Sumpah Pemuda vs Kaum Muda NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sumpah Pemuda vs Kaum Muda NTT


Yohanes Mau (FOTO: Dok. Pribadi)

OPINI

Sumpah Pemuda vs Kaum Muda NTT


(Menelaah Bentrok Antar Warga di Desa Tuapukan, Kabupaten Kupang)

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia”. Penggalan syair karya R. Suharjo mau menegaskan bahwa kesatuan di antara sesama warga majemuk yang terajut hingga kini berawal dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itu.

Selama rentang waktu yang lama dan panjang 92 tahun itu, banyak proses yang terjadi dalam pelbagai bidang kehidupan. Gaung Sumpah Pemuda membahana ke seluruh pelosok Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Gaung suara kaum muda Indonesia 17 tahun sebelum Indonesia merdeka. Gaung ini didengar dan dirasakan oleh masyarakat seluruh Indonesia hingga detik ini. Gema suara para laskar muda kala itu diabadikan hingga kini di ruang-ruang belajar mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Isi Sumpah itu tetap aktual dan kontekstual hingga abadi bahkan hingga tiadanya tanah air Indonesia tercinta ini.

Isinya memang tidak lazim lagi untuk warga Indonesia. Bahkan Anak yang mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar pun tahu dan dalam situasi apa pun pasti mereka akan mendaraskannya dengan suara lantang.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu tanah air Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia.

Pertanyaan gugatan buat pemuda-pemudi Indonesia era kini khususnya NTT; Apakah Spirit dari Sumpa Pemuda ini masih membakar nurani putra-putri Indonesia? Kalau demikian, mengapa masih ada pertikaian dan konflik di antara pemuda yang melakonkan dirinya sebagai kaum intelektual masa depan negara tercinta ini. Sebenarnya semangat kawula muda 92 tahun silam itu membawa kemaslahatan secara utuh dan integral bagi manusia dan penghuni jagat tanah air Indonesia ini.

Meneropong Kasus Bentrok di Tuapukan

Meneropong kasus bentrok antar warga di Desa Tuapukan, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Minggu (4/10/2020). Dikatakan, “ada 14 pelaku yang diduga terlibat dalam kasus bentrok yang berujung kematian seorang warga dan terbakarnya tujuh unit rumah penduduk setempat.” Demikian berita media TIMEXKUPANG.com 4 Oktober 2020.

Ketika membaca berita ini hati menangis dan mulai menggugat, mengapa mesti terjadi bentrok antarwarga hingga mengorbankan nyawa manusia? Apakah mereka ini yang dinamakan sebagai kaum muda dan masa depan bangsa? Kematian akibat bentrokan di Tuapukan Kupang adalah satu bentuk ketidakberfungsian akal budi dari kaum muda yang menamakan dirinya sebagai kawula muda berintelektual. Mereka telah melanggar isi sumpah pemuda yang selalu bersatu dalam segala aspek kehidupan demi menjunjung tinggi harkat dan martabat sebagai manusia Indonesia yang utuh dan integral.

Kematian salah satu warga di Tuapukan akibat bentrokan antarwarga adalah korban akibat tumpulnya nurani kaum muda. Kaum muda tak mampu menggunakan akal budinya secara baik. Dalam tataran ini saya katakan kaum muda salah kapra alias unsur kebinatangan lebih mendominasi.

Ilmu-ilmu yang diperoleh di bangku sekolah tidak mempan. Di sini benar apa yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah binatang yang berakal budi. Namun dilihat dari konteks persoalan ini, maka manusia adalah binatang yang tidak berakal budi. Unsur kebinatangan manusia mendominasi sehingga bertindak sampai menyebabkan hilangnya nyawa manusia. Hal ini yang patut disesalkan dan dihardik keras oleh seluruh elemen masyarakat yang menaruh harapan penuh pada pundak kaum muda sebagai generasi bangsa dan negara.

Menghadapi realita ini, sumpah pemuda yang gaungnya sudah tua 92 tahun pada 28 oktober 2020 ini dicoreng oleh kaum muda yang tidak bertanggungjawab. Ini adalah kegagalan dari pribadi, orang tua, lingkungan, dan lembaga-lembaga pendidikan formal sebagai lumbung pendidikan karakter. Ilmu dan segala nilai-nilai kebajikan yang diperoleh selama di dunia pendidikan luntur dan tak berguna. Pada tataran ini pemuda mesti intropeksi diri agar nilai-nilai kebajikan yang diperoleh selama pendidikan tidaklah sia-sia belaka.

Pemuda NTT sampai kapankah engkau mencoreng isi gaung Sumpah Pemuda kala 92 tahun silam itu? Berbenahlah dan tunjukkanlah kualitasmu kepada tanah air tercinta ini dengan hal-hal positif dan konstruktif. Biarlah spirit Sumpah Pemuda menjiwai dan merasukimu agar tatanan hidup sosial sebagai warga negara tetap stabil. Tidak dilekang oleh apa pun bahkan sekalipun oleh konflik dan persolan yang menggerogoti. Selamat hari Sumpah Pemuda. (*)

*) Misionaris SVD, Tinggal di Harare, Zimbabwe, Afrika

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

Populer

To Top