Proyek Irigasi Belum Tuntas, PT Floresco Harus Tanggung Jawab | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Proyek Irigasi Belum Tuntas, PT Floresco Harus Tanggung Jawab


RUSAK. Salah satu titik ruas jalan hotmix di Desa Golo Kantar yang ditutup dengan material tanah setelah dirusaki untuk kepentingan saluran irigasi. Gambar diabadikan Minggu (23/8). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Proyek Irigasi Belum Tuntas, PT Floresco Harus Tanggung Jawab


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Selama tahun 2018 dan 2019, PT. Floresco mengerjakan proyek nasional pembangunan bendungan dan irigasi Wae Laku di Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Sayangnya, masih banyak item pekerjaan dari proyek tersebut yang belum tuntas sehingga masyarakat setempat meminta pihak kontraktor untuk bertanggung jawab.

Berdasarkan hasil pantauan disejumlah titik dari proyek itu, tepatnya di Kampung Jawang, Desa Golo Kantar, ada sekira belasan meter saluran irigasi belum dikerjakan. Bahkan dibiarkan tanpa coran semen. Ada juga bangunan peredam yang tidak lengkap dengan pagar pengaman. Bahkan ada jalan hotmix yang diduga sengaja dirusak, dan tidak diperbaiki.

“Sebagai masyarakat, kami minta PT Floresco harus bertanggungjawab. Ada sejumlah pekerjaan belum tuntas. Termasuk yang lebih parah, jalan hotmix yang sudah dirusaki tapi tidak dibangun kembali,” kata warga Golo Kantar Siprianus dan Herman Noet, kepada TIMEXKUPANG.com, Minggu (23/8).

Menurut mereka, tahun 2016 lalu Pemkab Matim membangun jalan hotmix pada ruas jalan Jati-Jengok. Namun tahun 2018, pada titik tertentu, tepatnya di Kampung Kampas, Desa Golo Kantar, PT Floresco membongkar bangunan jalan hotmix itu untuk kepentingan proyek nasional saluran irigasi. Kondisinya sekarang sangat mengganggu.

“Setelah proyek nasional ini selesai dikerjakan Desember 2018 lalu, jalan hotmixnya tidak diperbaiki atau dibangun kembali. PT Floresco hanya tutup dengan tanah. Akibatnya para pengguna jalan terganggu dengan jalan rusak ini,” kata Siprianus diamini Herman.

Tokoh masyarakat Kota Borong, Edy Acis, kepada TIMEXKUPANG.com juga meminta PT Floresco harus bertanggungjawab atau kelalaiannya meninggalkan pekerjaan yang tak tuntas. Aset jalan kabupaten yang sudah dirusaki itu harus dibangun kembali. Jalan hotmix itu dulunya dibangun menggunakan anggaran negara, dan untuk kepentingan publik.

“Jalan itu kan aset publik atau negara. Kalau dikasih rusak untuk kepentingan saluran irigasi, tentu kontraktor pelaksana irigasi dalam hal ini PT Floresco harus bangun kembali. Apalagi jalan hotmix itu baru dibangun 5 tahun 2016 lalu. Tidak hanya di Jawang, di kampung Toka juga, jalan hotmix juga rusak tapi tidak diperbaiki kembali,” beber Edy.

Dia pun meminta Pemkab Matim segera memerintahkan PT Floresco untuk membangun kembali jalan yang sudah dirusaki itu. Edy juga meminta pihak pemilik proyek Irigasi Nasional Wae Laku, dalam hal ini Balai Sungai untuk merespon hal ini. Apalagi proyek irigasi yang ada masih dalam tahap pemeliharaan.

“Maksudnya kita minta Balai Sungai, perintahkan PT Floresco untuk selesaikan pekerjaan yang belum tuntas, khususnya masalah jalan hotmix yang dibongkar untuk kerja irigasi. Kalau tidak mau kerja, proyek irigasi itu jangan di FHO. Kalau tidak, polisi tangani saja masalah ini,” tegas Edy.

Terpisah, pihak manajemen PT Floresco, Kristian, yang dikonfirmasi TIMEXKUPANG.com belum bisa memberikan kepastian, apakah nanti jalan yang dirusaki itu, akan diperbaiki atau dibiarkan saja. Terkait item pekerjaan irigasi yang belum selesai dikerjakan, Kristian berjanji akan melihatnya kembali.

“Nanti kami lihat kembali itu jalan hotmix yang dirusaki untuk kepentingan irigasi kemarin. Termasuk item pekerjaan yang belum dikerjakan. Tahun 2020 ini, ada lanjut pekerjaan untuk saluran irigasi, tapi bukan kami lagi yang kerja. Ada kontraktor lain,” kata Kristian. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top