Jaringan Internet Terbatas, Pendidikan Sistem Daring di TTS Tak Efektif | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jaringan Internet Terbatas, Pendidikan Sistem Daring di TTS Tak Efektif


GURU SABAR. Inilah salah satu contoh pelaksanaan pendidikan di rumah warga. Aktifitasnya dilakukan salah seorang guru di SDI Se'i 2, Kecamatan Kolbano. Guru dan murid taat protokol kesehatan dengan memakai masker. (FOTO: ISTIMEWA)

PENDIDIKAN

Jaringan Internet Terbatas, Pendidikan Sistem Daring di TTS Tak Efektif


Dinas P & K TTS Maksimalkan Pola Guru Kunjungi Murid di Rumah

SOE, TIMEXKUPANG.com-Kembalinya Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ke zona merah pandemi Covid-19, menyusul adanya tiga kasus baru positif korona, membuat Pemerintah setempat kembali meningkatkan pengawasan. Salah satunya adalah menginstruksikan masyarakat agar menghindari aktifitas yang melibatkan orang banyak.

Tak cuma itu, dunia pendidikan pun ikut terimbas dengan adanya kasus baru itu. Ketika munculnya kasus baru di TTS, Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan TTS kembali menerapkan sistem pembelajaran secara daring atau belajar jarak jauh.

Pola pembelajaran secara daring di TTS ini terpaksa dilakukan demi mencegah adanya penyebaran virus korona di lingkungan pendidikan. Dikatakan terpaksa karena harus diakui bahwa pola pembelajaran secara daring di TTS kurang efektif. Pasalnya tidak semua anak-anak di TTS memiliki handphone atau smartphone berbasis android. Kendala lainnya, wilayah TTS belum seluruhnya dijangkau jaringan internet.

“Agar para siswa di TTS tidak ketinggalan pelajaran, maka sebagian sekolah melaksanakan pendidikan dengan cara guru mengunjungi siswa di rumah masing-masing, dan memberikan tugas sekaligus bembingan singkat,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTS, Edison Sipa saat dijumpai Timor Express di ruang kerjanya, Rabu (23/9).

Edison mengatakan, sebagian kecil sekolah di TTS memang menerapkan sistem pendidikan secara daring, namun sebagian besar masih menerapkan pola guru mempersiapkan soal dan menyerahkan kepada murid di rumah masing-masing. Karena masyarakat di TTS tinggal berkelompok dalam satu lingkungan atau wilayah, maka kebanyakan guru membagi pelaksanaan pendidikan perzona sesuai dengan jumlah siswa.

“Jadi guru bagi perzona untuk mengunjungi siswa. Guru tidak hanya serahkan tugas, tapi bimbing anak-anak di rumah-rumah warga atau ada juga yang melakukan bimbingan di alam terbuka,” beber Edison.

Penerapan sistem pembelajaran daring atau kunjungan guru ke rumah siswa ini, kata Edison menindaklanjuti instruksi Bupati TTS terkait pandemi Covid-19, dimana TTS kembali ke zona merah, sehingga selama 14 hari ke depan, mulai 18 September hingga 3 Oktober mendatang tidak melakukan kegiatan yang melibatkan orang banyak.

“Kalau 14 hari ke depan TTS kembali menjadi zona hijau, maka pelaksanaan pendidikan dengan cara tatap muka antara siswa dan guru di sekolah bisa dilaksanakan kembali. Tapi nanti kita lihat perkembangan ke depan seperti apa,” katanya.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD TTS, Marthen Tualaka menyarankan agar Dinas P dan K TTS terus mendorong pelaksanaan pendidikan secara daring. Namun karena tidak semua siswa di TTS memiliki handphone android, maka ia meminta agar guru-guru melaksanakan pendidikan dengan cara mengunjungi siswa seperti yang telah dilaksanakan saat ini.

Meski demikian, kata Marthen, Dinas P dan K TTS agar mengontrol betul penerapan pola pelaksanaan pendidikan dengan cara guru mengunjungi siswa, agar dapat berjalan efektif. Pasalnya wilayah Kab TTS sangat luas sehingga bisa saja para guru yang berada di pelosok, tidak melaksanakan pola pendidikan demikian. “Dinas harus kontrol betul, sehingga para guru benar-benar mengunjungi siswa, sehingga siswa tidak ketinggalan pelajaran,” tegas Marthen.

Marhten juga meminta agar para guru bekerjasama dengan para orang tua murid sehingga orang tua juga berperan aktif membina siswa di rumah.
Pasalnya, kata Marthen, jika orang tua tidak berperan aktif maka anak-anak akan menghabiskan waktu untuk bermain atau melakukan kegiatan lain yang tidak bermanfaat.

“Saya harap para guru kerja sama dengan orang siswa, sehingga orang tua siswa yang menjadi guru di rumah selama masa pandemi ini,” saran Marthen. (yop)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top