Polisi-TNI Lakukan Pengamanan Terbuka di Besipae, Ini Penjelasan Kapolres dan Dandim TTS | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Polisi-TNI Lakukan Pengamanan Terbuka di Besipae, Ini Penjelasan Kapolres dan Dandim TTS


ILUSTRASI. Kapolda NTT, Irjen Pol Lotharia Latif saat berdialog dengan warga Besipae dalam kunjungannya, Jumat (16/10). (FOTO: YOPI TAPENU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Polisi-TNI Lakukan Pengamanan Terbuka di Besipae, Ini Penjelasan Kapolres dan Dandim TTS


SOE, TIMEXKUPANG.com-Demi mengamankan warga agar tak ada aksi bentrok lanjutan di Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), institusi TNI dan Polri menempatkan anggotanya di wilayah bentrok itu.

Aparat Polres TTS dan Kodim 1621/TTS diterjunkan ke Besipau untuk melakukan pengamanan terbuka dan terpadu di sana. “Hal itu dilakukan demi mengantisipasi saling serang susulan antarwarga,” kata Kapolres TTS, AKBP Ariasandy di SoE, Minggu (18/10). Meski demikian, Ariasany memastikan jika kondisi di Besipae hingga saat ini masih aman dan terkendali.

Ariasandy menyebutkan, penempatan personil ini guna mencegah agar konflik horizontal tidak kembali terjadi antarwarga lima desa di sana, terutama terhadap 37 Kepala Keluarga (KK) yang menempati Hutan Pubabu di Besipae. Selain aparat Polri dan TNI, ikut juga anggota Sat Pol PP Provinsi NTT.

Polres TTS, kata Ariasandy menerjunkan sebanyak 20 anggota, sementara dari unsur TNI sebanyak 50 anggota Kodim 1621/TTS.

Menurutnya, pihak keamanan, secara bergantian melakukan pengamanan dengan berjaga 1 x 24 jam di Besipae. Selain itu, Forkopimcam Amanuban Selatan, membantu pihak pengamanan di sana dengan cara melakukan penggalangan dukungan dari para tokoh adat dan tokoh masyarakat, khususnya keluarga Nabuasa selaku penguasa tanah ulayat di Besipae, agar menahan diri sehingga tidak terjadi konflik susulan.

Di Besipae juga saat ini sudah dibangun pos pengamanan bersama untuk memastikan kondisi Besipae tetap kondusif. “Keluarga besar Nabuasa selaku penguasa tanah ulayat di Amanuban Selatan termasuk Besipae, tidak terima dengan pemukulan yang dilakukan warga Pubabu terhadap Esaul Nabuasa yang notabenenya merupakan garis keturunan Usif dan tokoh adat di sana. Jadi, kita dekati Keluarga besar Nabuasa untuk bisa menahan diri agar tidak lagi terjadi aksi penyerangan kepada 37 KK yang mendiami wilayah hutan Pubabu di Besipae,” terang Ariasandy.

Warga di lima desa, yakni Desa Polo, Linamnutu, Mio, Enoneten, dan Oe’ekam telah melakukan resistensi (penolakan) terhadap 37 KK yang selama ini mendiami kawasan hutan Pubabu. Warga lima desa secara tegas melakukan penolakan terhadap 37 KK yang berkonflik dengan Pemprov NTT di kawasan Besipae, karena tidak terima jika usifnya dianiaya.

“Masyarakat lima desa yang berada di Besipae sendiri sudah menolak keberadaan ke-37 KK yang menyebut diri masyarakat adat Pubabu. Warga menghendaki mereka agar keluar dari kawasan Besipae. Sikap ini diambil warga lima desa di sana karena masyarakat yang selama ini tinggal di Pubabu sampai pemukulan terhadap Bapak Esau Nabuasa yang adalah keturunan Usif dan tokoh adat di wilayah Amanuban Selatan,” beber Ariasandy.

Ariasandy ketika ditanya soal laporan polisi yang diterima pihaknya berkaitan dengan insiden di Besipae menuturkan, hingga saat ini pihaknya menerima dua laporan dugaan penganiyaan dari pegawai Pemprov NTT. Sedangkan laporan dugaan penganiyaan terhadap warga Pubabu dilaporkan ke Polda NTT. Laporan yang diterima pihaknya, sedang dalam diproses penyelidikan.

Sementara terkait korban luka-luka akibat insiden itu, ia mengatakan dua korban luka-luka dari pegawai Pemprov NTT dan satu korban luka dari warga Pubabu. Namun pihaknya masih mendata kembali korban luka dari warga Pubabu.

Pasalnya sebagian warga Pubabu masih bersembunyi di hutan pasca insiden penyerangan oleh desa tetangga tersebut. “Semua laporan pasti kita tindaklanjuti dan sekarang sedang berproses. Untuk korban luka-luka masih kita data, karena sebagian warga Pubabu masih bersembunyi di hutan karena ketakutan akan ada aksi penyerangan susulan. Namun bisa saya pastikan saat ini kondisi Besipae aman dan kondusif,” tegas Ariasandy.

Dandim 1621/TTS Letkol CZI Koerniawan Pramulyo mengatakan, saat ini gejolak di Besipae menjadi perhatian pihak keamanan, karena beberapa hari terakhir terjadi aksi saling serang antarwarga. Maka dari itu, pihaknya menyiagakan anggota untuk melakukan pengamanan di sana. Karena pihak kemanan saat ini melakukan pengamanan 1×24 jam di sana, sehingga hingga saat ini kondisi kemanan di sana aman dan kondisif.

Meski demikian, pihaknya terus melakukan pengamanan hingga benar-benar keaadaan di sana normal seperti biasanya dan program yang dilaksanakan pemerintah berjalan dengan baik. “Kami tempat anggota di sana agar mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” tutur Koerniawan.

Koerniawan juga menghimbau kepada warga masyarakat di sana, baik itu keluarga usif Nabuasa dan juga masyarakat di lima desa yang tidak terima, jika usif dianiaya untuk menahan diri agar tidak melakukan serangan terhadap warga yang berdiam di Pubabu. Kasus penganiayaan yang dilakukan, dipercayakan ke pihak keamanan untuk diproses sesuai dengan aturan yang berlaku. Sementara persoalan pelanggaran adat, diselesaikan secara adat sehingga kondisi keamanan di sana aman seperti sedia kala.

“Saya harap keluarga dari Usif Nabuasa dan masyarakat tahan diri. Serahkan proses pemukulan ke pihak keamanan untuk urus, sedangkan persoalan pelanggaran adat, biar diselesaikan secara adat,” tandas Koerniawan. (yop)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top