Pemerintah Susun Road Map Vaksinasi Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemerintah Susun Road Map Vaksinasi Covid-19


SIMULASI VAKSINASI. Petugas menyiapkan vaksin saat simulasi pemberian vaksin Covid-19 di Puskesmas Tapos, Kamis (22/10/2020). (FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

NASIONAL

Pemerintah Susun Road Map Vaksinasi Covid-19


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Rencana pemerintah membentuk kekebalan komunitas atau herd immunity membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjadjaran (Unpad) Kusnandi Rusmil mengungkapkan, untuk mencapai herd immunity, injeksi vaksin harus dilakukan kepada setidaknya 70 persen dari total komunitas.

”Jadi kebal karena virusnya tidak nyampe. Terhalang oleh orang-orang yang sehat. Jadi, 70 persen divaksin. Sisanya, 30 persen, tidak usah divaksin,” kata Kusnandi kemarin (3/11).

Dia mengakui, mencapai cakupan 70 persen ini tidaklah mudah. Setidaknya dengan kondisi saat ini. Jumlah vaksin terbatas sehingga pemerintah perlu memilih orang-orang tertentu. Pemerintah telah memutuskan bahwa kelompok yang akan divaksin adalah mereka yang sehat dan berusia 18–59 tahun.

Sementara itu, vaksin merah putih yang saat ini juga dikembangkan tidak bisa buru-buru dipakai. Saat ini, kata Kusnandi, uji klinis tahap ketiga menghasilkan 1.650 relawan yang sudah menjalani suntikan tahap kedua. Setelah suntikan ini, para dokter dan periset vaksin memantau kondisi para relawan hingga enam bulan ke depan.

”Laporan (hasil uji klinis tahap III, Red) pertama mungkin Januari 2021. Kemudian, semua selesai pada Maret. Jadi, nggak buru-buru. Kalau Indonesia mau beli vaksin dari luar, silakan. Tapi, vaksin kita belum bisa dipakai,” jelasnya.

Kusnandi menuturkan, terbentuknya herd immunity memerlukan waktu beberapa tahun. Dalam masa tersebut, protokol kesehatan seperti jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan hindari kerumunan tetap perlu dilakukan.

Ahli virologi Universitas Udayana Prof Ngurah Mahardika menyatakan, kemajuan teknologi bisa mempercepat riset vaksin. Misalnya, saat ini tidak perlu lagi ada agen penyakit yang murni. Agen penyakit bisa dibuat sintentis dalam waktu yang cepat. ”Zaman dulu diperlukan waktu lama untuk menemukan bibitnya saja,” ujarnya. Namun, sekarang bibit agen penyakit bisa ditemukan hanya dalam waktu satu sampai dua bulan.

Mahardika lantas menjelaskan ragam vaksin yang dibedakan dari bahan dasarnya. Salah satunya adalah vaksin berbasis virus murni yang dimatikan sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Vaksin jenis itu seperti yang diujicobakan di Indonesia dalam rangka penyiapan vaksin Covid-19. Dia menyebut regulasi untuk vaksin berbasis virus yang dimatikan lebih ringkas.

Dia menegaskan, meski teknologi mampu mengakselerasi penemuan virus, kepastian tingkat keamanan tidak boleh dikesampingkan.

Menurut dia, peneliti dan pengembang vaksin tidak pernah mengompromikan aspek kualitas, daya guna, dan keamanan vaksin.

”Termasuk keamanan vaksin Covid-19 yang nanti hendak ditemukan. Keamanannya harus terjamin,” tuturnya.

Mahardika menjelaskan, setelah beredar di masyarakat, nanti vaksin tetap dimonitor dan terus-menerus diaudit. Tujuannya, memastikan keamanan vaksin yang sudah beredar tersebut.

Menurut dia, Indonesia sangat memungkinkan untuk mengembangkan vaksin Covid-19 secara mandiri. Namun, dia mengingatkan bahwa kerja sama riset vaksin di tengah pandemi seperti sekarang bukanlah hal tabu. Kolaborasi riset vaksin lintas negara bertujuan mendapatkan data yang berkualitas tinggi. ”Tanpa kerja sama, kita mampu. Namun, untuk mencapai kemajuan yang pesat, diperlukan kerja sama antarnegara dan keilmuan dunia,” tuturnya.

Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa rencana vaksinasi Covid-19 sudah hampir matang. Road map telah disusun dan sedang difinalisasi. Itulah yang disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito di kantor presiden kemarin.

Dia mengungkapkan, peta jalan itu meliputi semua hal terkait dengan vaksinasi Covid-19. ”Mencakup kandidat vaksin dan penyusunan tahapan prioritas penerima vaksin,” terangnya.

Penentuan prioritas penerima vaksin, lanjut Wiku, mempertimbangkan beberapa hal. Di antaranya, ketersediaan vaksin, penduduk, wilayah berisiko, serta tahapan dan indeks pemakaian. Peta jalan itu juga mencakup perkiraan skema platform vaksin dan sasaran klaster kelompok. Juga, estimasi kebutuhan dan rencana pemberian vaksin.

Menurut Wiku, peta jalan itu pun memperhatikan ketersediaan rantai dingin alias cold chain untuk menjaga kualitas vaksin. Pertimbangan lainnya adalah kapasitas SDM yang melibatkan beberapa jenis tenaga kesehatan, termasuk vaksinator. Jejaring distribusi vaksin juga telah disusun dengan melibatkan instansi lintas sektor.

Meski begitu, dia mengingatkan bahwa saat ini vaksin belum tersedia. Jadi, masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Mulai memakai masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak. ”Bahkan, meski vaksin sudah ada dan siap, kita pastikan bahwa pemerintah dan masyarakat harus selalu mematuhi protokol kesehatan,” tandasnya. (tau/wan/lyn/byu/c14/oni/jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

Populer

KABAR FLOBAMORATA

Tambah 8 Kasus Baru, Total Positif Covid-19 di NTT Capai 970 Orang

22 November 2020 - 11:06pm

KABAR FLOBAMORATA

Pemkot Larang Semua Perayaan Pesta

23 November 2020 - 11:50am

NASIONAL

Pulau Komodo Tetap ‘Dijual’, Ini Penjelasan Luhut

27 November 2020 - 11:09pm

PERISTIWA/CRIME

Tersangka Pemberi Suap Menteri KKP Calon Besan Ketua MPR

26 November 2020 - 3:35pm

ENTERTAINMENT

Tiga Penyanyi Asal NTT Terbaik di AMI Awards 2020

28 November 2020 - 7:02am

KABAR FLOBAMORATA

Satu Lagi Pasien Covid-19 Meninggal di Kota Kupang

23 November 2020 - 11:59pm

KABAR FLOBAMORATA

Waspada… Covid-19 Mulai Serang Nakes

23 November 2020 - 12:20pm
To Top