Laboratorium Biokesmas NTT Siap Lakukan Tes Massal Perdana di Kupang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Laboratorium Biokesmas NTT Siap Lakukan Tes Massal Perdana di Kupang


Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat me-launching Laboratorium Biokesmas NTT untuk tes massal Covid-19 di Klinik Pratama Undana pertengahan Oktober 2020 lalu. Mulai Rabu (4/11), laboratorium ini mulai melakukan tes massal perdana di Kota Kupang. (FOTO: FRANS BORGIAS KOLLO/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Laboratorium Biokesmas NTT Siap Lakukan Tes Massal Perdana di Kupang


Data Hasil Validasi Punya Nilai Akurasi Tinggi

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Harapan masyarakat NTT, khususnya di Kota Kupang untuk melakukan tes massal Covid-19 perdana segera terwujud. Sesuai rencana, mulai Rabu (4/11), Laboratorium Biologi Molekuler Kesehatan Masyarakat (Biokesmas) NTT yang digagas pembangunannya oleh para academia di Forum Academia NTT (FAN) bekerjasama dengan Pemprov NTT dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang memulai aksi mereka melakukan tes massal perdana di Kupang.

Rencana ini bisa diwujudkan setelah data hasil validasi dari Laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Surabaya untuk 42 sample swab yang dikirim oleh Laboratorium Biokesmas NTT ini angkanya mencapai 99 persen akurat. Hasil ini baru diterima Senin (2/11) pagi tadi, dan disampaikan oleh Dr. Fima Inabuy, Ketua Tim Pool Test Laboratorium Biokesmas NTT dalam rapat bersama Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Undana, dan Forum Academia NTT.

Menurut Dr. Inabuy, perbedaan hasil validasi 1 persen terjadi karena ada satu spesimen yang hasilnya berbeda antara swab hari pertama dan swab hari kedua. Sesungguhnya perbedaan ini pun terdeteksi dalam pemeriksaan pool oleh Lab Biokesmas, dimana ada satu sampel yang menunjukkan hasil berbeda di dua hari pengambilan swab.

Dalam proses validasi ini, lanjut Dr. Fima, prinsipnya Lab Biokesmas melakukan pemeriksaan sejumlah sampel dengan metode pooled- qPCR, yang kemudian di-cross-check dengan tes individual– qPCR oleh Laboratorium Biomolekuler RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes dan Laboratorium BBTKL Surabaya.

Berdasarkan nilai akurasi yang tinggi ini, kata Dr. Fima, Lab Biokesmas dapat segera beroperasi. Tes massal perdana akan dilakukan di Kota Kupang, Rabu (4/11) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang.

“Dengan hasil ini, keyakinan kami terbukti, bahwa pool test yang kami lakukan di level surveillance ketika dites secara individual pun hasilnya sama,” kata doktor biomolekuler lulusan Amerika Serikat (AS) ini melalui keterangan tertulis FAN, Senin (2/11).

Dr. Fima mengatakan, berkaitan dengan pelaksanaan pool test, persiapan teknis administrasi perlu dilakukan.  “Kuncinya ada di pengelompokan sampel yang tepat berdasarkan penelusuran epidemiologi (PE) di lapangan, karena itu pengisian form PE secara lengkap akan sangat membantu proses pool-test,” jelas Dr. Fima.

Menurut Dr. Fima, dengan meningkatnya angka transmisi lokal dan angka kematian akibat Covid-19 di Provinsi NTT, maka upaya untuk mempercepat angka tes menjadi syarat mutlak guna mendata penyebaran Covid-19. Apalagi jumlah kasus positif dan angka kematian akibat Covid-19 di NTT terus bertambah di Kota Kupang.

“Hingga tanggal 2 November 2020, total kasus konfirmasi positif Covid-19 di NTT sebanyak 694 orang. Saat ini ada 184 orang yang masih dalam perawatan (27%), sudah 502 orang sembuh (72%), dan 8 meninggal (1,2%),” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) NTT, David Mandala dalam pertemuan bersama Tim Pool Test siang tadi.

BACA JUGA: Resmikan Laboratorium Biokesmas NTT, Ini Pesan Menkes RI

BACA JUGA: Test Swab Massal dan Gratis di NTT

BACA JUGA: FAN Kembali Adakan Pelatihan Laboran Tim Pool Test Labkesmas Covid-19

David menambahkan, selama Oktober 2020, telah terjadi kenaikan kasus dibanding bulan September 2020, dimana total terkonfirmasi positif Covid-19 NTT sebesar 263 kasus. Lebih tinggi 14 kasus dibanding kasus September 2020 sebanyak 249 (Naik 6%).

Dari data yang dikumpulkan Tim Covid-19 Dinas Kesehatan NTT, lanjut David, total kasus yang berasal dari transmisi lokal sebanyak 262 (38%), tertinggi di NTT, diikuti kasus dari klaster “kelompok” sebanyak 251 orang (36%), pelaku perjalanan sebanyak 160 orang (23%), dan klaster lain-lain sebanyak 21 orang (3%).

Persiapan Pool Test

Secara umum persiapan pool test yang dilakukan sejak bulan Mei 2020 kini berbuah hasil. Tim kerja yang solid dengan melibatkan berbagai instansi pemerintah maupun relawan sudah siap beroperasi. Meskipun hingga saat ini tim pool test yang dibentuk dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur NTT sudah bekerja tanpa upah, bahkan seringkali harus mencari dana swadaya untuk tetap terlibat, semangat para laboran maupun anggota tim pool test tak pernah kendor.

“Yang penting kami bisa menyumbangkan tenaga untuk mencegah penyebaran Covid-19 secara meluas, sedangkan urusan upah biarlah itu menjadi pengorbanan kami,” kata Lintang, salah seorang laboran yang sudah bekerja sejak Juni 2020.

Kondisi tanpa dana juga dikeluhkan sejumlah petugas medis yang menangani contact tracing di lapangan, khususnya di Kota Kupang. Para petugas kesehatan mengeluhkan minimnya dukungan untuk mereka ketika melakukan pelacakan orang-orang yang mempunyai kontak erat.

“Seharusnya pemerintah serius memperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan para tenaga kesehatan yang sudah mendedikasikan diri untuk melacak kontak yang positif, dan ini amat terkait dengan tes  massal yang bertujuan memantau dan menjalankan fungsi pengawasan (surveillance),” kata Elcid Li, moderator FAN.

Menurutnya, para pembuat kebijakan, baik di level provinsi maupun kota/kabupaten perlu mengalokasikan dana secara khusus bagi para tenaga kesehatan yang bekerja secara spartan di lapangan untuk melindungi warga.

Elcid berharap agar langkah pengawasan dengan menggunakan metode test massal dapat menjadi langkah strategis untuk memutus rantai penyebaran. “Bagaimana mungkin para petugas penelusuran kontak harus membeli pulsa sendiri, untuk melacak para kontak erat?” tanya Elcid Li.

“Dengan kerja sama semua pihak, kita bisa saling bantu untuk meringankan beban, para warga yang di-identifikasi positif perlu didukung selama masa isolasi, terutama untuk warga yang bekerja di sektor informal atau pekerja dengan upah harian . Kita butuh solidaritas yang kuat agar sistem tes massal bisa berkontribusi untuk pencegahan penyebaran secara maksimal,” papar Elcid.

Menurutnya stigma yang berlebihan terhadap pasien yang positif, tanpa diikuti dengan solidaritas warga akan semakin membuat orang enggan untuk dites, dan penyebaran Covid-19 akan semakin sulit dikontrol. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top