Happy Hypoxia jadi Salah Satu Gejala Baru Covid-19, Apa itu? | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Happy Hypoxia jadi Salah Satu Gejala Baru Covid-19, Apa itu?


ILUSTRASI. Cat kuku terracota. Sebelum mengukur kadar oksigen dengan oksimeter, pastikan kuku bersih dari cat. (FOTO: JawaPos.com/Glamour)

GAYA HIDUP

Happy Hypoxia jadi Salah Satu Gejala Baru Covid-19, Apa itu?


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Gejala pasien Covid-19 saat ini bertambah. Gejala bisa berupa Happy Hypoxia. Itu merupakan sebuah kondisi tubuh yang tak merasakan sesak napas sebagaimana gejala Covid-19, tapi kadar oksigen atau saturasi di dalam darah semakin turun.

Jika tak terdeteksi, akibatnya bisa fatal. Kondisi ini umumnya bisa terjadi pada pasien Covid-19 dengan gejala ringan atau tanpa gejala. Makanya, saat ini sejumlah pasien mulai membeli oksimeter atau alat pengukur oksigen di dalam darah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Ahli Endoskopi Gastrointenstinal, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menjelaskan, kondisi Happy Hypoxia adalah kondisi dimana tubuh sudah kekurangan oksigen. Kadar oksigen normal saat diukur dengan oksimeter yaitu 95-100. Jika semakin turun saat diukur, berhati-hatilah.

“Ketika kita sesak kan seharusnya sudah memberikan alarm, berusaha meraih oksigen ke udara (gasping). Nah, pasien Covid-19 mungkin merasa tenang-tenang saja, tapi sebetulnya kadar oksigennya sudah rendah. Tapi pasien tak merasakan itu,” jelasnya.

Dia menjelaskan, tubuh memiliki organ paru-paru dan memerlukan oksigen. Maka dari itu, kondisi Happy Hypoxia tentu akan mempengaruhi sistem di dalam tubuh.

“Sepeti saat di tengah keramaian, seseorang kepalanya pusing sekali lalu sampai pingsan. Itu bisa karena kekurangan oksigen,” jelasnya.

“Maka jika sudah mengalami Happy Hypoxia tak bisa dirawat di rumah. Harus di rumah sakit yang standby dengan tindakan dokter lalu siap ventilator,” katanya.

Hapus Cat Kuku

Ternyata, bagi pasien yang menggunakan cat kuku atau kutek, harus membersihkan jemarinya dulu. Sehingga saat mengukur saturasi oksigen dengan oksimeter akan akurat.

Pengukuran dilakukan di ujung jemari dengan menempelkan alat pada salah satu jari, misalnya telunjuk. Kemudian alat tersebut akan menunjukkan berapa kadar oksigen seseorang.

“Benar, perempuan pakai kutek bersihkan kuku dulu. Oksimeter ini bisa dipergunakan untuk mengukur kadar oksigen melihar perifer, untuk melihat saturasi oksigen perifer di telunjuk atau di jempol,” jelasnya.

Sehingga perawat di rumah sakit biasanya akan membersihkan cat kuku pasien. Sehingga hasilnya bisa akurat.

“Dan oksimeter juga biasa digunakan saat dokter melakukan tindakan endoskopi. Alat ini memang rutin untuk mengukur saturasi oksigen. Dan bisa menjadi deteksi untuk pasien Covid-19 tanpa gejala atau ringan,” jelasnya. (jpc/jpg)

Komentar

Berita lainnya GAYA HIDUP

Populer

To Top