Kenali Tanda-tanda Pre-diabetes dan Risikonya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kenali Tanda-tanda Pre-diabetes dan Risikonya


Dokter di RS Kasih Ibu Saba, Bali, dr. Cecile. (FOTO: Dok. Pribadi)

OPINI

Kenali Tanda-tanda Pre-diabetes dan Risikonya


Oleh: dr. Cecile *)

Banyak orang sudah mengenal penyakit diabetes mellitus atau biasa disebut dengan penyakit kencing manis. Penyakit diabetes mellitus ditandai dengan gejala cepat lapar, cepat haus, sering kencing, lemas, penurunan berat badan, disfungsi ereksi, gatal pada vagina, dan sebagainya serta harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan gula darah yang menunjukkan kadar yang tinggi. Tetapi apakah masyarakat saat ini telah mengenal penyakit pre-diabetes?

Pre-diabetes merupakan suatu keadaan dimana kadar gula darah melebihi kadar yang normal, tetapi tidak cukup tinggi untuk dikatakan sebagai penyakit diabetes. Kelompok pre-diabetes terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok glukosa darah puasa terganggu (GDPT) dan kelompok toleransi glukosa terganggu (TGT).

Seseorang dikatakan mempunyai GDPT jika hasil pemeriksaan gula darah saat puasa (puasa dilakukan selama 8-10 jam) berkisar antara 100 – 125 mg/dL dan dikatakan TGT jika hasil pemeriksaan gula darah 2 jam setelah makan berkisar antara 140 – 199 mg/dL. Diagnosis pre-diabetes juga ditegakkan berdasarkan pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7 – 6,4%.

Orang dengan pre-diabetes mempunyai risiko untuk berkembang menjadi penyakit diabetes mellitus tipe II, stroke, dan penyakit jantung.

Pre-diabetes penting untuk dicegah sebelum menjadi diabetes karena diabetes memiliki berbagai macam komplikasi seperti penyakit jantung, penyakit pembuluh darah, gagal ginjal, kebutaan, kerusakan saraf, luka yang sulit sembuh, depresi dan semua komplikasi tersebut mengurangi kualitas hidup penderita serta dapat menyebabkan kematian. Komplikasi dari diabetes bahkan sudah terjadi di dalam tubuh sebelum pasien merasakan gejalanya.

Menurut Centers of Disease Control & Prevention, sebanyak 1 dari 3 orang dewasa di Amerika Serikat yang saat ini berjumlah 88 juta orang mempunyai pre-diabetes. Yang mengejutkan, 84% penderita pre-diabetes ini tidak menyadari bahwa mereka mempunyai pre-diabetes.

Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 oleh Departemen Kesehatan dan Konsensus Perkumpulan Endrokinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2015 menunjukkan peningkatan prevalensi diabetes menjadi 10,9%, dan angka ini diprediksi akan terus meningkat ke depannya.

Pre-diabetes disebabkan oleh karena sel tubuh tidak berespon terhadap hormon insulin secara normal. Hormon insulin merupakan hormon yang dihasilkan sel pankreas yang berfungsi sebagai kunci agar gula darah dapat masuk ke dalam sel. Pankreas akan mencoba membuat lebih banyak insulin agar sel tubuh mempunyai respon. Tetapi pada kasus ini, pankreas tidak dapat mengimbangi sehingga gula darah meningkat dan menghasilkan pre-diabetes.

Penyakit pre-diabetes tidak mempunyai gejala yang jelas sehingga sering tidak terdeteksi hingga terdapat masalah yang serius. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan kadar gula darah, terutama pada orang yang mempunyai faktor risiko seperti kelebihan berat badan/obesitas, usia di atas 45 tahun, memiliki riwayat penyakit diabetes dalam keluarga, memiliki gaya hidup yang kurang aktif, memiliki hipertensi, penyakit jantung, sindrom polikistik ovarium dan diabetes gestasional (diabetes yang terjadi salam masa kehamilan).

Pencegahan pre-diabetes dapat dilakukan dengan melakukan perubahan gaya hidup seperti melakukan aktivitas regular, menurunkan berat badan, menjaga berat badan ideal, menghentikan kebiasaan merokok, menghentikan konsumsi alkohol dan mengatur pola makan. Aktivitas fisik dilakukan setidaknya 150 menit dalam 1 minggu dengan berjalan atau aktivitas serupa (30 menit dalam sehari, 5 hari dalam seminggu).

Target penurunan berat badan yang diharapkan adalah sebesar 0,5 – 1 kg/ minggu atau 5 – 10% berat badan dalam waktu 6 bulan. Berat badan yang sudah turun juga perlu dijaga agar tetap stabil. Penurunan berat badan akan mengurangi massa lemak, menurunkan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol. Pengaturan pola makan dilakukan dengan cara restriksi kalori, mengkonsumsi lebih banyak karbohidrat kompleks dan diet yang mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat.

Studi Diabetes Prevention Programme (DPP) menunjukkan bahwa intervensi gaya hidup yang intensif dapat menurunkan 58% insidensi diabetes dalam waktu 3 tahun. Perubahan gaya hidup juga dapat sekaligus memperbaiki komponen faktor risiko diabetes dan sindroma metabolik lainnya seperti obesitas, hipertensi, dislipidemia dan hiperglikemia.

Angka kematian juga turut menurun berkat adanya perubahan gaya hidup. Oleh karena itu, penting untuk menjaga gaya hidup sehat sedari dini serta mengonsultasikan diri ke dokter jika Anda memiliki tanda-tanda pre-diabetes sebelum terlambat. (*)

*) Dokter di RS Kasih Ibu Saba, Bali; Pernah bekerja sebagai dokter PTT di RS Karitas Sumba Barat Daya (SBD)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

Populer

To Top