Sambangi Kampung Budaya Rote Ndao, Ketua Bhayangkari NTT: Wah Keren Ya… | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sambangi Kampung Budaya Rote Ndao, Ketua Bhayangkari NTT: Wah Keren Ya…


TERPIKAT. Ketua Bhayangkari Daerah NTT, Ny. Eviyanti Nurhayati (tengah) didampingi Ny. Youke Kliment (kiri) saat berbincang dengan salah satu penenun di Kampung Ndao, Sabtu (17/10). Ny. Eviyanti terpikat hasil karya para penenun. (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Sambangi Kampung Budaya Rote Ndao, Ketua Bhayangkari NTT: Wah Keren Ya…


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Ketua Bhayangkari Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Eviyanti Nurhayati menyambangi salah satu kampung budaya di Kabupaten Rote Ndao. Kampung budaya itu oleh masyarakat setempat lebih popuer dengan sebutan ‘Sebelah Kali atau Kampung Ndao’.

Dalam kunjungan itu, Ny. Eviyanti didampingi Ny. Youke Kliment, Wakil Ketua Bhayangkari Daerah NTT, Ny. Ecie Felli Hermanto, Ketua Bhayangkari Cabang Rote Ndao, beserta pengurus/anggota Bhayangkari lainnya. Mereka menyambangi kampung budaya itu usai kunjungan kerja ke Bhayangkari Cabang Polres Rote Ndao, Sabtu (17/10).

Kampung yang disambangi itu, merupakan salah satu pusat kerajinan daerah, dan sangat cocok dikunjungi untuk sekadar melihat atau membeli cindera mata, sewaktu berkunjung ke Rote Ndao.

Beragam motif tenunan dipajang dengan berbagai ukuran yang variatif. Kecil, untuk salempang, dan ada pula yang berukuran besar. Semuanya dihasilkan bermotif Rote Ndao, yang kebanyakan berwarna hitam.

Selain tenunan, di kampung tersebut juga bisa diperoleh aksesories adat. Untuk pria, mulai dari topi Ti’i Langga, Habas dan juga ‘tondas’ (tas kecil dari anyaman). Sedangkan untuk wanita, Bula Molik, Habas, Pending dan Gelang. Harganya pun bervariasi.

Tak hanya berupa kain, tenunan yang dihasilkan juga sudah dibuatkan dalam bentuk pakaian jadi. Kemeja, rok, dan celana, tinggal dipilih sesuai selera.

Selain itu, dengan adanya modis yang terus berkembang, kini tenunan yang dihasilkan tak lagi monoton berbentuk kain dan baju. Mulai dari tas tangan, tas samping yang berukuan kecil bahkan dompet, dibuat mengikuti tren masa kini.

“Wah ini keren ya, berapa hari menghasilkan satu lembar kain tenunan ini bu?” tanya Ny. Eviyanti Nurhayati kepada salah satu penenun.

Ina Sereh, salah satu penenun mengatakan, dibutuhkan waktu seminggu untuk menghasilkan satu lembar tenunan berukuran besar. Karena untuk menghasilkanya, beberapa tahap harus dilakukan.

Selain untuk ukuran besar, Ina juga mengatakan biasanya menerima pesanan konsumen. Tak menentu pesanan yang diterima, karena penenun masih mengandalkan pasar lokal.

“Paling lama satu minggu, karena ada proses pembuatanya. Ada yang pesan juga, tapi paling banyak dijual di Rote,” kata Ina Sereh, saat dikonfirmasi Timor Express, di sela-sela melakukan aktifitas menenun di Kampung Ndao, Sabtu (17/10).

Di beberapa tempat, Ny. Eviyanti terus melihat lihat karya tenunan. Ada yang sementara melakukan proses awal menenun, ada pula yang sudah hampir selesai. Ny. Eviyanti pun seolah terhipnotis menyaksikan aktifitas yang dilakukan penenun yang berjejer.

“Tetap semangat ya ibu-ibu. Tapi jangan lupa jaga kesehatan, apalagi lupa makan,” pesan Ny. Eviyanti Nurhayati.

Beberapa lembar kain tenun yang dirasa memikat, langsung dibeli. Semuanya itu adalah kain tenun berbentuk kain sarung/tenunan berukuran besar. Begitu juga dengan Ny. Youke Kliment. Karena tenunan Rote Ndao memang memiliki daya pikat tersendiri.

Berada di Kampung Ndao, serasa berada diantara dua masa yang berbeda. Filosofi yang diwakilkan motif dari kreaktifitas tangan pengrajin, menceritakan kedua masa itu berpadu menjadi sebuah hasil karya yang kontemporer.

Sedangkan dari penamaan kampung sebelah kali/kampung Ndao, terlanjur familiar karena permukiman yang letaknya di pesisir itu dipisahkan oleh sebuah kali, dan didominasi oleh penduduk dari Pulau Ndao.

Dengan banyaknya warga dari Pulau Ndao yang mendiami perkampungan tersebut, semua aktifitas keseharian yang dilakoni pun tetap mencerminkan kebiasaanya. Menenun, pandai perak dan melaut adalah kegiatan yang masih terus dilakukan walau tidak berada di Pulau Ndao. (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top