Peragakan 15 Adegan dalam Rekonstruksi Kasus Penganiayaan Eduardus Fouk | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Peragakan 15 Adegan dalam Rekonstruksi Kasus Penganiayaan Eduardus Fouk


REKONSTRUKSI. Tim Penyidik Polda NTT bersama Satreskrim Polres TTU dan Polsek Biboki Utara saat menggelar rekonstruksi peristiwa penyiksan terhadap Eduardus Fouk yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Polres TTU di Desa Birunatun, Kecamatan Biboki Feotleu. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Peragakan 15 Adegan dalam Rekonstruksi Kasus Penganiayaan Eduardus Fouk


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Tim Penyidik Polda NTT bersama Satuan Reskrim Polres TTU dan Polsek Biboki Utara menggelar rekonstruksi peristiwa penyiksan terhadap Eduardus Fouk yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Polisi Polres TTU.

Dalam Rekonstruksi tersebut, sebanyak 15 adegan dugaan penyiksaan terhadap korban Eduardus Fouk diperagakan. Dimulai dari kejadian bangunkan korban secara paksa di pondok sampai dijemput oleh oknum anggota Polisi hingga kabur dari pantauan polisi.

Turut hadir dalam kegiatan rekonstruksi tersebut, Direktur Lakmas Cendana Wangi NTT, Viktor Manbait bersama tim kuasa hukum Eduardus Fouk.

Usai rekonstruksi, Direktur Lakmas Cendana Wangi NTT, Victor Manbait, kepada Timor Express, Kamis (3/9) mengatakan, kegiatan rekonstruksi yang dilakukan tim dari Polda NTT tersebut guna mengungkap kebenaran dari peristiwa penyiksaan yang dialami Eduardus Fouk, Warga Desa Kota Foun, Kecamatan Biboki Anleu yang disaksikan langsung oleh keluarga.

Menurut Victor, penyidik melakukan rekonstruksi tersebut untuk mempertegas peristiwa yang terjadi di sebuah pondok yang terletak di Desa Birunatun, Kecamatan Biboki Feotleu beberapa waktu lalu dalam 15 adegan rekonstruksi.

Victor menjelaskan, 15 adegan rekonstruksi tersebut terdiri dari rekonstruksi penyiksaan terhadap Eduardus Fouk pada saat ditarik paksa bangun dari tidurnya, adegan pemukulan, dan beberapa adegan dugaan penyiksaan lainnya.

“Rekonstruksi di Pondok Kebun ini juga melakukan rekonstruksi bagaimana saksi TKP Martinus Bouk menyaksikan peristiwa tersebut juga adegan rekonstruksi Martinus Bouk yang saat kejadian direkonstruksikan juga dipukul satu kali pada wajahnya oleh anggota Polsek Biboki Utara,” beber Viktor.

Dari sejumlah adegan rekonstruksi tersebut, sebut Viktor, ada adegan yang tidak diperagakan yakni ketika Martinus Bouk ditondong dengan pistol di mulutnya oleh salah satu anggota Polisi sebagaimana kronologi yang sering disampaikan Martinus ketika diperiksa (BAP).

Sebelumnya, sejumlah oknum anggota Polres TTU dilaporkan ke Mapolres TTU. Kasus tersebut lalu diambil alih Polda NTT lantaran diduga terjadi penganiayaan oleh oknum anggota Polres TTU terhadap Eduardus Fouk, 17, warga RT/RW: 07/03, Desa Kotafoun, Kecamatan Biboki Anleu.

Eduardus, yang diduga merupakan korban salah tangkap kasus pengrusakan motor dinas Polres TTU dan kekerasan terhadap anggota Babinkamtibmas Desa Kota Foun, itu dianiaya hingga mengalami luka pada bagian bibir, bengkak pada dahi dan pergelangan tangan, memar pada dada kiri dan kanan serta betis juga kaki. Akibat penganiayaan tersebut korban harus menjalanni perawatan medis.

‌Kuasa Hukum korban, Dyonisius Opat, mengatakan pihaknya bersama Direktur Lakmas NTT, Victor Emanuel Manbait mendampingi korban Eduardus Fouk, yang merupakan siswa SMA, melaporkan penganiayaan yang dialaminya ke Mapolres TTU, Senin (27/4). Saat ini korban sedang menjalani perawatan medis di RS Leona Kefamenanu.

Menurut Dyonisius, laporan polisi terkait penganiayaan anak di bawah umur tersebut dilayangkan ke Unit PPA Polres TTU. Para terduga pelaku akan dituntut dengan pasal 81 undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, Pasal 13 ayat 1e dan 14f Peraturan Kapolri nomor 14 tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Republik Indonesia subsider pasal 52 KUHP tentang penyalahgunaan kewenangan oleh ASN dalam pelaksanaan tugas.

“Awalnya, korban diamankan karena diduga terlibat dalam kasus pengrusakan motor dinas Polres TTU yang dugunakan oleh Babinsa Kota Foun. Padahal korban sama sekali tidak terlibat karena pada saat kejadian korban baru saja kembali dari Kefamenanu dan beristirahat di rumahnya,” jelas Dyonisius.

Kapolres TTU, AKBP Nelson Filipe Diaz Quintas ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya menghormati laporan polisi oleh korban atas dugaan penganiayaan, yang dilakukan oknum polisi terhadap korban, dan memastikan proses hukum terhadap laporan korban akan berjalan sesuai prosedur.

Terkait tuduhan korban bahwa terjadi penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah anggota terhadap korban, hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil visum yang akan dirilis secara resmi oleh pihak medis.

Menurut Nelson, sesuai informasi yang telah dihimpun pihaknya, dari hasil visum tersebut tidak ditemukan adanya kekerasan pada tubuh korban, seperti yang digambarkan oleh korban yang menyebut terjadi penganiayaan pada tubuh korban, dan hanya ada luka gores pada kedua kaki korban.

Hal itu juga dialami oleh para anggota yang saat itu melakukan pengejaran terhadap korban, karena korban sebelumnya sempat melarikan diri saat hendak dipertemukan dengan tiga orang terduga pelaku lainnya yang saat ini masih dalam pengejaran polisi.

Meskipun demikian, pihaknya menghargai alibi korban dan akan membuktikannya dengan melakukan konfrontir dengan 3 pelaku lainnya, yang saat itu diduga terlibat dalam aksi pengrusakan motor dinas serta melakukan pelemparan dan pengejaran terhadap anggota, serta saksi-saksi yang berada di TKP saat kejadian.

Apabila korban betul-betul merupakan korban salah tangkap, seperti yang dilaporkan, maka pihaknya akan menindak anggota yang melakukan tindakan salah dan menjatuhi sanksi seturut aturan yang berlaku. Sebaliknya jika itu hanyalah tuduhan tanpa bukti, maka pihaknya akan menindak sesuai prosedur hukum yang berlaku. (mg26)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top