Gadis Remaja Lakukan Percobaan Bunuh Diri, Sang Ayah Beber Anaknya Depresi karena Hal Ini | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Gadis Remaja Lakukan Percobaan Bunuh Diri, Sang Ayah Beber Anaknya Depresi karena Hal Ini


DIRAWAT. Helena saat dirawat di RSUD dr. TC. Hillers Maumere, Jumat (23/10). Tampak aparat Polres Sikka. (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Gadis Remaja Lakukan Percobaan Bunuh Diri, Sang Ayah Beber Anaknya Depresi karena Hal Ini


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Diduga terbenani dengan tugas sekolah yang diberikan sekolah secara online, Helena KM, 15, pelajar yang merupakan warga RT 13/RW 04, Dusun Wair Habi, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka ini nekat melakukan percobaan gantung diri menggunakan seutas tali rafia warna hitam, Jumat (23/10) sekitar pukul 18.00 Wita.

Kapolres Sikka, AKBP Sajimin kepada media ini Jumat (23/10) menjelaskan, percobaan gantung diri itu diketahui setelah adik kandung korban Ferdinandus MJ membuka kain pintu kamar kakaknya, dan melihat sang kakak tergantung di dalam kamar dengan tali rafia tertilit di leher.

“Sekitar pukul 18.00 Wita Helena masuk ke kamarnya, lalu beberapa saat kemudian, adiknya Marlius mengikuti kakaknya dan begitu kain pintu kamar disingkap, ia melihat kakaknya sudah tergantung dengan tali rafia terlilit di leher,” ungkap AKBP Sajimin.

Menurut Sajimin, saat melihat kakaknya tergantung, Marlius langsung berteriak minta tolong. Sontak Maria Florida Rona dan ayah kandungnya Albertus langsung masuk ke kamar dan menemukan sang buah hati dalam posisi tergantung.

Dengan cekatan, Albertus berusaha menurunkan anaknya dan langsung di larikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. TC. Hillers Maumere.

Ayah kandung Helena kepada media ini menuturkan kalau beberapa hari terakhir, anaknya sering menyendiri di kamar dengan alasan mengerjakan tugas sekolah. Sang ayah juga menyebutkan anaknya Helena sering jarang makan.

Perubahan perilaku anaknya itu, kata Albertus, berubah semenjak berlakunya sekolah online. Bahkan tiap hari sang anak hanya berada dalam kamar tidurnya.

“Perubahan pada diri anak saya semenjak berlakunya sekolah online di sekolah. Dia sering menyendiri dan jarang makan. Lebih banyak berdiam diri dalam kamar,” beber Albertus.

Albertus juga mengaku anaknya mengalami depresi semenjak adanya tugas tugas yang diberikan dari sekolah secara online. “Helena mengalami depresi saat adanya tugas-tugas sekolah secara online,” tandas Albertus. (Kr5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top