Diberhentikan, 15 Guru Polisikan Kasek SMK Wae Ri’i | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Diberhentikan, 15 Guru Polisikan Kasek SMK Wae Ri’i


MELAPOR. Para guru komite SMKN Wae Ri'i melaporkan Kasek Yustin ke Polres Manggarai. Kasek Yustin dilaporkan atas dugaan korupsi dana komite, Senin (31/8). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Diberhentikan, 15 Guru Polisikan Kasek SMK Wae Ri’i


Komisi V DPRD NTT Minta Pemprov Sikapi Serius

RUTENG, TIMEXKUPANG.com-Sebanyak 15 orang guru komite di SMK Negeri 1 Wae Rii, Kabupaten Manggarai, mendatangi Polres setempat, Senin (31/8). Mereka melaporkan Kasek, Yustina Maria D. Romas atas dugaan korupsi dana komite di sekolah itu. Ke-15 guru ini melapor ke polisi setelah diberhentikan sebagai tenaga pendidik di SMK Negeri 1 Wae Rii.

“Kami ada 15 orang guru komite, sudah dipecat oleh Kepsek pada 28 Agustus 2020 lalu. Hari ini kami datang lapor bahwa ada dugaan korupsi dana komite di sekolah itu,” ungkap Ketua Forum Guru Komite, Petrus Mbana, di Polres Manggarai, Senin (31/8).

Petrus mengaku, pemecatan terhadap guru komite oleh Kasek Yustin ini lantara mereka dianggap bekerja tidak di bawah koordinasinya. Hal lain yang diduga penyebab mereka dipecat disinyalir erat kaitannya dengan aksi demonstrasi 28 guru komite di depan SMKN 1 Wae Rii pada 13 Juli 2020 lalu.

Kala itu, kata Petrus, para guru melakukan demonstrasi untuk menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Yustin di sekolah vokasi itu. Sehingga akhirnya mereka diberhentikan atau dipecat secara sepihak oleh Kasek Yustin.

“Kami merasa bahwa alasan pemecatan itu sangat tidak bijak, dan kami anggap sebagai sebuah arogansi kekuasaan. Hanya sebuah alasan saja bahwa kami dipecat karena tidak mengikuti pembinaan. Kami minta polisi untuk usut dugaan korupsi dana komite di SMKN Wae Ri’i,” terang Petrus.

Menurutnya, sebagai seorang kasek, Yustin telah melanggar kesepakatan bersama Kabid GTK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Di mana, disebutkan bahwa sambil menunggu keputusan dari dinas terkait soal kemelut di SMK Negeri 1 Wae Ri’i, kasek tidak boleh melakukan intimidasi dan pemecatan terhadap guru-guru di sekolah itu.

“Tapi disini justru Kepsek Yustin telah melanggarnya. Sehingga ini harus disikapi oleh Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini dinas terkait,” tuturnya.

Petrus mengaku, mereka yang dipecat itu akan menempuh beberapa upaya untuk mencari keadilan. Pertama, demikian Petrus, mereka akan mengirimkan laporan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT di Kupang, mengenai pemecatan dilengkapi kronologi kasus di sekolah itu. Kedua, mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas P dan K NTT untuk segera mengambil sikap.

“Sekarang ini Kepsek banyak melakukan kesewenang-wenangan dengan berbagai macam kebijakan. Sikap yang dilakukan selama ini, diantaranya adalah intimidasi terhadap guru-guru komite dan PNS, pengangkatan guru-guru komite baru tanpa analisis, dan saat ini pemecatan terhadap guru-guru komite,” beber Petrus.

Menurut dia, di sekokah itu ada setidaknya 28 jumlah guru komite. Dimana 15 guru sudah dipecat. Bahkan 13 guru lain berpotensi dipecat. Dalam waktu dekat akan melakukukan boikot kegiatan pembelajaran daring. Sebagai bentuk respon terhadap sikap sang kasek, pihaknya telah menghentikan sementara proses pembelajaran daring bersama anak-anak.

“Ini sampai mendapatkan keputusan resmi dari dinas pendidikan mengenai masalah ini. Kita harap melalui pemberitaan media, dinas tangani secara cepat. Kami tentu menyampaikan maaf kepada orang tua murid atas langkah yang mereka lakukan, yang mengorbankan anak-anak didik di sekolah itu,” katanya.

Tak Manusiawi

Menyikapi hal ini, anggota DPRD NTT, Yohanes Rumat, kepada TIMEXKUPANG.com melalui telepon, Selasa (1/9) mengatakan, sikap dari Kasek Yustin, dinilai sangat tidak manusiawi dan melanggar ketentuan kemanusiaan serta peraturan lainnya yang mengikat para pihak.

Yohanes menganggap, langkah yang dilakukan kasek melanggar ketentuan. Pasalnya utusan Dinas P dan K NTT dan pantauan kunjungan kerja DPRD NTT telah datang ke lembaga sekolah tersebut.

Yohanes mengatakan, saat rapat dan diskusi bersama pimpinan serta sejumlah anggota DPRD NTT saat itu, disepakati agar persoalan ini diselesaikan secara baik dan bijaksana oleh para pihak, maupun pemerintah, dalam hal ini Dinas P dan K NTT.

“Kalau sampai tindakan dan sikap Kepsek Yustin memecat para guru, artinya Kepsek Yustin sedang tidak menghargai lembaga DPRD Provinsi NTT, juga tidak menghargai Pemerintah dan Gubenur selaku Kepala wilayah di Provinsi NTT,” tandas Yohanes. “Ini bukti bahwa dia tidak menghargai dua lembaga pemerintahan yang sejajar kedudukan dengan beda fungsi ini,” tambahnya.

Yohanes menilai, Kasek Yustin menggunakan hak sewenang-wenang atau bersifat otoriter dengan memecat 15 guru komite dan melukai persaaan guru negeri serta orang tua murid.

“Kalau saja sikap dia di sekolah ini dalam keadaan normal, tanpa demonstrasi atau tanpa Covid-19 dan memiliki juknis, juklak, dan aturan lain yang bersifat normal dan terdokumentasi di sekolahnya, kita bisa memahami. Tetapi yang terjadi saat ini guru-guru dipecat paska demontrasi dan saat pandemi Covid-19,” sesal Yohanes Rumat.

Oleh karena itu, lanjut Yoahnes Rumat, situasi itu sudah tidak kondusif. Maka Komisi V DPRD NTT berharap Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat segera menyikapi persoalan ini dengan serius dan membina Dinas P dan K NTT yang terkesan lamban mengambil keputusan terkait kasus SMKN Wae Ri’i, di Manggarai.

“Kami harapkan Gubenur jangan berdiam diri, tapi lihat kinerja anak buahnya. Sebab kalau hal ini diteruskan untuk tidak diurus, maka oleh seluruh SMA, SMK, SLB yang ada diseluruh NTT, menjadi contoh buruk,” pungkas Yohanes. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top