Polisi Dinilai Lamban Usut Kematian Putu Wisang, Ini Permintaan Keluarga | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Polisi Dinilai Lamban Usut Kematian Putu Wisang, Ini Permintaan Keluarga


AUTOPSI. Tim dari Satreskrim Polres TTU bersama Keluarga dan warga saat membongkar makam Edita Dorotea Putu Wisang untuk kepentingan autopsi beberapa waktu lalu. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Polisi Dinilai Lamban Usut Kematian Putu Wisang, Ini Permintaan Keluarga


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Penyidik Satreskrim Polres TTU dinilai lamban dalam mengungkap kasus kematian almarhumah Edita Doratea Putu Wisang yang diduga kuat meninggal dunia dengan tidak wajar.

Pihak keluarga terpaksa melakukan penilaian ini lantaran pasca dilakukan autopsi, yang mana hasilnya sudah diketahui pihak aparat, namun kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Belum ada kejelasan secara hukum hingga kini.

Selain hasil otopsi, sejumlah saksi dan alat bukti menyebutkan bahwa Debrito Kefi, Warga Desa Tes, Kecamatan Bikomi Utara, TTU diduga kuat sebagai dalang di balik kematian korban. Korban diduga meninggal karena aborsi.

Kuasa Hukum korban, Magnus Kobesi kepada Timor Express, Jumat (16/10) mengatakan, penyidik Satreskrim Polres TTU dinilai sangat lamban dalam menangani kasus dugaan aborsi yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Padahal, sejumlah saksi dan alat bukti telah mengarah kepada siapa pelaku dan dalang dari kematian korban. Namun pihak Kepolisian hingga kini belum meningkatkan status kasus tersebut.

“Seharusnya sudah ada tersangka dalam kasus ini karena alat bukti, terutama keterangan medis dan keterangan sejumlah saksi sudah mengarah kepada siapa pelakunya. Namun kami menilai Polisi tidak serius menangani kasus ini,” kata Magnus Kobesi.

BACA JUGA: Kematian Putu Wisang Diduga Tak Wajar, Keluarga Polisikan Debrito Kefi

Magnus menambahkan, sesuai salinan hasil autopsi yang telah diterima keluarga, menyebutkan bahwa korban meninggal karena diduga aborsi. Sedangkan untuk hasil tes DNA sesuai keterangan dari tim medis tidak diketahui.

“Penyidik harus periksa dokter yang melakukan pemeriksaan DNA karena hasilnya tidak diketahui. Kalau hasil autopsi sudah diterima pihak keluarga,” beber Magnus.

Atas keterlambatannya penanganan hukum terhadap kasus tersebut, Magnus Kobesi menyatakan bahwa pihak keluarga mendesak aparat kepolisian untuk bekerja profesional dalam mengungkap misteri kematian korban secara jelas dan tuntas.

“Polisi harus bekerja profesional dalam mengungkap kasus ini. Toh, saksi dan alat bukti sudah mendukung, namun kenapa masih berjalan di tempat?” tanya Magnus Kobesi.

Terpisah Kasat Reskrim Polres TTU, AKP. Sujud Alif Yulamlam, ketika dikonfirmasi Timor Ekspres melalui telepon seluler, Jumat (16/10) mengatakan, pihaknya telah menerima hasil autopsi dari dokter forensik Mabes Polri, yakni Kombes Pol. Dr. Sumy Hastri, SpF.

Menyinggung terkait perkembangan penanganan kasus, Sujud mengatakan, saat ini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan meskipun penyidik telah mengantongi hasil autopsinya.

“Kasus ini sementara dalam lidik, kita sudah periksa sejumlah saksi dan kita sudah kantongi hasil autopsi,” kata Sujud. (mg26)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top