Modal Rp 8 Juta, Wakil Rakyat Bedah Rumah Warga di TTS | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Modal Rp 8 Juta, Wakil Rakyat Bedah Rumah Warga di TTS


SEMANGAT GOTONG-ROYONG. Warga Desa Benlutu bergotong-royong mengerjakan rumah ibu Neri Kollo belum lama ini. (FOTO: ISTIMEWA)

POLITIK

Modal Rp 8 Juta, Wakil Rakyat Bedah Rumah Warga di TTS


SOE, TIMEXKUPANG.com-Persoalan kepemilikan rumah layak huni masih menjadi problem serius di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Salah satu penyumbang angka kemiskinan di Bumi Cendana adalah persoalan masih banyaknya rumah tidak layak huni yang didiami masyarakat setempat.

Menyikapi fakta tersebut, salah seorang wakil rakyat yang juga Wakil Ketua DPRD TTS, Relygius Usfunan terpanggil untuk membangun atau membedah rumah warga yang tidak layak huni. Bahkan dengan hanya bermodalkan uang Rp 8 jutaan, sebuah rumah permanen berukuran 5 x 7 meter sudah bisa dibangun.

“Hanya dengan uang Rp 8 juta kita bisa bangun rumah parmenen. Jadi kalau bantuan stimulan pemerintah, balasan bahkan puluhan juta, tapi rumahnya tidak selesai-selesai, itu yang saya heran,” ungkap Relygius kepada Timor Express di SoE, Kamis (17/9).

Egy –sapaan akrab Relygius Usfunan– mengatakan, pihaknya telah membedah rumah warga mencapai balasan unit. Namun yang baru selesai bahkan sementara dalam pengerjaan sebanyak tiga unit rumah di Desa Benlutu, Kecamatan Batu Putih. Tiga rumah itu masing-masing milik Neri Kollo, Dorce Abi, dan Anjelina Taek. Ada satu unit rumah yang juga sementara dibedah di Desa Teas, Kecamatan Noebeba, milik Asnat Nabuasa.

“Ada yang sudah selesai dan ada yang masih dalam pengerjaan. Semuanya saya buatkan rumah parmanen,” kata politikus PKB itu.

Egy menuturkan, program bedah rumah warga itu dikerjakan secara gotong royong serta bahan lokal ditanggung renteng oleh warga sekitar. Hal itu sengaja dilakukan, dengan tujuan untuk membangkitkan jiwa sosial kemasyarakatan, serta jiwa gotong-royong yang belakangan kian terkikis. Dari sejumlah rumah yang dibedah, diketahui bahwa sesungguhnya jiwa gotong-royong masyarakat Kab TTS sangat tinggi.

Hanya saja membutuhkan aktor untuk menggerakan semangat yang ada. “Tiga rumah di Benlutu itu, saya serahkan ke KUB yang urus. Saya hanya siapkan bahan saja. Jadi jiwa masyarakat kita sangat respon terhadap gotong royong, hanya saja harus ada yang menggerakan,” tegas Egy.

Egy menduga bahwa, pada umumnya bantuan stimulan perumahan bagi warga kurang mampu, yang bertahun-tahun tidak rampung diselesaikan karena pola pendekatan yang dilakukan pemerintah tidak cocok dengan kultur masyarakat TTS.

Maka dari itu, paradigma masyarakat yang terbangun saat ini terhadap program pemerintah adalah proyek dan proyek. Oleh sebab itu, perlu dilakukan sosialisasi yang baik, terkait bantuan stimulan pemerintah agar masyarakat tidak selalu berpikir bahwa program pemerintah adalah proyek, melainkan pemberdayaan masyarakat kurang mampu, sehingga dapat membangkitkan semangat gotong royong dalam mengatasi persoalan yang dialami masyarakat.

“Kalau pendekatannya salah, maka begitu ada bantuan pemerintah, maka yang ada di otak masyarakat hanya proyek dan proyek. Nah kalau begitu, yang dibangun bukan rumah sehat, tapi fondasi sehat, karena yang selesai dikerjakan hanya fondasinya saja,” ucap Egy.

Ketua Kelompok Umat Basis (KUB) Paulus Rasul Paroki Benlutu, Esi Babi melalui sambungan telefon menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Wakil Ketua DPRD TTS, Relygius Usfunan karena telah peduli membantu warga setempat membedahnya rumahnya menjadi lebih layak huni.

Awalnya rumah milik Neri Kollo itu sangat memprihatinkan, namun dengan bantuan Wakil Ketua DPRD TTS itu, saat ini rumahnya menjadi rumah sehat dan layak huni. “Kami tidak bisa membalas perbuatan baik Bapak Egy, tapi hanya kami bisa bantu lewat doa agar Bapak Egy sehat selalu dan diberkati agar terus berbuat baik untuk masyarakat TTS yang membutuhkan bantuan,” tandas Esi. (yop)

Komentar

Berita lainnya POLITIK

To Top