Komisi III DPRD Bakal Pertanyakan Kelangkaan BBM di TTS | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Komisi III DPRD Bakal Pertanyakan Kelangkaan BBM di TTS


PADAT ANTREAN. Beginilah kondisi SPBU di Kelurahan Cendana, Kota SoE. Konsumen padat mengantre BBM, Senin (31/8). (FOTO: YOPI TAPENU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Komisi III DPRD Bakal Pertanyakan Kelangkaan BBM di TTS


SOE, TIMEXKUPANG.com-Dalam kurun waktu sebulan terakhir terjadi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Nyaris setiap hari, konsumen mengantre BBM disejumlah SPBU yang ada di wilayah itu.

Menyikapi fenomena tersebut, Komisi III DPRD TTS menyatakan bakal mempertanyakan kelangkaan BBM itu ke pihak Pertamina.

Anggota Komisi III DPRD TTS, David Boimau kepada wartawan di kantor DPRD TTS, Senin (31/8) mengatakan, kebutuhan BBM saat ini sangat tinggi oleh masyarakat di TTS. Hal itu terjadi lantaran jumlah kendaraan di daerah itu kian bertambah.

Dengan jumlah kendaraan yang terus meningkat, kata David, seyogyanya dibarengi dengan penambahan volume BBM. “Bukan sebaliknya dikurangi seperti yang terjadi saat ini,” tegas David.

Kondisi kelangkaan BBM yang terjadi saat ini, demikian David, akan berdampak pada aktifitas masyarakat. Dampak ikutannya adalah menurunnya penghasilan masyarakat, serta dampak buruk lainnya.

Oleh karena itu, lanjut David, persoalan kelangkaan BBM yang terjadi saat ini perlu disikapi semua pihak sehingga dapat meminimalisir dampak buruk yang akan ditimbulkan. “Kalau orang tidak dapat BBM, maka aktifitasnya akan terhambat. Jadi ini perlu disikapi serius,” tegas David.

David mengatakan, jika pengurangan BBM dilakukan karena tujuan lain seperti yang berkembang isu saat ini, bahwa BBM jenis premium akan berangsur dihilangkan dari pasaran dengan jalan mengurangi pasokannya, maka perlu ada sosialisasi ke masyarakat.

Jika disosialosasikan secara terbuka, maka masyarakat akan berangsur mengalihkan penggunaan BBM dari premium ke BBM jenis pertalite dan sebagainya. “Setiap hari saya lihat antrean panjang di SPBU. Kalau seperti ini terus kasihan masyarakat,” ungkapnya.

Menyinggung adanya fenomena di masyarakat yang sengaja memodifikasi tangki kendaraannya dari ukuran standar agar bisa menampung lebih banyak BBM bahkan hingga ratusan liter, menurut David, kondisi itu patut ditindaklanjuti pihak keamanan.

Karena membeli BBM dalam jumlah banyak, seperti yang dilakukan saat ini di TTS, itu menyalahi aturan sehingga harus disikapi serius aparat penegak hukum.

“Pembelian BBM dengan cara tap tentu merugikan masyarakat lainnya karena masyarakat yang membeli itu akan menjual kembali BBM tersebut dengan sistem eceran yang nilainya tidak dapat dikontrol pemerintah. Jadi harus ditindak tegas oleh aparat,” beber David.

Semi Selan, salah seorang pengemudi kendaraan angkutan umum mengatakan, belakangan ini ia kesulitan memperoleh BBM di SPBU karena kerap kali kehabisan stok BBM.

Terpaksa Semi harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli BBM eceran yang dijual dengan harga yang cukup tinggi, berkisar antara Rp 7.500 – Rp 10.000 per liternya.

Kondisi itu, kata Semi, sangat berdampak pada penghasilan mereka. Karena itu, lanjutnya, agar bisa memperoleh BBM jenis premium, ia terpaksa harus mengantre di SPBU sejak subuh. “Kadang sudah antre dari amper siang (Subuh, Red) itupun tidak menjamin kita bisa dapat minyak,” keluh Semi yang juga merasa aneh karena di SPBU premium tidak ada, tapi penjualan eceran di depan, samping kiri dan kanan SPBU selalu ada.

Semi berharap kepada pemerintah agar dapat menstabilkan stok BBM di daerah, karena kelangkaan BBM yang terjadi saat ini sangat dirasakan dampaknya bagi mereka pengusaha angkutan umum.

Semi juga berharap kepada pihak keamanan agar dapat menertibkan pembelian BBM dengan cara tap, karena tindakan tersebut merupakan salah satu faktor penyebab kelangkaan BBM. “Saya harap aparat keamanan tertibkan ini mobil dan motor yang tap bensin,” tandas Semi. (yop)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top