Sikapi Penolakan UU Ciptaker, Ini 7 Sikap Forum Rektor Indonesia | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sikapi Penolakan UU Ciptaker, Ini 7 Sikap Forum Rektor Indonesia


ILUSTRASI. Perwakilan organisasi kemahasiswaan di Kupang saat berdialog dengan Ketua DPRD NTT, Ir. Emelia J. Nomleni terkait aksi demonstrasi menolak UU Omnibus Law Ciptaker di kantor DPRD NTT, Jumat (9/10). (FOTO: ISTIMEWA)

NASIONAL

Sikapi Penolakan UU Ciptaker, Ini 7 Sikap Forum Rektor Indonesia


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Forum Rektor Indonesia (FRI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait pengesahan RUU Cipta Kerja. Ada tujuh poin yang ditegaskan FRI dan ditandatangani Ketua Prof. Dr. Arif Satria dan Wakil Ketua, Dr. HM Nasrullah Yusuf, SE., MBA.

“Bisa dipahami lahirnya RUU Cipta Kerja karena dorongan investasi untuk penyediaan lapangan kerja dapat menjadi solusi atas masalah bertambahnya angkatan kerja baru sekitar 2,5 juta orang per tahun dan adanya sekitar 5 juta pengangguran baru. Upaya mendorong investasi ini perlu diikuti dengan penyederhanaan perizinan,” tutur Prof Arif dalam pernyataan sikap FRI tertanggal 10 Oktober 2020.

RUU Cipta Kerja ini juga diperlukan untuk penguatan dan kepastian hukum, dan menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif sambil tetap menjaga keberlanjutan lingkungan hidup, perlindungan rakyat, dan kedaulatan bangsa dalam berbagai aspek.

Persoalannya, kata Arif, jumlah peraturan perundangan yang diintegrasikan menjadi satu RUU Cipta Kerja cukup banyak sehingga menimbulkan kompleksitas tersendiri, baik dari segi substansi maupun dari segi hukum.

Seyogyanya, upaya tersebut dilaksanakan dengan lebih hati-hati dengan memperluas partisipasi publik, melibatkan lebih banyak ahli, dan dilakukan dalam waktu yang tepat.

“Hal ini sangat penting untuk menghindari salah pengertian terhadap tujuan dan substansi RUU tersebut, sekaligus menghindari adanya kecurigaan yang berujung pada penolakan-penolakan,” ujarnya.

Namun demikian, ternyata pengesahan RUU Cipta Kerja oleh DPR RI dilakukan lebih cepat dari dugaan banyak pihak, di saat masih tajamnya perbedaan pendapat di kalangan masyarakat dan suasana pandemi Covid-19. Akibatnya berbagai aksi penolakan pengesahan RUU Cipta Kerja bermunculan. (esy/jpnn)

Pernyataan sikap FRI terhadap Pengesahan RUU Cipta Kerja:

1. FRI menyayangkan adanya sebagian aksi unjuk rasa yang anarkis yang telah mengganggu ketertiban masyarakat dan merusak fasilitas umum. Pada prinsipnya FRI memandang bahwa aksi unjuk rasa untuk menyalurkan aspirasi adalah hak setiap warga negara yang dilindungi Undang-Undang, namun tetap harus mematuhi ketentuan yang berlaku.

2. FRI memandang bahwa perbedaan pendapat dalam era demokrasi adalah hal yang biasa. Selanjutnya, terkait perbedaan pendapat dalam merespons UU Cipta Kerja diharapkan dapat diselesaikan melalui saluran-saluran yang konstitusional. FRI juga mengimbau semua pihak yang berbeda pendapat agar dapat menahan diri dan mengedepankan dialog secara jernih untuk mendapatkan solusi.

3. FRI mengharapkan pemerintah dan DPR RI selalu membuka diri untuk menampung aspirasi dan masukan-masukan kritis dari berbagai pihak yang sama-sama bergerak atas dasar rasa cinta kepada bangsa Indonesia.

4. FRI akan memberikan masukan kepada pemerintah dan DPR RI setelah mencermati dan menyisir UU Cipta Kerja versi final, khususnya hal-hal krusial yang menjadi perhatian masyarakat. Sehingga pemerintah dapat mengambil langkah-langkah solusi alternatif yang dimungkinkan secara hukum.

5. FRI berharap bahwa proses pengesahan RUU Cipta Kerja yang menimbulkan gejolak ini dapat menjadi bahan pelajaran untuk semua bahwa kita harus terus memperkuat modal sosial berupa rasa saling percaya seluruh komponen bangsa

6. FRI mengajak para akademisi dan mahasiswa untuk selalu peduli dengan persoalan bangsa dengan senantiasa mengedepankan gerakan intelektual berdasarkan akal sehat, pemahaman yang utuh, dan kajian kritis-obyektif.
7. FRI mengimbau kepada para pimpinan perguruan tinggi dan civitas akademika untuk selalu menjaga kondusifitas kampus agar kegiatan akademik dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik, khususnya di masa pandemi Covid-19 ini.

Demikianlah pernyataan Forum Rektor Indonesia. Semoga kita semua senantiasa menjaga keutuhan untuk bersama-sama mewujudkan kemajuan bangsa.

Bogor, 10 Oktober 2020

Prof. Dr. Arif Satria                              Dr. HM Nasrullah Yusuf, SE, MBA
Ketua                                                                     Wakil Ketua

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

Populer

To Top