Jika Biden atau Trump Menangi Pilpres AS, Ini Dampaknya Bagi Indonesia | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jika Biden atau Trump Menangi Pilpres AS, Ini Dampaknya Bagi Indonesia


LIVE. Warga AS menonton penghitungan suara Pilpres pada layar raksasa di Black Lives Matter Plaza, Washington DC, Rabu (4/11). (FOTO: OLIVER DOULIERY/AFP/JPC)

POLITIK

Jika Biden atau Trump Menangi Pilpres AS, Ini Dampaknya Bagi Indonesia


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, jika Joe Biden memenangi Pilpres AS, hal itu akan memberikan dampak berupa angin segar bagi arus modal asing di pasar keuangan.

’’Investor AS yang selama ini bermain aman dengan beli emas, dolar, dan yen Jepang atau safe haven mulai berani masuk ke emerging market,” ujarnya kemarin (4/11).

Salah satu yang akan diincar penanam modal, lanjut Bhima, adalah obligasi pemerintah Indonesia karena menawarkan bunga yang tinggi kepada investor. Dari segi investasi asing langsung, AS diprediksi semakin masuk ke Indonesia. Itu jika normalisasi hubungan dagang berhasil.

Namun, jika Trump terpilih kembali, hal itu berpotensi menciptakan banyak ketidakpastian ekonomi global. Menurut Bhima, dengan terpilihnya Trump, pemulihan ekonomi global diproyeksi berjalan lambat dan kebijakan proteksionisme bisa berlanjut.

Dia melanjutkan, kebijakan proteksionisme yang dilakukan Trump telah banyak merugikan kepentingan Indonesia. ’’Buktinya, kinerja ekspor sebelum pandemi sudah lesu karena rendahnya permintaan bahan baku ke China dan ekspor langsung ke AS,” ucapnya.

Dari perspektif pelaku usaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyebutkan bahwa Indonesia bukan mitra dagang utama bagi AS. Indonesia hanya menempati urutan ke-50 dari daftar mitra dagang AS. Karena itu, siapa pun presiden AS yang terpilih, Kadin memprediksi hal tersebut tidak akan mengubah kebijakan yang signifikan terkait perdagangan Indonesia.

”Siapa pun presiden AS, pasti punya kebijakan yang akan disesuaikan dengan agenda besar perdagangan dari presidennya,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani kemarin (4/11).

BACA JUGA: Joe Biden Unggul Sementara, Trump Curiga Dicurangi

Menurut Shinta, jika Biden terpilih, kebijakan yang dibuat tidak akan jauh berbeda dengan petahana Donald Trump. Kadin melihat Biden sebagai sosok multilateral. Pemerintahan Biden juga tidak pro-free trade sepenuhnya, tetapi akan lebih mengupayakan balance antara proteksi pasar AS dari impor, khususnya dari Tiongkok dan negara-negara yang dianggap melakukan persaingan dagang tidak sehat.

Shinta meyakini, Biden sangat mungkin tidak serta-merta menghentikan trade war, review, maupun penyelidikan-penyelidikan dagang terkait aktivitas perdagangan AS dengan negara-negara lain. Khususnya isu soal persaingan dagang yang tidak sehat. Baik meliputi isu dumping dan subsidi perdagangan hingga persaingan usaha yang tidak sehat karena peran BUMN di negara pesaing utama, yaitu Tiongkok. ’’Bahkan, dalam presentasi economic plan-nya, Biden mengatakan bahwa dirinya tak sungkan mengenakan tarif atau trade barrier bagi rekan dagang yang dianggap merugikan AS,” tegas Shinta.

Kadin menilai, pada prinsipnya, kebijakan Biden akan relatif sama dengan Trump. Hanya, konsep yang diusung Biden lebih terstruktur ketimbang Trump. ”Biden juga akan lebih terbuka untuk menciptakan kompromi dagang yang mengarah pada konsep fair-trade dengan negara-negara yang sedang sangat ditekan oleh kebijakan-kebijakan perdagangan Trump,” imbuhnya.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja menyatakan, pada dasarnya AS adalah AS. ’’Mereka punya keinginan untuk selalu menjadi yang terbesar dan terkuat, siapa pun presidennya,’’ katanya tadi malam.

Dia menjelaskan, perbedaan Biden dengan Trump terletak pada pola komunikasi dan gaya kepemimpinan. Dinna mengatakan, jika Biden menang, pertama-tama dia akan sibuk dengan urusan dalam negeri. Dinna memperkirakan, dalam dua tahun pertama, presiden AS akan berfokus pada urusan dalam negeri. Misalnya, masalah lilitan pandemi Covid-19. Kemudian, persoalan polarisasi yang serius di publik AS.

Menurut Dinna, polarisasi di AS saat ini sangat serius. Sebab, bisa mengarah pada kekerasan antarkelompok jika tidak segera ditangani. Dinna menambahkan, jika Biden menang, dia akan memperbaiki komunikasi dan relasi dengan negara-negara sekutu. ’’Saya prediksi kalau dia menang, dia pasti akan mengunjungi Indonesia,’’ tuturnya. (bil/agf/wan/c14/c18/c19/oni/jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya POLITIK

Populer

To Top