Gegara Hal Ini, 5 Jam Petugas Tinggalkan Jasad Pasien Covid-19 di Kuburan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Gegara Hal Ini, 5 Jam Petugas Tinggalkan Jasad Pasien Covid-19 di Kuburan


SEMPAT DIPROTES WARGA. Seorang warga menunjukkan makam pasien Covid-19 di wilayah RT 26/RW 09, Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat yang sempat mendapat protes warga setempat. Tampak APD milik petugas ditinggalkan begitu saja di dekat makam. Gambar diabadikan kemarin (4/11). (FOTO: YOPI TAPENU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Gegara Hal Ini, 5 Jam Petugas Tinggalkan Jasad Pasien Covid-19 di Kuburan


SOE, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Sekatan (TTS), Selasa (3/11) malam memakamkan salah satu pasien Covid-19 warga Kelurahan Cendana, Kecamatan Kota SoE yang meninggal hari itu.

Lokasi pemakaman yang ditunjuk keluarga adalah di lahan milik almarhum di Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat. Hanya saja kegiatan pemakaman pasien Covid-19 itu mendapat protes dari warga setempat. Warga awalnya keberatan karena lokasi pemakaman sangat dekat dengan permukiman warga. Akibat protes warga itu, petugas pemakaman yang hendak memakamkan jasad pasien Covid-19 kabur meninggalkan lokasi pemakaman sebelum jasad pasien dimasukkan ke liang lahat.

Petugas terpaksa memilih kabur dari lokasi lantaran dilempari warga yang tidak terima dengan keputusan memakamkan pasien Covid-19 di wilayah yang sangat dekat dengan permukiman mereka. Warga keberatan karena tak ada informasi sebelumnya.

“Mereka lari kasi tinggal mayat dari sekitar jam 18:00 sampai 23:00 Wita baru mereka kembali untuk masukan dalam lubang dan tutup. Itupun untung warga sudah palang jalan, jadi oto tidak bisa keluar. Kalau tidak petugas kasi tinggal itu jasat dalam peti di lubang kubur sana,” ungkap Marten Faot, warga RT 26/RW 09 Desa Tubuhue yang menyaksikan langsung aksi protes warga setempat saat dijumpai wartawan, kemarin (4/11).

Marten menyebutkan, pemakaman jasad pasien Covid-19 di wilayah mereka nampak dilakukan secara diam-diam. Awalnya mereka mengira alat berat yang datang ke wilayah mereka untuk mengerjakan proyek di wilayah itu.
Namun rupanya alat berat itu menuju ke sebuah lahan kosong di dekat wikalah mereka dan menggali lubang. Saat itu, ia mendatangi lokasi alat berat yang tengah mengeruk tanah dan mempertanyakan alasan menggali lubang di sana.

Saat itu, kata Marten, petugas yang ada di lokasi mengatakan jika itu rahasia serta menyuruh dirinya untuk menjauh dari lokasi. Ia semakin mencurigai aktifitas itu dan tidak lama kemudian, ia mendapatkan informasi jika lubang itu untuk memakamkan pasien Covid-19.

Saat itu, ia kembali ke permukiman warga dan meminta warga untuk masuk ke rumah masing-masing, serta menggunakan masker karena pemerintah hendak memakamkan pasien Covid-19 di wilayah mereka. Mendengar informasi itu, warga mulai panik dan marah sehingga ketika petugas membawa jasad dari pasien Covid-19 itu ke lokasi makam, warga di sana sontak protes dan mengusir petugas. “Warga marah karena tidak mendapat informasi sebelumnya dari pemerintah. Kalau pemerintah menginformasikan, minimal kepada ketua RT atau RW, mungkin warga tidak marah-marah,” katanya.

Ketua RT 26, Desa Tubuhue, Okran Nubatonis mengatakan saat itu warga mempertanyakan kepada dirinya apakah lokasi itu adalah lokasi pemakaman pasien Covid-19, ia tidak bisa menjawab pertanyaan warga karena dirinya tidak mendapat informasi sebelumnya dari Pemkab TTS.

Selain itu, warga kecewa karena petugas yang memakamkan almarhum, mengganti pakaian mereka di permukiman warga. Selain itu, APD yang digunakan petugas nampak dibuang secara sembarangan di lokasi pemakaman.
“Saya tidak bisa bendung protes warga, karena ini tiba-tiba saja jadi kami juga bingung,” kata Okran.

Ketua RW 09, Desa Tubuhue, Yesaya Liufeto mengatakan dirinya juga tak bisa menjawab ketika warga setempat bertanya kepadanya berkaitan dengan pemakaman pasien Covid-19 itu. Inilah yang menyebabkan warga mengambil keputusan untuk menyandera alat berat yang digunakan untuk menggali lubang itu guna mendapatkan penjelasan dari pemerintah, apakah lokasi yang dekat dengan permukiman warga itu adalah lokasi pemakaman pasien Covid-19.

“Kata petugas, jasad pasien Covid-19 itu dimakamkan di lokasi itu karena persetujuan keluarga. Warga tidak salahkan keluarga, tapi warga minta untuk pemerintah informasikan sebelumnya, sehingga warga tidak panik. Minimal ada penjelasan sebelumnya apakah berbahaya atau tidak kalau pasien Covid-19 dimakamkan dekat permukiman warga. Kalau ini dijelaskan sebelumnya, pasti tidak ada aksi protes dari warga,” ungkapnya.

Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun ketika dikonfirmasi mengatakan, pemakaman pasien Covid-19 yang meninggal di lokasi tersebut karena disana adalah lahan milik almarhum. Sebelumnya tidak ada protes, tetapi setelah jasad almarhum dimakamkan, barulah terjadi aksi protes oleh warga setempat.

Meski demikian, menurut Egusem, persoalan itu telah diselesaikan dan alat berat yang sempat disandera telah dibawa kembali di Kantor BPBD TTS. “Persoalan sudah diselesaikan dan alat berat sudah dibawa pulang juga,” jelas Bupati Egusem.

Pantauan media ini di lokasi pemakaman, nampak berserakan alat pelindung diri (APD) yang dikenakan petugas saat memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal itu. (yop)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top