Sejak Januari 2020, Sudah 24 Warga Matim Terserang DBD, 1 Anak Meninggal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sejak Januari 2020, Sudah 24 Warga Matim Terserang DBD, 1 Anak Meninggal


Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Matim, Regina Malon. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Sejak Januari 2020, Sudah 24 Warga Matim Terserang DBD, 1 Anak Meninggal


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Menjelang musim hujan dan di tengah ancaman pandemi virus korona, masyarakat perlu mewaspadai ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) misalnya, saat ini terdapat 24 kasus warga terserang DBD. Dari jumlah itu, seorang anak meninggal dunia.

“Sejak Januari 2020 hingga 19 Oktober 2020, tercatat sebanyak 24 kasus DBD. Satu anak laki-laki yang meninggal awal Maret, merupakan warga Kecamatan Kota Komba berusia 9 tahun,” kata Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Matim, Regina Malon, kepada TIMEXKUPANG.com, Selasa (20/10).

Sementara penderita DBD lainnya, lanjut Regina, sementara menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan di Matim. Termasuk ada yang dirujuk ke RSUD dr. Ben Mboi Ruteng, Kabupaten Manggarai. Penderitanya, dewasa dan anak-anak. Sesuai data dari Puskesmas, tertinggi dari Kecamatan Borong dengan jumlah sebanyak 12 kasus DBD.

Setelah itu Kecamatan Kota Komba (7 kasus), Kecamatan Lamba Leda (4 kasus), dan Kecamatan Rana Mese (1 kasus).

Menurut Regina, tren peningkatan kasus DBD di Matim itu saat datangnya musim hujan. Sehingga hal ini yang perlu diwaspadai oleh semua kalangan masyarakat.

“Salah satu hal yang perlu diwaspadai dari datangnya musim hujan adalah nyamuk, terutama nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini dikenal sebagai pembawa penyakit DBD. Apalagi saat ini di tengah pendemi covid-19. Di Matim, DBD lebih banyak menyerang anak-anak,” katanya.

Regina mengatakan, langkah antisipasi yang sudah dilakukan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas dan Pustu di Matim, yakni mengimbau seluruh masyarakat untuk waspada terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan, seperti DBD. Karena biasanya, saat musim hujan tiba, munculnya potensi penyakit DBD dan malaria.

“Teman-teman yang ada di Puskesmas dan Pustu, sebelum memberi pelayanan pasien atau saat posyandu, harus beri penyuluhan terkait penyakit DBD dan malaria. Sehingga, masyarakat bisa lebih sadar untuk terus melakukan tindakan pembersihan lingkungan dengan baik. Termasuk, kami juga surati pemerintah desa untuk mengingatkan masyarakat,” kata Regina.

Langkah antisipasi lainnya, lanjut Regina, adalah melakukan pembagian abate untuk membunuh kuman yang ada dalam bak penampungan air. Pihaknya juga akan melakukan fogging di wilayah desa yang ada kasus DBD dan malaria. Namun masyarakat tetap diminta untuk memperhatikan kebersihan lingkungan.

”Karena fogging hanya bisa membunuh nyamuk-nyamuk dewasa. Tapi kalau lingkungannya tidak terjaga dengan baik, penyakitnya akan muncul lagi. Memperhatikan kebersihan lingkungan dengan 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur atau membakar benda-benda yang berpotensi menjadi tempat sarang nyamuk sehingga masyarakat bisa bebas dari penyakit,” ujarnya.

Petugas disetiap fasilitas kesehatan juga diminta untuk waspada bila ada masyarakat yang berobat dengan kondisi demam dan gejala lainnya. Tentu perlu dicek kondisinya apakah itu DBD, dan jangan dianggap demam biasa. Bila terjadi deman tinggi dalam kurun waktu tertentu disertai bintik-bintik merah di tubuhnya, dianjurkan untuk melakukan cek darah. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top