Di Manggarai, Masih Ada Warga di 19 Desa/Kelurahan BAB Sembarangan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Di Manggarai, Masih Ada Warga di 19 Desa/Kelurahan BAB Sembarangan


MONITOR. Tim monitoring saat melihat proses penggalian lubang toilet di salah satu rumah warga di kelurahan Bangka Carep, Sabtu (24/10). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Di Manggarai, Masih Ada Warga di 19 Desa/Kelurahan BAB Sembarangan


Bahkan Ada yang Numpang BAB di Toilet Milik Tetangga

RUTENG, TIMEXKUPANG.com-Yayasan Plan International Indonesia (YPII) wilayah Manggarai melalui tim monitoring masih menemukan adanya warga di kabupaten itu yang belum memiliki jamban sehat sehingga masih melakukan praktik Open Defecation (OD) atau buang air besar (BAB) sembarangan.

Dari 171 desa/kelurahan di Kabupaten Manggarai, ternyata masih ada sebanyak 19 desa/kelurahan yang masih berperilaku OD atau BAB sembarangan, sementara 24 desa/kelurahan mengklaim Open Defecation Free (ODF) atau stop BAB sembarangan.

“Tentu ini menjadi prioritas selama sisa waktu 77 hari ke depan untuk deklarasi Manggarai stop BAB sembarangan,” ungkap Proficial Koordinator Project WfW YPII wilayah Manggarai, Juliani Talan, kepada TIMEXKUPANG.com usai melakukan kegiatan monitoring di Kelurahan Bangka Carep, Sabtu (24/10).

Juliani Talan menjelaskan, kegiatan monitoring yang dilakukan di Kelurahan Bangka Carep itu, merupakan tindak lanjut dari workshop percepatan Open Defecation Free (ODF) atau stop BAB Sembarangan yang dilakukan pada 14 Oktober 2020 lalu.

Saat workshop itu, ada komitmen bersama yang bangun bahwa dalam tahun 2020 ini, Kabupaten Manggarai harus ODF atau Stop BAB sembarangan. Tentu disini upaya-upaya yang dilakukan oleh Pokja AMPL Manggarai, sebagai bentuk pemicuan atau mendorong masyarakat untuk menjawab komitmen Manggarai Stop BAB sembarangan tahun 2020.

“Kita monitoring ke kelurahan dan desa yang masih BAB sembarangan. Karena ada komitmen dari desa dan kelurahan untuk bebas dari BAB sembarangan, dan menuju deklarasi Manggarai stop BAB sembarangan, maka kita lihat sejauh mana proses pembuatan jamban di rumah warga,” ujar Juliani.

Menurut Juliani, pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan.

BACA JUGA: Wujudkan Manggarai Bebas BABS 2022, Ini yang Akan Dilakukan TP PKK

Sementara itu, Lurah Bangka Carep, Kecamatan Langke Rembong, Feliks Bonefasio Magur, di sela-sela kegiatan monitoring program ODF atau Stop BAB sembarangan akhir pekan lalu mengatakan, untuk wilayah kelurahannya, masih ada tujuh kepala keluarga (KK) yang belum memiliki jamban sehat sendiri. Mereka masih menumpang BAB di tetangga.

“Kalau BAB, mereka numpang di toilet tetangga. Tapi sekarang tujuh KK ini sudah mulai membangun toilet mereka,” kata Feliks Bonefasio Magur.

Feliks mengatakan, dalam kegiatan monitoring itu, tim mendatangi rumah tujuh KK dan melihat bangunan toilet yang sementara dikerjakan. Tim monitoring itu terdiri dari Yayasan Plan International Indonesia (YPII), pihak Pemkab Manggarai, Puskesmas Kota, Sanitarian, Dinas Sosial, TNI, dan Polisi.

Sesuai data awal per Juni 2020, kata Feliks, dari 233 KK di wilayah Kelurahan Bangka Carep, ada sebanyak 33 KK yang belum memiliki jamban atau toilet. Sehingga Kelurahan Bangka Carep, masuk dalam kategori desa/kelurahan di Manggarai yang OD alias BAB sembarangan.

“Setelah dipicu berkala, sisa tujuh KK yang saat ini sudah mulai bangun toilet. Mereka juga tidak BAB di hutan, tapi numpang di tetangga. Pastinya sebelum 30 November 2020, semua warga di sini punya toilet dan kelurahan ini siap bebas dari BAB sembarangan atau jadi ODF,” kata Feliks.

Feliks mengaky akan terus memantau proses pengerjaan jamban dari tujuh KK hingga tuntas. “Kloset bagi tujuh KK itu sudah disiapkan oleh pemerintah kelurahan melalui kelompok masyarakat yang telah diberdayakan. Harga per kloset Rp 50 ribu dan uangnya untuk kelompok masyarakat tersebut,” katanya.

Sementara untuk pengecoran lubang toilet, lanjut Feliks, dari Dinas Kesehatan yang menyiapkan instrumen. Untuk sarana air bersih di wilayah itu, tidak ada soal. Selanjutnya di kelurahan itu, akan melaksanakan pilar ke-2 dari program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), yakni mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir.

“Sekarang kami dari kelurahan masih siapkan jerigenya. Nanti kalau wadah jerigen ini sudah ada, di depan setiap rumah warga akan ditempatkan media untuk cuci tangan. Semuanya untuk kesehatan bersama,” pungkas Feliks. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top