Registrasi Ponsel dengan NIK Orang Lain Bermodal Sebungkus Rokok, Begini Penjelasan Kadisdukcapil Kota Kupang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Registrasi Ponsel dengan NIK Orang Lain Bermodal Sebungkus Rokok, Begini Penjelasan Kadisdukcapil Kota Kupang


Kepala Dinas Dukcapil Kota Kupang, Agus Ririmase. (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Registrasi Ponsel dengan NIK Orang Lain Bermodal Sebungkus Rokok, Begini Penjelasan Kadisdukcapil Kota Kupang


TIMEX, KUPANGKUPANG.com–Kebocoran dan penyalahgunaan data pribadi masih terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satunya dialami Ani –bukan nama sebenarnya– yang mengaku Nomor Induk Kependudukan (NIK) miliknya digunakan orang lain tanpa sepengetahuannya.

Ia mengetahui hal itu saat akan mendaftarkan nomor seluler. Pasalnya, ia gagal terus saat hendak meregistrasi nomornya. Alasannya, NIK-nya telah digunakan orang lain. Padahal, Ani belum pernah menggunakan NIK miliknya untuk mendaftarkan nomor ponselnya.

“Saya merasa kuatir bila terjadi persoalan hukum. Tentu nama saya yang dibawa-bawa karena NIK saya yang digunakan. Sementara saya sendiri tidak tahu apa-apa,” ujar Ani kesal.

Kasus serupa juga dialami Toni –bukan nama sebenarnya. Pria ini mengaku gagal berkali-kali saat hendak mendaftarkan nomor ponselnya. Saat dicek ke operator seluler, ternyata sudah ada nomor yang terdaftar menggunakan NIK-nya. Padahal Toni merasa belum pernah mendaftar selain kartu seluler yang habis masa aktifnya. Toni pun meminta data yang ada pada nomor itu dihapus.

Jual Beli NIK

Sejumlah pemilik kios penjual kartu prabayar yang enggan menyebutkan namanya mengaku pernah mendaftarkan nomor seluler dengan menggunakan NIK orang lain. Dalam sehari bisa tiga sampai lima NIK yang digunakan. Menurut mereka, cara mendapatkan NIK tersebut sangat mudah. Yakni, berkongkalikong dengan oknum di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil(Dispendukcapil). Dalam sehari, oknum di Dispendukcapil bisa menyediakan dua sampai tiga NIK. Harganya pun tak mahal. Cukup dengan sebungkus rokok, sudah bisa dapatkan NIK.

Salah satu pemilik kios yang enggan menyebutkan namanya mengaku pernah melakukan praktik daftar nomor seluler menggunakan NIK orang lain. “Bila ada yang membutuhkan kartu seluler yang nomornya sudah teregistrasi, akan disiapkan,” ujarnya kepada Timor Express.

Namun para pemilik kios berdalih, praktik itu hanya berjalan selama sebulan. Pasalnya, petugas Dispendukcapil menolak untuk ‘setor’ NIK lagi. Pemilik kios tersebut mengatakan awalnya dia berani melakukan praktik itu dengan tujuan kartunya bisa terjual habis.

Telkomsel wilayah Bali Nusra dan Corporate Communication Telkomsel yang dihubungi Timor Express menolak berkomentar. Timor Exprees sudah berusaha menghubungi pihak Telkomsel. Namun pesan singkat yang dikirim tak berbalas. Saat berusaha menghubungi lewat telepon juga tak direspon.

Cluster Sales Executif Grapari Indosat Kupang, Dwi Harto mengatakan, selama ini pihaknya tetap menjaga kerahasiaan data pribadi pelanggan karena itu sangat privasi dan tidak boleh disalahgunakan. Bahkan orang Indosat saja tidak semua lihat kecuali operator atau yang ditugaskan.
Mengenai dugaan praktik pendaftaran nomor seluler menggunakan NIK orang lain, menurut Dwi Harto, khusus di Indosat Kupang belum ada kasus seperti itu.

“Kami selalu berupaya meminimalisir. Indosat hanya menjual kartu yang belum registrasi. Jika ada masyarakat belum paham daftar nomor kartu seluler saat beli kartu, petugas kami akan pandu tapi yang bersangkutan tentu bawa KTP dan KK aslinya. Itu pun petugas kami harus ambil gambar pembeli memegang kartu Indosat dan Kartu keluarga (KK) tujuannya sebagai laporan bahwa benar petugas Indosat hanya pandu,” ujar Dwi Harto saat ditemui di kantornya.

Membantah

Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatataan Sipil (Disdukcapil) Kota Kupang, Agus Ririmase mengatakan, Disdukcapil sebagai pengelola data kependudukan diatur dan diikat oleh UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk).

UU ini, kata Agus menjamin keamanan NIK dan data diri masyarakat. Tingkat pengamanan dalam sistem pengelolaan data dukcapil sudah ter-back up sistem yang terkontrol oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Dukcapil Pusat.

Menurut Agus, Disdukcapil menjamin kerahasiaan NIK dan data pribadi masyarakat, tidak sembarang diekspos karena ada sanksi bagi petugas Disdukcapil dalam UU Adminduk jika sengaja/sembarangan mengekspos NIK atau data diri perorangan.

Selanjutnya kembali juga pada perilaku warga untuk tidak menyebarkan NIK-nya lewat berbagai media yang dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya jika disalahgunakan orang lain yang tidak bertanggungjawab.

Kepala Dinas Kominfo Kota Kupang, Balina Uly yang dikonfirmasi Timor Express, di Kupang, Selasa (2/9), terkait dugaan penggunaan data pribadi orang lain untuk pendaftaran nomor seluler mengatakan, pihaknya tidak mengetahui karena itu kewenangan perusahaan seluler.

“Sedangkan mengawasi perusahaan seluler iya, tapi tidak masuk dalam sistemnya. Jika ada yang merasa dirugikan maka yang bersangkutan melapor dulu dan itu ada prosedurnya. Jika kita ingin membuka data pribadi seseorang yang terdaftar di Kementrian Kominfo ada prosedurnya dan terlebih dahulu harus menyampaikaan kronologis sebenyarnya,” jeas Balina.

Balina menjelaskan, jika dipelajari dan perlu membuka data Kominfo, maka ada prosesnya lagi disampaikan ke Kementerian Kominfo, dan bila disetujui membuka data baru bisa diakses. Tentu mereka akan menyampaikan adminnya karena tidak sembarang orang bisa membuka data itu selain admin yang diizinkan.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Hasri Manasye Jaha, SH ketika dikonfirmasi mengenai berapa banyak jumlah kasus kejahatan menggunakan modus telepon seluler di Kota Kupang mengatakan, dalam lima tahun terkahir ini ada kasus. Namun Hasri tidak menyebut angkanya secara rinci.

Polres Kupang Kota, kata Hasri, juga memiliki divisi cyber crime yang mampu mendeteksi kejahataan lewat telepon seluler, dimana pada awal pekan kemarin berhasil mengungkap kasus asusila yang modusnya menggunakan telepon seluler.

Kabid Humas Polda NTT, AKBP. Johanes Bangun. (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

Terkait dugaan kasus telepon seluler yang mana diduga ada oknum yang menggunakan data pribadi atau NIK orang lain untuk registrasi kartu seluler, menurut Hasri, selama ini belum ada laporan polisi terkait dugaan kasus tersebut.

“Selama ini belum ada laporan penyalagunaan data pribadi. Kalau ada masyarakat atau korban yang merasa dirugikan karena data pribadinya disalahgunakan untuk kejahatan bisa melaporkan ke ke polisi,” ungkap Hasri.

Upaya yang dilakukan Polres Kupang Kota dalam meminimalisir adanya berbagai kasus termasuk dugaan kasus dengan modus penggunaan data pribadi orang lain baik telepon seluler maupun lainnya supaya cek dan ricek. Masyarakat diminta tidak cepat percaya berbagai tawaran yang menggiurkan lewat telepon seluer jika ada yang mencurigakan segera melaporkan ke pihak kepolisian.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Johannis Bangun, SIK yang dikonfirmasi Timor Express belum lama ini mengatakan, selama ini belum ada laporan masyarakat atau korban yang melaporkan kerugian akibat dugaan penyalagunaan data pribadi berupa NIK.

Kalau ada masyarakat yang merasa dirugikan karena dugaan data pribadinya disalahgunakan silakan melapor ke Polisi, dan tentu akan ditindaklanjuti karena itu merupakan kasus kejahatan.

“Kalau kasus cyber crima yang lain ada, tapi khusus dugaan penyalagunaan NIK orang lain untuk registrasi nomor telepon seluler sementara belum ada laporan masyarakat/korban,” katanya.

Kasus yang menimpa Ani dan Toni membuktikan, penyalahgunaan dan penyelewengan data pribadi masih marak terjadi. Hal itu terjadi karena tidak adanya regulasi yang mengatur soal perlindungan data pribadi. Untuk itu, dibutuhkan beleid yang bisa dan mampu melindungi data pribadi. Agar kasus Ani dan Toni tak terulang lagi. (dek)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top