Prihatin Lihat Kehidupan Warga Pulau Pangabatang, Bupati Sikka Janjikan Hal Ini | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Prihatin Lihat Kehidupan Warga Pulau Pangabatang, Bupati Sikka Janjikan Hal Ini


DI PULAU PANGABATANG. Bupati Sikka, Robi Idong (ketiga kanan) bersama Forkompinda berdialog dengan masyarakat Pangabatang usai pengukuhan Forkades di Pulau Pangabatang, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Sikka, Minggu (30/8). (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Prihatin Lihat Kehidupan Warga Pulau Pangabatang, Bupati Sikka Janjikan Hal Ini


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Indonesia sudah merdeka 75 tahun, namun kehidupan warga Pulau Pangabatang, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka diliputi keprihatinan.

Bagaimana tidak, kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih juga penerangan listrik hingga saat ini belum terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga setempat harus mengeluarkan ongkos lebih. Misalnya untuk mendapatkan air bersih satu jerigen ukuran 10 liter, warga membelinya seharga Rp 1.000. Begitupun penerangan masih menggunakan lampu pelita. Fasilitas pendidikan juga masih jauh dari kata ideal.

Salah seorang warga Pangabatang, Harudin yang juga Takmir masjid setempat menilai bahwa warga Pangabatang masih dianaktirikan, kurang mendapat perhatian pemerintah. Baik itu kebutuhan air minum, pendidikan, rumah layak huni, maupun pelayanan dibidang kesehatan. Harudin mengaku bahwa jika ada bantuan pun selalu tidak tepat sasaran, bahkan tidak sampai ke masyarakat Pangabatang.

“Kesulitan yang paling vital bagi masyarakat Pangabatang disini yakni kebutuhan air minum. Masyarakat pangabatang harus berjuang keras mendapatkan air minum di pulau besar dengan membelinya Rp 1.000 per jerigen berukuran 10 liter. Cara membelinya pun warga terpaksa harus mendayung sampan dari Pulau Pangabatang menuju Pulau Besar,” ungkap Harudin, saat ditemui di Pulau Pangabatang, Minggu (30/8).

Harudin menambahkan, untuk kebutuhan listrik, masyarakat menggunakan panel surya bekas yang dibeli dari Larantuka, Flores Timur. Itupun pemakaiannya tidak bertahan lama. Jika malam hari hanya sebatas pada pukul 22.00 Wita, selanjutnya gunakan lampu pelita.

Nurmawati (kiri), seorang guru di Pulau Pangabatang menunjukan alat penangkap (bubuh) yang digunakan pamannya untuk menangkap ikan agar bisa membantu kebutuhan keluarganya. (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

Sementara itu, Nurmawati Anwar, salah saorang guru di desa itu mengeluhkan soal gaji yang sangat minim. Dalam sebulan, ia hanya digaji senilai Rp 230.000. Itupun baru diberikan tiga bulan sekali untuk enam bulan gaji.

Mirisnya lagi, kata Nurmawati, segala kebutuhan alat tulis kantor (ATK) harus dibeli sendiri oleh guru. Untuk mengajari muridnya sebanyak 23 orang itu, Nur –sapaan Nurmawati– harus menyisihkan waktu untuk membimbing anak didiknya di sekolah juga di rumah.

“Saya sudah lima tahun menjadi guru di sekolah dengan upah yang diterima senilai Rp 230.000 sebulan, dan dibayar tiga bulan sekali untuk enam bulan enam bulan gaji. Jadi untuk enam bulan saya terima senilai Rp 1.380.000. Semua ini saya lakukan agar anak-anak Pangabatang bisa mengenyam pendidikan,” ungkap Nur.

Nur berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib warga Pangabatang, baik kebutuhan air minum, rumah layak huni, maupun akses pendidikan.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo seusai mengukuhkan Forkades di Pulau Pangabatang, menyatakan keprihatinannya melihat kehidupan masyarakat Pangabatang yang sangat memprihatinkan. Bupati berjanji akan melakukan pinjaman daerah ke pihak ketiga guna membantu masyarakat setempat memenuhi hak-hak dasarnya.

“Kita sudah usulkan pinjaman daerah untuk membantu pengembangan air minum bersih bagi masyarakat Panagabatang. Ini menjadi prioritas,” janji bupati yang akrab disapa Robi Idong ini.

Terkait penyediaan rumah layak huni, Bupati Robi mengatakan akan ditangani langsung Dinas Perumahan. Demikian halnya dengan pendidikan, Kadis PKO harus melihat langsung kondisi sekolah yang ada di Pangabatang untuk mengambil langkah penanganan.

“Kebutuhan dasar masyarakat harus dipenuhi dan ini menjadi perhatian pemerintah. Karena dengan adanya kebutuhan air bersih maka peningkatan ekonomi dan kesehatan dapat terjamin,” kata Robi.

Robi menambahkan, pemerintah daerah selain menggunakan pinjaman untuk pengelolaan air bersih, juga membangun infrastruktur lainnya seperti membangun ruas jalan baru dari Nelle menuju Hokor.

“Untuk membangun daerah selain mengandalkan APBD, pemerinatah juga harus mencari jalan alternatif lainnya yakni melakukan pinjaman. Karena itu untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pemerintah berkewajiban memenuhinya,” pungkas Robi (Kr5)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top