Polres Rote Ndao Ungkap Kasus Pembunuhan Warga Pantai Baru, Begini Motifnya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Polres Rote Ndao Ungkap Kasus Pembunuhan Warga Pantai Baru, Begini Motifnya


BERI KETERANGAN. Kapolres Rote Ndao, AKBP Felli Hermanto (depan, kiri) memberi keterangan pers sambil menunjukan beberapa barang bukti kasus dugaan pembunuhan warga Tungganamo, di Makopolres Rote Ndao, Kamis (8/10). (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Polres Rote Ndao Ungkap Kasus Pembunuhan Warga Pantai Baru, Begini Motifnya


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Kepolisian Resor (Polres) Rote Ndao, akhirnya mengungkap kasus dugaan pembunuhan seorang warga Pantai Baru yang terjadi pada Kamis (24/9) lalu. Dugaan pembunuhan itu berujung hilangnya nyawa Melkias Patola alias Peu, 57.

Kapolres Rote Ndao, AKBP Felli Hermanto, S.IK, M.Si, saat memberi keterangan pers di Mako Polres, Kamis (8/10) menjelaskan, yang menjadi terduga pelaku dalam kasus pembunuhan ini adalah Alexander Bullan alias Alex, 67.

Kapolres Felli menjelaskan, jejadian itu bermula ketika Alex hendak memotong rumput di kompleks persawahan Konakadik yang berlokasi di Desa Tungganamo, Kecamatan Pantai Baru. Dalam perjalananya, pelaku mendapati korban yang sementara memberi makan hewan/ternaknya.

Dengan posisi yang membelakangi, korban tak menyadari kalau pelaku sedang mendekatinya dari arah belakang. Pelaku pun langsung manfaatkan kesempatan itu untuk membunuhnya.

Korban kemudian dipukul dengan sebatang kayu persis di leher. Sehingga dari hantaman itu, korban langsung tersungkur dan jatuh hingga tak sadarkan diri.

Beberapa hantaman dengan kayu, masih saja dilakukan pelaku, disaat korban sudah terjatuh. Tindakan itu dilakukanya untuk memastikan korban benar-benar sudah meninggal dunia.

Setelah dendamnya tercapai, korban langsung diseret ke dalam kebun cabe Lifusalani, dengan maksud menyembunyikan jejak kejinya. Dimana korban diposisikan seolah sedang berbaring di atas ‘dego-dego’ (tempat tidur darurat) yang lazim digunakan petani untuk sekedar melepas lelah di dalam kebun.

Sekira pukul 18.00 wita, korban pertama kali ditemukan oleh Orianus Afengo. Orianus menyangka korban sedang tidur. Orianus pun berniat untuk membangunkan korban.

Tapi sayang, korban saat itu sudah tidak bernyawa lagi. Sehingga Orianus langsung memberitahukan kepada istri dan juga tetangga korban lainnya.

Kapolres Felli mengatakan, tindakan dugaan pembunuhan tersebut memang sudah diniatkan sebelumnya oleh pelaku. Motifnya dendam pribadi yang dipendam. Pelaku tega menghabisi nyawa korban yang merupakan tetangganya sendiri.

“Pelaku menghabisi nyawa korban karena dendam pribadi. Sementara mereka sama-sama warga Desa Tungganamo, yang tinggal bertetangga,” jelas Kapolres Felli Hermanto.

Dendam tersebut mulai timbul hanya gegera rerumputan untuk makanan ternak. Dimana pelaku sempat dilarang korban untuk mengambil rumput yang diklaim adalah miliknya.

Karena dilarang, keduanya terlibat dalam sebuah pertengkaran. Dari pertengkaran itulah pelaku merasa sakit hati karena dibilang ‘orang miskin’ oleh korban.

“Mereka bertengkar sekitar bulan Juli lalu. Dan pelaku merasa tersinggung kemudian timbul sakit hati dari ucapan “orang miskin” dari korban,” kata Kapolres Felli.

Dari hasil pemeriksaan melalui visum et repertum terhadap korban, lanjut Kapolres, terdapat luka lecet geser pada kelopak mata kanan, hidung bagian bawah, bahu kiri dan kanan. Begitu pula bagian punggung, dan pinggang bagian kanan.

Dari tindakan yang telah dilakukan, pelaku dijerat dengan pasal 338 KUHP sub pasal 354 ayat (2) KUHP lebih subs pasal 351 ayat (3) dengan ancaman hukuman pidana paling lama 15 tahun.

Sementara pelaku sendiri sudah diamankan polisi pada Rabu (7/10) melalui surat perintah penangkapan dengan nomor: SP Kap/16/X/2020/Reskrim. Yang sebelumnya dilapor dan diterima sebagai laporan Polisi nomor: LP/18/IX/2020/Sek Panbar/Res Rote Ndao tertanggal 24 September 2020, tentang tindak pidana pembunuhan.

Selain pelaku, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban. Diantaranya, sebilah parang panjang berukuran sekitar 43cm, dua pelepah lontar, begitu juga sebatang kayu yang digunakan untuk memukul korban.

“Kasus ini kami ungkap setelah 12 hari penyelidikan oleh jajaran Sat Reskrim Polres Rote Ndao dan Polsek Pantai Baru,” kata Kapolres Felli. (mg32)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top