Nyeri Lutut pada Lansia: Osteoartritis atau Asam Urat? | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Nyeri Lutut pada Lansia: Osteoartritis atau Asam Urat?


dr. Jordan Sugiarto. (FOTO: DOK. Pribadi)

OPINI

Nyeri Lutut pada Lansia: Osteoartritis atau Asam Urat?


Oleh: dr. Jordan Sugiarto *)

HARI begitu cerah saat itu, tepatnya di hari Sabtu jam 8 pagi. Puskesmas tempat penulis berdinas di awal tahun 2019 silam, yang terletak di Kota Kupang, sudah ramai dikunjungi. Kegiatan senam merupakan kegiatan rutin yang dilakukan pada hari Sabtu pagi di puskesmas tersebut.

Orang-orang yang mengikuti senam terdiri dari usia remaja, dewasa, dan lansia. Seusai kegiatan senam, kegiatan yang dilakukan berikutnya adalah PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis).

Berdasarkan BPJS Kesehatan, kegiatan PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dalam rangka pemeliharaan kesehatan pada pasien yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Dua penyakit kronis yang paling disorot pada program ini adalah Diabetes Mellitus tipe II, yang biasa dikenal dengan kencing manis, dan hipertensi, yang biasa dikenal dengan tekanan darah tinggi. Namun, seiring berjalannya program tersebut secara rutin, penulis meninjau ada satu keluhan yang dialami oleh cukup banyak pasien yang berobat. Keluhan tersebut adalah nyeri lutut. Hal inilah yang akan dijelaskan lebih rinci pada tulisan ini.

Sesuai ketentuan WHO (World Health Organization), kategori lanjut usia memiliki batasan usia antara 65-74 tahun. Saat memasuki usia lanjut, kekuatan tubuh seseorang tentunya berbeda dibandingkan dengan orang lain yang berusia di bawahnya.

“Dokter, lutut saya sakit. Apakah saya terkena asam urat, dok?” tanya seorang wanita usia 67 tahun yang datang berobat di kegiatan PROLANIS saat itu. Sebelum menjawab, penulis memberikan pertanyaan seperti bagaimana tipikal rasa sakitnya, apakah lutut terasa kaku pada pagi hari, adakah riwayat trauma pada bagian yang nyeri, makanan apa yang dikonsumi setiap hari, dan beberapa pertanyaan lainnya. Kemudian penulis melakukan pemeriksaan fisik pada lutut pasien tersebut; terdengar bunyi “kretek-kretek” dan terasa nyeri saat digerakan.

Pada pemeriksaan kadar asam urat dalam darah di laboratorium, hasil menunjukan kadar asam urat 5,4 mg% atau yang berarti masih dalam batas normal. Penulis pun menjelaskan kepada pasien tersebut bahwa bukan asam urat yang menyebabkan nyeri pada lututnya. Kemungkinan yang paling besar menjadi penyebab nyeri lutut pasien adalah osteoartritis, yang merupakan salah satu jenis peradangan sendi yang paling sering terjadi. Karena keterbatasan alat pemeriksaan di puskesmas, penulis memberikan obat penghilang rasa nyeri dan beberapa obat lain kepada pasien tersebut dan meminta pasien untuk berobat kembali setelah satu minggu untuk menentukan tindakan lain yang harus dilakukan, seperti merujuk pasien kepada dokter spesialis ortopedi atau penyakit dalam.

Penyakit asam urat dan osteoartritis memiliki perbedaan penyebab dan pengobatan, walaupun keduanya sama-sama merupakan penyakit radang sendi yang ditandai dengan nyeri pada lutut. Wawancara klinis yang tepat, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk mengetahui secara pasti diagnosa dari nyeri lutut pada pasien.

Osteoartritis adalah jenis peradangan sendi yang paling sering terjadi. Osteoartritis merupakan penyakit kronis yang belum diketahui secara pasti penyebabnya, ditandai dengan kehilangan tulang rawan sendi secara bertahap. Terdapat dua kelompok osteoartritis, yaitu primer dan sekunder. Osteoartritis primer disebabkan faktor genetik, yaitu adanya tulang rawan sendi yang tidak normal. Sedangkan osteoartritis sekunder disebabkan oleh peradangan, kelainan metabolik (berhubungan dengan fungsi pada tubuh manusia) dan endokrin, trauma, dan kurangnya aktivitas yang terlalu lama. Pasien dengan osteoartritis dapat ditangani oleh dokter spesialis ortopedi di rumah sakit.

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi wawancara klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah foto Rontgen pada bagian persendian yang dicurigai osteoartritis. Dari foto Rontgen, dapat dinilai derajat keparahan dari osteoartritis. Pengobatan yang diberikan akan disesuaikan oleh dokter spesialis ortopedi berdasarkan hasil pemeriksaan secara menyeluruh, baik dengan pengobatan atau dengan tindakan operatif (pada osteoartritis derajat tertentu).

Gambar 1. Sendi lutut dalam kondisi normal. Terdapat jarak antara tulang di atas dan di bawah, yang dilapisi oleh tulang rawan sendi. (ISTIMEWA)

Jenis radang sendi lainnya yang dapat menyebabkan nyeri lutut adalah Gout, atau yang biasa dikenal dengan istilah asam urat oleh masyarakat luas. Gout ditandai dengan tingginya kadar asam urat di dalam darah. Pasien dengan asam urat dapat ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit. Sama seperti osteoartritis, pemeriksaan yang dilakukan pada pasien yang dicurigai terkena asam urat/Gout meliputi wawancara klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan laboratorium sederhana yang membedakan asam urat dengan osteoartritis selain perbedaan gambaran pada foto Rontgen adalah pada pemeriksaan kadar asam urat dalam darah.

Gambar 2. Sendi lutut yang mengalami osteoartritis. Terlihat celah sendi menyempit dan tulang rawan sendi hampir hancur seluruhnya. (ISTIMEWA)

Berdasarkan Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (KOPAPDI) tahun 2018, kadar asam urat dalam darah di atas 7 mg% pada laki-laki dan 6 mg% pada perempuan dipergunakan sebagai batasan Gout. Pada rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap, pemeriksaan (kultur) cairan sendi dapat dilakukan juga untuk menentukan penyebab dari nyeri sendi yang dialami pasien. Pada pasien yang didiagnosa Gout, dokter akan memberikan pengobatan yang bertujuan untuk meredakan rasa nyeri dan menurunkan kadar asam urat dalam darah.

Pasien yang memiliki BPJS Kesehatan, jika mengalami nyeri lutut, dapat berobat ke fasilitas kesehatan tingkat I sesuai dengan yang tertera di kartu BPJS. Pemeriksaan awal akan dilakukan oleh dokter umum untuk menentukan kemungkinan penyebab nyeri lutut yang dirasakan oleh pasien.

Beberapa fasilitas kesehatan tingkat I, seperti puskesmas & klinik, memiliki fasilitas pemeriksaan kadar asam urat dalam darah. Ketika pemeriksaan secara menyeluruh sudah dilakukan, dokter umum akan menentukan apakah pasien ini mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan tingkat I saja atau harus dirujuk ke rumah sakit kepada dokter spesialis ortopedi atau penyakit dalam untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih lengkap dan penatalaksanaan yang lebih menyeluruh.

Penulis berharap dengan adanya informasi yang diberikan melalui tulisan ini mengenai gambaran umum singkat antara osteoartritis dan asam urat, masyarakat dengan usia lanjut dapat mengetahui lebih banyak tentang nyeri lutut yang dirasakan dan meningkatkan kesadaran akan perlunya pengobatan/tindakan medis untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari yang lebih baik. Walaupun memiliki beberapa gejala klinis yang cenderung sama, osteoartritis dan asam urat merupakan dua penyakit yang berbeda dari segi penyebab dan pengobatannya.

Pada hakekatnya, hidup secara sehat merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap individu. Tetap jalani pola hidup sehat, seperti makan makanan yang bergizi, beraktivitas fisik secara teratur, dan tidur yang cukup. Niscaya kesehatan jasmani tetap terjaga. (*)

*) Dokter Umum di RSU Siloam Kupang

Komentar

Berita lainnya OPINI

Populer

To Top