KONI NTT Hening Cipta untuk Edu Nabunome, Jenazah Dimakamkan di TTS | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

KONI NTT Hening Cipta untuk Edu Nabunome, Jenazah Dimakamkan di TTS


RAPAT KONI. Ketua Umum KONI NTT, Andre W. Koreh didampingi Sekum KONI, Umbu Saga Anakaka (kiri) dan Staf Khusus KONI, Mikhael Fernandez (kanan) saat rapat pengurus KONI dan pengurus cabor di Nembrala Room, Hotel Pelangi, Selasa (13/10) petang. Sebelum memulai rapat, Ketum KONI NTT memimpin hening cipta untuk mengenang dan mendoakan Edu Nabunome, legenda atletik Indonesia. (FOTO: ISTIMEWA)

SPORT

KONI NTT Hening Cipta untuk Edu Nabunome, Jenazah Dimakamkan di TTS


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi NTT, Andre W. Koreh bersama pengurus dan pengurus cabang olahraga anggota KONI melakukan hening cipta selama tiga menit sebagai bentuk penghormatan terhadap mantan pelari nasional asal NTT, Eduardus Nabunome yang meninggal dunia pada Senin (12/10) pukul 21.20 WIB di RS Medistra Jakarta.

Hening cipta untuk mengenang jasa-jasa legenda atletik Indonesia, khususnya NTT itu berlangsung diawal rapat pengurus KONI NTT dan pengurus cabang olahraga anggota KONI bertempat di Nembrala Room, Hotel Pelangi Kupang, petang kemarin (13/10).

Ketua KONI NTT, Andre Koreh mengatakan, Edu Nabunome telah mengharumkan nama NTT di pentas nasional dan juga untuk Indonesia dikancah internasional lewat aksi-aksinya di lintasan atletik jarak menangah dan jauh.

“Bagaimana pun almarhum sudah membuat kita NTT bangga dengan capaian prestasinya. Karena itu saya ajak kita sekalian untuk melakukan hening cipta sejenak untuk mengenang jasa-jasa dan mendoakan almarhum, khususnya keluarga yang ditinggalkan agar mendapat penguatan dari Tuhan,” ungkap Andre saat memimpin hening cipta itu.

Sekretaris Pengrov PASI NTT, Eduard Setty mengatakan, Edu Nabunome adalah mantan pelari nasional yang sudah mengharumkan nama NTT di pentas nasional dan internasional.

Prestasi Edu Nabunome, kata Edu Setty makin berkibar ketika ia sukses mendulang tiga medali emas bagi kontingen NTT pada PON 1996 di Jakarta. Atas prestasinya kala itu, kata Edu Setty, Gubernur Herman Musakabe menghadiahi Edu Nabunome dua unit rumah di perumahan BTN Kolhua dan bonus uang senilai Rp 150 juta.

Sayangnya saat itu, karena sudah bekerja sebagai pegawai PT. Jasa Marga di Jakarta, Edu Nabunome tidak menerima tawaran diangkat sebagai pegawai negeri (ASN) seperti petinju Hermensen Ballo, atlet kempo Melky Blegur, atlet jalan cepat, Tersiana Riwu Rohi, dan pelari Anton Fallo.

Empat tahun kemudian, pada PON 2000 di Surabaya, Jawa Timur, Edu Nabunome tidak lagi memperkuat kontingen NTT namun membela kontingen DKI Jakarta lantaran saat itu ia telah tercatat sebagai warga DKI Jakarta.

Meski demikian, mantan pelari nasional asal Pene Selatan, TTS yang meninggal akibat serangan jantung tersebut telah mencatatkan sejumlah rekor nasional yang belum terpecahkan hingga saat ini.

Dimakamkan di TTS

Edu Setty menambahkan, berdasarkan informasi yang ia terima dari Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) NTT, bahwa Edu Nabunome atas keinginan keluarga akan memakamkan almarhum di kampungnya di TTS.

“Ibu Kadispora (Hilda Bria Seran, Red) tadi malam (13/10) menelpon saya menyampaikan bahwa keluarga meminta agar jenazah almarhum Edu Nabunome dimakamkan di kampungnya di TTS. Keluarga juga meminta melalui Ibu Gubernur (Julie Sutrisno Laiskodat, Red) agar almarhum mendapatkan penghargaan dari Pemerintah NTT,” ungkap Edu Setty.

Untuk diketahui, berdasarkan informasi yang diperoleh, hari ini jenazah almarhum Edu Nabunome diterbangkan dari Jakarta ke Kupang dan selanjutnya dibawa ke kampung halamannya di TTS.

Rekor Prestasi

Hingga akhir hayatnya, Edu Nabunome tercatat sebagai pelatih Pelatda PASI DKI Jakarta sejak September 2020 lalu. “Sebagai pelatih memang beliau belum lama, namun memiliki dedikasi yang baik,” ucap Ketua Umum PASI DKI Jakarta, Mustara Musa, sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (14/10).

Edu mengembuskan nafas terakhir pada usia 52 tahun. Tahun 2017 silam, Edu Nabunome juga pernah dirawat di rumah sakit karena terkena serangan jantung dan asam lambung akut.

Eduardus Nabunome mengukir prestasi gemilang di kancah olahraga atletik, khususnya nomor lari. Tidak hanya di level nasional, Edo juga mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang regional atau internasional.
Edu masih menjadi pemegang rekor nasional lari maraton dengan catatan waktu 2 jam 19 menit yang belum terpecahkan lagi hingga saat ini. Catatan itu dibuat Edo pada pada 12 September 1996 di ajang PON XIII/1996 yang berlangsung di Jakarta.

Edu juga masih memegang rekor lari 10 km (jalan raya) dengan waktu 29 menit 25 detik Rekor tersebut dibuatnya di ajang Bali 10K di Denpasar pada 20 Oktober 1989.

Selain itu, Edu juga merupakan atlet dengan catatan hattrick medali emas nomor lari 10.000 meter putra SEA Games tahun 1987, 1989, dan 1991.

Di nomor lari 5.000 meter putra, Edu mengoleksi medali emas di ajang SEA Games 1987 dan 1989. Juga lari maraton di SEA Games 1997. Saat itu, atlet kelahiran Pene Utara, TTS, 12 April 1968 ini juga mengoleksi sejumlah rekor nasional lainnya.

Beberapa rekor nasional yang masih dipegang Edu Nabunome antara lain: rekor lari 10 ribu meter jalan raya, rekor nasional junior lari 10 ribu meter trek 30 menit 6 detik, rekor PON lari 5 ribu meter, dan rekor SEA Games Maraton.

Di ajang SEA Games, Edu Nabunome tiga kali membawa pulang medali emas untuk Indonesia pada nomor lari 10.000 meter putra, yakni edisi 1987, 1989, dan 1991, serta menghentikan dominasi pelari Malaysia, Subramaniam.

Data Peraih Emas Indonesia Eduardus Nabunome juga peraih medali emas untuk nomor lari 5.000 meter di SEA Games 1997 dan 1999.

Di pesta olahraga terbesar Asia Tenggara itu pula, Edu menjadi yang terbaik untuk cabang lari maraton SEA Games 1997 dengan meraih medali emas untuk Indonesia, sekaligus mematahkan dominasi pelari Filipina, Hector Bagio. (aln)

Komentar

Berita lainnya SPORT

To Top