Saling Serang Antarwarga di Besipae, Ester Selan: Kami Aman di Hutan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Saling Serang Antarwarga di Besipae, Ester Selan: Kami Aman di Hutan


BONGKAR. Warga Desa Polo membongkar rumah darurat dan juga tenda terpal yang dibangun warga Besipae untuk bertahan di lokasi Besipae usai bentrokan siang tadi (15/10). (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Saling Serang Antarwarga di Besipae, Ester Selan: Kami Aman di Hutan


SOE, TIMEXKUPANG.com-Aksi saling serang kembali terjadi di lokasi konflik Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kamis (15/10). Jika kemarin (14/10) aksi saling serang melibatkan warga Besipae yang selama ini berjuang mempertahankan lahan dengan aparat Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT, hari ini kejadiannya justru melibatkan warga setempat. Yakni warga Besipae dan warga Desa Polo, Kecamatan Amanuban Selatan.

Efraim Bantaika yang menyaksikan langsung aksi saling serang bahkan menjadi korban penganiayaan, kepada wartawan media ini mengurai kronologis kejadian tersebut.

Menurutnya, kejadian tersebut bermula ketika warga yang selama ini bermukim di lokasi Besipae yakni Daud Selan, Ester Selan, dan juga Imanuel Tampani serta beberapa warga lainnya ke lokasi instalasi sekitar pukul 11:30 Wita. Saat tiba di lokasi itu, terdapat tokoh masyarakat atas nama Esau Nabuasa.

Saat itu, kata Efraim, massa yang adalah masyarakat yang selama ini menduduki lokasi Besipae memukuli Esau Nabuasa. Melihat aksi itu, Efraim mengaku menginformasikan kejadian yang dialami tokoh masyarakat Esau Nabuasa ke keluarganya di Desa Pollo.

Mendengar informasi itu, keluarga dan warga Desa Polo yang tidak terima dengan perlakuan tersebut datang ke Besipae lalu melakukan penyerangan balik. “Waktu itu memang ada TNI di lokasi, tapi TNI kewalahan mengamankan warga yang mengamuk, sehingga pada akhirnya warga Besipae kabur ke dalam hutan. Kami minta untuk aparat keamanan cari dan proses hukum mereka yang melakukan penyerangan terhadap tokoh adat, pegawai peternakan, dan pekerja yang ada di lokasi Besipae,” tutur Efraim.

Dandim 1621/TTS Letkol CZI Koerniawan Pramulyo, mengatakan ketika mendapat informasi terkait kejadian itu, ia dan sejumlah anggota bergegas ke lokasi.

Akibat saling serang, sejumlah warga mengalami luka. Diantaranya Alex Nabuasa yang adalah salah satu anak dari Esau Nabuasa mengalami luka gigitan pada bagian perut. Korban juga mengalami beberapa luka pada bagian tubuhnya, karena digebuk warga menggunakan kayu. Akibat luka yang dialami, korban dan tokoh masyarakat Esau Nabuasa berencana untuk mendatangi Gubernur NTT.

“Karena tidak terima tokoh masyarakat dipukuli, sehingga warga ngamuk dan merusaki rumah darurat serta tenda yang selama ini dibangun oleh warga Besipae untuk menduduki lokasi Besipae,” tutur Koerniawan.

BACA JUGA: DPRD NTT Menolak Penggunaan Cara Kekerasan di Besipae

BACA JUGA: Sat Pol PP dan Warga Bentrok di Besipae, Pemprov Lapor Penganiayaan

Akibat saling serang antarwarga itu, warga Besipae yang selama ini bertahan di tenda-tenda dan juga rumah darurat yang dibangun, kabur ke dalam hutan dan hingga saat ini lokasi tampak aman dan kondusif.

Dandim mengimbau agar warga tidak saling menyerang antara satu dengan lainnya, atau main hakim sendiri. Jika terjadi perbuatan melawan hukum dapat dilaporkan ke pihak penegak hukum untuk diproses sesuai aturan yang berlaku. Karena warga saling serang, untuk sementara waktu baik TNI maupun Polri akan menempatkan anggota untuk memantau situasi keamanan di sana agar tidak terjadi konflik horisontal susulan. “Anggota TNI dan Polri akan kita siagakan supaya tidak terjadi konflik horisontal antar warga lagi,” ucap Koerniawan.

Ester Selan, salah satu warga Besipae ketika dihubungi media ini melalui sambungan telefon membantah jika pihaknya melakukan penganiayaan terhadap Esau Nabuasa.

Ester mengatakan, saat itu, pihaknya ke lokasi aktifitas guna meminta para pekerja yang saat itu tengah beraktifitas untuk menghentikan aktifitas mereka sementara waktu sambil menunggu penyelesaian persoalan yang masih dalam perjuangan ini. Khususnya perjuangan agar Pemprov NTT menunjuk batas-batas wilayah yang merupakan milik pemerintah.

Menjawab pertanyaan media ini terkait tudingan pihaknya memukuli tokoh masyarakat Esau Nabuasa, menurut Ester, hal itu tidak benar.

Menurut Ester, saat itu pihaknya hanya meminta Esau Nabuasa untuk meninggalkan lokasi. “Itu orang tua kami dan tidak mungkin kami pukul. Saya sendiri yang ajak baik-baik Bapak Esau untuk jangan ada di lokasi. Saya tarik baik-baik Bapak Esau untuk keluar dari lokasi itu,” terang Ester.

Saat ini lanjut Ester, ia dan sejumlah masyarakat yang selama ini mendiami lokasi Besipae berada di dalam hutan, dan ia tidak bersedia menyebutkan lokasi persembunyian mereka. Hanya dia memastikan jika ia dan warga Besipae lainnya dalam keadaan aman. “Kami hanya minta pihak keamanan amankan Bapak kami (Yonatan Selan, Red) saja yang sudah tua. Sedangkan kami dalam keadaan aman,” katanya. (yop)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top