8) sekitar pukul 12.00 Wita, pihaknya menerima laporan seorang korban berinisial HSA, 17, warga Desa Heo Puat, Kecamatan Hewokloang. HSA melaporkan seorang pelaku atas nama Yohanes A. Bewat, 18, warga Dusun Watulagar, Desa Watu Merak, Kecamatan Doreng lantaran tak mau bertanggungjawab setelah menghamili korban.

Atas laporan itu, kata Sajimin, polisi membuat laporan dengan nomor: LP/193/VIII/2020/NTT/Res.Sikka, tertanggal 22 Agustus 2020. Dalam keterangannya, demikian Sajimin, HSA melaporkan peristiwa persetubuhan yang ia alami itu terjadi sejak 30 November 2019, di sebuah kos-kosan yang beralamat di Desa Kopong, Kecamatan Kewapante.

“Peristiwa persetubuhan terhadap anak di bawah umur ini terjadi di sebuah kos-kosan sejak 30 November 2019 lalu dan baru dilaporkan Sabtu (22/8),” ungkap Sajimin kepada awak media di Maumere, Sabtu (22/8).

Sajimin menjelaskan bahwa, HSA baru melapor lantaran korban terbujuk rayuan pelaku Yohanes yang berjanji akan menikahi korban. Karena janji manis akan dinikahi, Yohanes kembali meniduri HSA pada 4 Desember 2019, dan 23 Januari 2020.

Akibat perbuatan terlarang karena keduanya belum diikat tali perkawinan yang sah, HSA akhirnya positif hamil dan melahirkan bayinya pada 19 Juli 2020. Mirisnya, Yohanes bukannya memenuhi janjinya menikahi korban, justru mengingkari dan menolak untuk bertanggungjawab.

Merasa kecewa dan sakit hati dengan perbuatan Yohanes, kata Sajimin, HSA kemudian mendatangi kantor Polsek Kewapante dan melaporkan pelaku secara resmi.

Sebelumnya lanjut Sajimin, persetubuhan terhadap anak di bawah umur juga dialami seorang pelajar berinisial MAD, 14, warga Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat. Kejadian yang dialami MAD ini terjadi pada Rabu (19/8) lalu. Pelakunya diduga adalah Florence D. F. Yeski, 18, yang ternyata masih berstatus pelajar, warga Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae.

BACA JUGA: Berawal dari Minum Kopi, Lahuse Cabuli Anak di Bawah Umur

Peristiwa ini dilaporkan Fransiskus NL, 54, warga Napunglangir ke SPKT Polres Sikka, Rabu (19/8) sekitar pukul 10.00 Wita.

Dalam laporannya Fransiskus menjelaskan bahwa kejadian itu terjadi di rumah seorang warga yang beralamat di Hallat, Desa Nelle Barat, Kecamatan Nelle. Awalnya Yeski menjemput dan mengajak MAD ke rumah seorang warga di Hallat itu. Di sana, Yeski melancarkan rayuan mautnya, dan singkat cerita terjadilah perbuatan terlarang yang merenggut kehormatan korban.

Laporan Fransiskus ke SPKT Polres Sikka itu dibuat dalam laporan polisi bernomor: LP/189/VIII/2020/NTT/Res. Sikka, tanggal 19 Agustus 2020.

Cabuli Anak di Bawah Umur

Nasib malang dialami seorang pelajar Kelas 1 sebuah SMK di Kota Maumere berinisial CMK. Warga Desa Paubekor, Kecamatan Koting ini diduga dicabuli seorang tukang ojek bernama Mario alias Cimu, 18, warga Lorong Binter, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok.

Peristiwa memilukan ini dialami CMK lebih kurang empat bulan. Kejadian ini lalu dilaporkan Margaretha NE, 47, warga Desa Paubekor ke SPKT Polres Sikka, Minggu (23/8) sekitar pukul 18.30 Wita.

Dalam keterangan kepada pihak penyidik sebagaimana dijelaskan Kapolres Sajimin, Margaretha membeberkan, bahwa perilaku cabul yang dilakukan Mario berlangsung selama Maret – Juni 2020.

Margaretha, kata Sajimin, menyebutkan bahwa, antara korban dan pelaku cabul diduga punya hubungan pacaran yang terlampau jauh sampai kepada hal yang sebenarnya belum boleh dilakukan terhadap anak di bawah umur ini.

Akibat frekuensi pertemuan dan perbuatan terlarang yang berulang-ulang inilah, suatu waktu, korban CMK merasa tak lagi datang bulan. Korban lalu meminta pertanggungjawaban Mario. Bukannya bertanggungjawab atas perbuatannya, Mario justru menghindar dan menolak permintaan korban. Karena penolakan itu, korban melalui Margaretha melaporkan kejadian itu ke Polres Sikka dan dituangkan dalam laporan polisi nomor: LP/194/VIII/2020/NTT/Res. Sikka tertanggal 23 Agustus 2020.

“Karena tidak ada tanggun jawab pelaku, maka korban memutuskan melapor ke pihak kepolisian,” kata Sajimin yang menambahkan, atas laporan itu, pihaknya langsung melakukan visum terhadap korban di RSUD dr. TC. Hillers Maumere. (Kr5)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top