Kajari Apresiasi Pengembalian Kerugian Negara Terpidana PPI Tulandale | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kajari Apresiasi Pengembalian Kerugian Negara Terpidana PPI Tulandale


SERAHKAN. Istri dari terpidana Arie Huma, Adolfina Uy saat foto bersama Plt. Kajari, Agustinus Ba'ka dan jajaran usai menyerahkan uang pengganti kerugian negara dalam kasus PPI Tulandale di kantor Kejari Rote Ndao, Rabu (14/10). (FOTO: Istimewa)

PERISTIWA/CRIME

Kajari Apresiasi Pengembalian Kerugian Negara Terpidana PPI Tulandale


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Pelaksana tugas (Plt) Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Rote Ndao, Agustinus Ba’ka, SH, MH, mengapresiasi pengembalian kerugian negara pada pekerjaan perpanjangan break water Penangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tulandale, tahun 2010 silam. Proyek Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rote Ndao tersebut menyeret Arie I. Huma, karena lalai dalam melaksanakan tanggungjawabnya.

Pengembalian kerugian negara tersebut diserahkan langsung pihak keluarga terpidana, yaitu Adolfina Uy (istri) bersama anaknya di kantor Kejari Rote Ndao, Rabu (14/10).

Kerugian keuangan negara yang dikembalikan berupa Uang Pengganti (UP), berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2245L/Pid.Sus/2015 tanggal 19 November 2015, sebesar Rp 196.494.865 melalui Kejari Rote Ndao.

“Kami sangat mengapresiasi tindakan ini. Yang sebelumnya tidak pernah diduga,” kata Plt. Kajari Rote Ndao, Agustinus Ba’ka saat dikonfirmasi Timor Express di ruang kerjanya, Kamis (15/10).

Agus yang saat itu didampingi Kepala Seksi Perdata & TUN Mart Mahendra Sebayang, menyebutkan, tindakan yang dilakukan keluarga terpidana layak dianut karena kesalahan yang pernah diperbuat sudah dipertanggungjawabkan.

Dengan pengambilan kerugian negara yang sudah diterima, Agus mengaku pihaknya langsung melaporkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, dan Kejati pun memberi apresiasi yang sama.

“Kami langsung laporkan ke Pak Kajati, beliau sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas langkah dari keluarga terpidana,” kata Agus.

Menurut Agus, dari pengembalian kerugian negara tersebut, membuktikan bahwa lembaga kejaksaan perlahan-lahan merubah persepsi menakutkan yang sudah terpola di masyarakat. Karena pada prinsipnya, Kejaksaan kata Agus, perlu berinovasi untuk mengedukasi masyarakat dalam penegakkan hukum dengan tidak membangun ketakukan untuk sadar hukum. “Kami terus mengedukasi dengan cara humanis agar bisa dipercaya masyarakat,” ujar Agus.

Untuk diketahui, Arie I. Huma didakwa melanggar primair pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 Undang-Undang nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, dakwaan subsidiar Pasal 3 jo pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) KUHP.

Dari pengembalian uang pengganti tersebut, kata Agus, terpidana hanya menjalankan pidana pokok yang sudah dijalaninya, sedangkan hukuman subsider selama dua tahun kurungan (penjara) tidak lagi dijalani. (mg32)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top