RSUD Borong Belum Bisa Layani Pasien BPJS, Begini Penjelasan Direktur | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

RSUD Borong Belum Bisa Layani Pasien BPJS, Begini Penjelasan Direktur


Direktur RSUD Borong, dr. Emilia Yori Dorsi saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (3/9). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

RSUD Borong Belum Bisa Layani Pasien BPJS, Begini Penjelasan Direktur


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Sejak 18 Agustus 2020, pelayanan klinis di RSUD Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) sudah mulai dilakukan. Hanya sayang, akibat terkendala satu persyaratan, bagi pemegang kartu BPJS Kesehatan atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) belum bisa dilayani.

Terkait hal tersebut, manajemen RSUD Borong berharap masyarakat Matim dapat memahami kondisi tersebut. Meski demikian, bukan berarti, RSUD Borong menolak jika ada pasien BPJS atau KIS datang berobat. Pasien akan tetap dilayani namun tetap dikenakan biaya sesuai ketentuan yang ada.

“Untuk pasien BPJS dan KIS, kita tetap terima dan memberikan pelayanan. Tapi semuanya tercatat sebagai pasien umum. Karena kita belum kerja sama dengan PT. BPJS Kesehatan,” ungkap Direktur RSUD Borong, dr. Emilia Yori Dorsi, saat ditemui TIMEXKUPANG.com di ruang kerjanya, Kamis (3/9) siang.

Menurut dr. Yori, untuk bisa bekerja sama dengan PT. BPJS, ada empat syarat yang harus dipenuhi RSUD Borong. Empat syarat itu, yakni kredensial, fasilitas kesehatan wajib terakreditasi, izin operasional, dan tipe rumah sakit. “Kita terkendala pada satu persyaratan, dimana fasilitas kesehatan terakreditasi belum ada. Ini menjadi alasan belum bisa melayani pasien BPJS dan KIS,” beber dr. Yori.

Dokter Yori yang saat itu didampingi Kepala Tata Usaha (KTU) RSUD Borong, Lukas Wahyu Tauba, menjelaskan, pihak RSUD melalui Dinas Kesehatan Matim sedang berupaya memenuhi persyaratan yang ada. Prosesnya tidak instan dan melalui sejumlah tahapan. Apalagi di situasi pandemi Covid-19.

“Sejak resmi buka pelayanan klinis, sudah banyak pasien yang datang. Tidak hanya di poli, juga UGD sudah memberikan pelayanan kepada pasien. Tapi untuk sementara masih rawat jalan dan belum bisa rawat inap,” kata dr. Yori diamini Wahyu.

Dokter Yori menyebutkan, pelayanan di poli juga sudah mulai dibuka, yakni poli bedah, poli umum, dan poli gigi. Tentu itu semua sesuai dengan SDM yang ada. Dalam pelayanan, katanya, tetap menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan penyebaran Covid-19.

Dokter Yori menambahkan, meski RSUD Borong sudah memiliki satu dokter ahli atau dokter spesialis bedah, tindakan untuk operasi atau bedah belum bisa dilakukan.

“Tindakan bedah bisa, tapi terbatas. Untuk bedah skala besar, harus ada dokter anestesi. Sedianya kita butuh tambahan empat dokter specialias lagi, yakni spesialis kandungan, anak, anestesi, dan penyakit dalam. Minimal spesialis anestesi dan kandungan itu secepatnya ada,” katanya.

Menurut dr. Yori, rencana awal untuk empat dokter spesialis itu, adanya kerja sama dengan Udayana Denpasar. Tapi dengan adanya pemangkasan anggaran untuk penanganan Covid-19, hasil kerja sama itu belum bisa berjalan. Disini sudah pemenuhan teknis, tapi lagi terkendala anggaran.

“Kami berharap tahun depan kerja sama dengan Udayana itu sudah bisa berjalan. Sehingga spesialis yang kita butuhkan ini terjawab. Tentu ini butuh dukungan semua pihak, terutama suport anggaran. Kalau pasien BPJS atau KIS yang dirujuk dari Puskesmas, kami arahkan untuk langsung ke RSUD Ruteng,” kata dr. Yori.

KTU RSUD Borong, Lukas Wahyu Tauba, menambahkan, untuk dukungan SDM di RSUD Borong, seluruhnya berjumlah 156 orang. Rinciannya, kata Lukas, satu dokter spesialis bedah, lima orang dokter umum, dokter gigi (1 orang), apoteker (3 orang), dan farmasi (2 orang). Selain itu tenaga elektro medis (2 orang), radiografer (3 orang), gizi (3 orang), dan bidang lainnya 19 orang.

Masih menurut Lukas, untuk perawat sebanyak 55 orang. Terdiri dari perawat gigi (2 orang), AKL (3 orang), analis (4 orang), rekam medik (2 orang), fisioterapi (2 orang), dan refraksionis optisien (1 orang). Selanjutnya, tenaga SKN (2 orang), dan 47 orang tenaga non medis.
Lukas menyebutkan, RSUD Borong ini saat ini masih berstatus rumah sakit tipe D.

“Kalau fasilitas disini seperti jumlah tempat tidur dan sarana penunjang lainya, sudah memenuhi syarat. Pasien selama ini sudah masuk angka ratusan,” kata Wahyu.

RSUD Borong, tambah Lukas, juga melayani pemeriksaan dengan rapid test mandiri. “Sarana pendukung lainnya seperti mobil ada tiga unit, masing-masing satu mobil ambulance, mobil jenazah, serta mobil operasional dokter ahli. RSUD Borong sendiri diresmikan pada 17 Juli 2020, besoknya 18 Agustus 2020 langsung melakukan pelyanan medis,” pungkas Lukas Wahyu. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top