DPR Sahkan APBN 2021, Target Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

DPR Sahkan APBN 2021, Target Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen


SEPAKAT. Ketua DPR Puan Maharani (kiri) didampingi Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel menerima dokumen pemerintah dari Menkeu Sri Mulyani (kanan) di kompleks parlemen, Senayan, Selasa (29/9). (FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS)

NASIONAL

DPR Sahkan APBN 2021, Target Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Pandemi Covid-19 membuat ekonomi nasional diliputi ketidakpastian. Meski demikian, pemerintah tetap mematok target pertumbuhan yang tinggi. Dalam APBN 2021, pertumbuhan ekonomi bisa berada di level lima persen.

Target pertumbuhan ekonomi itu telah disetujui DPR dan pemerintah yang diwakili Kementerian Keuangan. ’’Kita proyeksikan di kisaran lima persen dan tentu ini suatu pemulihan yang harus diupayakan dan jaga melalui berbagai kebijakan, termasuk APBN,’’ ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melalui virtual conference di Jakarta kemarin (29/9).

Ani –sapaannya– mengakui bahwa dinamika ekonomi 2021 masih diwarnai ketidakpastian. Namun, ada beberapa faktor yang diyakininya menjadi sentimen positif agar ekonomi bisa tumbuh di level lima persen.

Pertama, penanganan Covid-19 yang berjalan baik tahun ini maupun tahun depan. Hal itu tentu harus didukung dengan kedisiplinan protokol kesehatan yang amat penting dalam penanganan pandemi.

Kedua, ketersediaan vaksin. Ani menyebutkan, ketersediaan vaksin Covid-19 membuat ketidakpastian yang kini masih tinggi bisa berkurang. Hal itu tentu memengaruhi swing dari pemulihan ekonomi. ’’Kalau bisa dapat vaksin dan vaksinasi cukup luas, kita mampu akselerasi pemulihan ekonomi juga,’’ imbuh mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu.

Namun, Ani menekankan bahwa risiko ketidakpastian ekonomi tetap harus dimitigasi dengan baik. Dengan begitu, dampak negatif yang ditimbulkan pandemi bisa diminimalkan.

Ketiga, pemerintah tetap berkomitmen menjaga kesinambungan demand and supply. Dari sisi demand, bantuan sosial akan tetap disalurkan. Terutama untuk masyarakat ekonomi bawah yang jumlahnya mencapai 40 persen.

Sementara itu, dari sisi supply, pemerintah akan tetap memberikan berbagai dukungan insentif pajak, bantuan kredit, dan penjaminan mulai UMKM hingga korporasi.

’’Dengan demikian, bantuan kredit dan penempatan dana diharapkan akselerasi dan jadi stimulus katalis bagi permintaan terhadap kredit modal kerja dan investasi. Ini hal yang diharapkan terjadi dan terakselerasi melalui intervensi pemerintah,’’ tutur Ani.

BACA JUGA: Tembus Rp 2.750 Triliun, Ini 8 Prioritas Belanja Negara Tahun Depan

BACA JUGA: Penerimaan Pajak Diproyeksikan Naik Tipis, jadi Rp 1.229,6 Triliun

Terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memandang, target pertumbuhan yang dipatok tahun depan terlampau tinggi. ’’Jauh dari realistis. Karena ada hal, yakni inkonsistensi pada apa yang terjadi saat ini dengan apa yang diinginkan ke depan,’’ ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Tauhid mengingatkan pada statement pemerintah yang sebelumnya mengakui bahwa Indonesia masuk fase resesi. Namun, penetapan target pertumbuhan ekonomi 2021 yang mencapai 5 persen dilakukan sebelum pemerintah mengakui kondisi resesi itu.

Semestinya pemerintah merevisi target. ’’Karena kan perkiraan (2021) itu sudah jauh dari apa yang terjadi di 2020 dalam outlook-nya. Kalau di 2020 saja rendah, harusnya (target) 2021 dikoreksi,’’ imbuhnya.

Dia menjelaskan, Indonesia saat ini masih menghadapi peningkatan kasus positif Covid-19 yang tinggi. Indonesia tak sendirian. Ada Filipina yang mengalami hal serupa.

Tauhid menambahkan, jika hanya mengandalkan vaksin, pemulihan ekonomi akan berjalan lebih lama. Sebab, meski belum ada vaksin pun, negara-negara lain mampu menekan pandemi lebih baik daripada Indonesia.

Dia menilai, target ideal pertumbuhan ekonomi pada 2021 berkisar 3,5 persen. Pemerintah diimbau lebih realistis mematok target pertumbuhan. Sebab, hal itu berpengaruh terhadap banyak pihak yang membuat perencanaan bisnisnya tahun depan.

’’Itu dengan melihat kapasitas maksimum kita (untuk naik) dari kondisi negatif (saat ini) ke arah positif. Di 2020 saja akan negatif. Kalau misal total pertumbuhan (2020) ada di -1 atau nol koma sekian, itu akan berpengaruh pada pencapaian 2021. Jadi, agak berat kalau tumbuh 5 persen,’’ tuturnya. (dee/c19/oni/jpg)

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top