GEMAS Desak Polres SBD Tuntaskan Kasus Dugaan Penganiayaan Mario Nariti | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

GEMAS Desak Polres SBD Tuntaskan Kasus Dugaan Penganiayaan Mario Nariti


DEMO. Aliansi GEMAS saat melakukan aksi solidaritas ke Polres SBD, Selasa (3/11). (FOTO: Frederikus Bulu Ladi/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

GEMAS Desak Polres SBD Tuntaskan Kasus Dugaan Penganiayaan Mario Nariti


TAMBOLAKA, TIMEXKUPANG.com-Elemen masyarakat Sumba Barat Daya (SBD) yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Masyarakat Anti Kekerasan (GEMAS) melakukan aksi solidaritas ke Polres SBD, Selasa (3/11). GEMAS SBD datang untuk menyampaikan aspirasi atas peristiwa dugaan penganiyaan yang dialami Mario Natriti pada 20 Oktober 2020 lalu.

Dipimpin Rofinus Rangga Tenge, Stefanus Rehi Tanggu Bole, Paulinus Alvino, Titus Kurra, dan Agustinus Kaka, massa bergerak melakukan long march dari lapangan Galatama Tambolaka menuju Polres SBD sejak pukul 10.00 Wita. Mereka diterima Kapolres SBD, AKBP Joseph F. Mandangi didampingi Kasat Reskrim Iptu Bambang Irawan, Selasa (3/11).

Koordinator Lapangan (Korlap) Matius Kurra dalam orasinya di hadapan Kapolres mengatakan bahwa aksi aliansi ini sebagai wujud dukungan kepada pihak Polres SBD dalam menuntaskan kasus dugaan penganinyaan yang dialami Mario yang videonya tengah viral dan telah menjadi konsumsi masyarakat luas.

GEMAS, kata Matius, berharap agar pihak Kepolisian transparan ketika menangani dan mengusut kasus kekerasan yang kini telah menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

“Kami menaruh harapan kepada Bapak Kapolres Sumba Barat Daya untuk menuntaskan kasus kemanusiaan ini, kami percaya bahwa Bapak Kapolres bersama unsur staf sangat profesional menangani kasus ini,” ungkap Matius dalam forum audiensi di tengah aksi itu.

“Kami menolak berbagai bentuk kekerasan pada warga masyarakat, khususnya warga masyarakat Sumba Barat Daya. Kami juga mendesak pihak Polri dalam hal ini Polres SBD untuk secepatnya menyidik dan menangkap pelaku-pelaku kekerasan pada saudara Mario Mardi Nariti, dan kami mendorong proses penyelidikan kasus tersebut agar transparan dan tidak ditutup-tutupi,” pintanya.

Kapolres SBD, AKBP Joseph F. Mandangi saat menerima perwakilan demonstran menegaskan bahwa kasus tersebut sudah diproses pihak Kepolisian dengan memanggil beberapa saksi untuk diperiksa.

Kapolres meminta aliansi GEMAS agar sepenuhnya memberi kepercayaan kepada pihak Polisi, bahwa kasus Mario Mardi Natriti tetap akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Kasusnya sudah ditingkatkan ke penyelidikan. Percayakan kepada penegak hukum di Polres SBD. Menyangkut oknum DPRD ada mekanismenya yaitu melakukan izin ke Gubernur NTT. Jangan kuatir, percayakan kepada kami bahwa kasus ini tetap akan kami proses. Kami tidak main-main dengan kasus ini. Kami perlu waktu untuk memanggil anggota DPRD tersebut karena aturannya mininal 30 hari setelah kami bersurat ke Gubernur NTT,” jelas Kapolres SBD.

Terpantau media ini, aksi damai yang dilakukan massa aliansi GEMAS ini berlangsung aman dan tertib karena dikawal oleh anggota Polres SBD. Usai melakukan audiens bersama Kapolres SBD, massa kemudian bertolak menuju ke kantor DPRD SBD guna menyampaikan hal yang sama.

Video Viral

Sebagaimana diketahui, belum lama ini viral sebuah video berdurasi 1:11 detik di jagad maya yang isinya sebuah bentuk penganiayaan terhadap Mario Natriti.

Video ini bermula dari adanya dugaan cinta terlarang yang melibatkan Mario yang diduga membawa seorang anak gadis tanpa izin orang tua meninggalkan Pulau Sumba menuju Kota Surabaya, Jawa Timur menumpang KM Egon pada pertengahan Oktober 2020 lalu.

Gadis berinisial DG ditengarai memilih mengikuti saran Mario untuk kabur lantaran keduanya menjalin hubungan asmara, namun masih memiliki hubungan keluarga dalam satu suku.

Saat meninggalkan Pulau Sumba itu, orang tua DG terpaksa mencari ke mana-mana selama beberapa pekan. Pihak keluarga DG kemudian melaporkan kehilangan anak ke Polsek Loura pada 10 Oktober 2020. Dalam proses pencarian akhirnya keluarga mengetahui bahwa keduanya sudah berada di Kota Mataram, NTB.

Mario dan DG akhirnya dijemput keluarga dan dibawa kembali ke Loura, SBD untuk dilakukan pembinaan oleh keluarga.

Ayah kandung dari gadis DG, RMG mengatakan bahwa hubugan kedua anaknya itu merupakan hubungan terlarang dan tidak mungkin bisa disatukan dalam pernikahan adat.

RMG berharap keduanya bisa saling melepas satu dengan yang lainnya karena hubungan tersebut amat memalukan. Namun setelah video yang berdurasi 1,11 detik itu viral, kedua pihak keluarga kini saling melaporkan ke pihak Polres SBD. Pihak keluarga laki-laki melaporkan peristiwa penganiyaan yang dialami sang anak ke Polres, sedangkan pihak keluarga perempuan melaporkan kasus pemerkosaan. Kini kasus itu tengah berproses di Polres SBD.

Yang membuat pihak keluarga Mario melaporkan dugaan penganiayaan lantaran dalam video itu terekam Mario digantung disebuah dipan/bangku santai di halaman rumah dengan posisi kaki di atas kepala di tanah, dan beberapa orang duduk mengelilingi korban. Mirinya diantara mereka yang duduk mengelilingi Mario yang dalam posisi “terhukum” itu ada oknum anggota DPRD SBD dan oknum anggota TNI.

Inilah yang bagi aliansi GEMAS perlu mengawal dan mendukung aparat Polres SBD agar kasus ini diproses hingga tuntas dengan transparan. (*)

PENULIS: Frederikus Bulu Ladi

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top