DPRD Temukan Proyek Irigasi tidak Sesuai Spesifikasi, Kabid Gusti: Kami Suruh Bongkar | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

DPRD Temukan Proyek Irigasi tidak Sesuai Spesifikasi, Kabid Gusti: Kami Suruh Bongkar


TAK SESUAI SPESIFIKASI. Wakil Ketua DPRD Matim, Dami Damu bersama sejumlah anggota saat monitoring proyek rehabilitas irigasi Wae Lempang II Desa Golo Wune, Kecamatan Poco Ranaka, Matim. Proyek ini diduga gunakan material tak sesuai spesifikasi. (FOTO: ISTIMEWA)

KABAR FLOBAMORATA

DPRD Temukan Proyek Irigasi tidak Sesuai Spesifikasi, Kabid Gusti: Kami Suruh Bongkar


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi Wae Lepang II di Desa Golo Wune, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), diduga tidak sesuai perencanaan awal atau spesifikasi. Proyek itupun diragukan kualitasnya.

“Saat saya dan teman anggota DPRD melakukan monitoring, ditemukan proyek rehabilitasi jaringan irigasi Wae Lepang II, yang diduga kuat tidak sesuai spesifikasi. Material batu dan pasir tidak layak digunakan untuk proyek ini,” ujar Wakil Ketua DPRD Matim, Dami Damu, kepada TIMEXKUPANG.com, Senin (5/10).

Menurut Damu, dirinya bersama teman DPRD sempat menguji kualitas dari meterial batu yang ada dengan cara membenturkan ke tanah. Terbukti batunya mudah pecah. Juga temukan material pasir bercampur tanah. Dimana material itu diambil dari sekitar lokasi proyek. Mestinya sesuai perencanaan, menggunakan pasir dari Wae Reno.

“Informasi dari warga sekitar dan tukang yang kerja proyek ini, pasir itu bukan dari Wae Reno. Pantas modelnya lain dan campur lagi. Batu juga begitu, kualitasnya jelek. Material ini tidak pernah dipakai oleh warga untuk bangun rumah dan proyek fisik Dana Desa. Tapi proyek ini saja yang menggunakannya,” katanya.

Masih menurut Damu, selain mengecek material, mereka juga memeriksa kualitas pengerjaan proyek tersebut. Dimana pada sejumlah titik yang direhab, mereka temukan campuran pasir dan semen yang langsung dicor di atas permukaan tanah. Pekerja dari pelaksana proyek ini, tidak membersihkan dan menggali dasar dari bagian irigasi, sebelum pembetonan.

Wakil rakyat asal Dapil Poco Ranaka ini juga mengaku, dalam kegiatan monitoring itu, mereka telah mendokumentasikan semua temuan di lokasi proyek. Pihaknya juga sempat memberi teguran kepada pengawas lapangan dan staf dari kontraktor pelaksana. Pengawas terkesan membiarkan kontraktor untuk menggunakan material yang ada.

“Kami kecewa dengan pengawas yang ada di lokasi, tetapi membiarkan kontraktor menggunakan material yang tidak berkualitas dan mengerjakan proyek itu secara asal-asalan. Kami menilai pengawas lapangan proyek ini tidak tegas dan seperti tidak memahami konstruksi pekerjaan itu. Material tidak masuk kriteria, tapi dibiarkan,” sesal Damu.

Damu mengaku sudah menginformasikan hal itu ke Dinas PU dan mendesak dinas tersebut untuk segera turun ke lokasi, melihat langsung kondisi proyek tersebut. Agar secepatnya diambil langkah tegas, agar kejadian tidak berlanjut dan berdampak pada kerugian yang lebih besar. Masyarakat sekitar juga, khusus pemanfaat dari proyek itu, diminta ikut mengawasi.

“Saya juga minta kontraktor harus memperhatikan kualitas dan tidak boleh main-main dalam mengerjakan proyek. Jangan hanya kejar untung, lalu abaikan kualitas. Khususnya material. Kalau penggunaan material tidak sesuai dengan yang tercatat di perencanaan, itu masuk temuan. Karena dalam RAB-nya sudah dihitung semuanya,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR Matim, Yos Marto, melalui Kepala Bidang (Kabid) Irigasi, Agustinus Hasan, yang dikonfirmasi TIMEXKUPANG.com pertelepon kemarin (5/10) menjelaskan, proyek rehabilitasi jaringan irigasi Wae Lepang II itu, dikerjakan CV Darnia Indah. Nilai kontrak sekira Rp 500 juta. Kontraknya pun sudah berlangsung sejak 3 September 2020.

Sesui perencanaan, material pasir untuk proyek ini, harus dari Wae Reno, Desa Golo Lobos, Kecamatan Poco Ranaka. Terkait material yang ditemukan DPRD Matim di lokasi proyek rehabilitasi jaringan irigasi Wae Lepang II, menurut Hasan pihaknya telah memerintahkan kontraktor untuk tidak boleh gunakan lagi, karena tidak sesuai spesifikasi.

“PPK dan PPTK sudah turun ke lokasi. Untuk material yang tidak sesuai spesifikasi, tidak boleh dipakai lagi. Kontraktor juga sudah ganti dan angkut pasir dari Wae Reno. Termasuk material batu. Jadi bangunan yang sudah terlanjur mengunakan material tidak sesuai spesifikasi itu, kami sudah suruh bongkar,” kata Hasan. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top