Biden Pecundangi Trump, Hakim Tolak Tuntutan Stop Penghitungan Suara | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Biden Pecundangi Trump, Hakim Tolak Tuntutan Stop Penghitungan Suara


MENUJU GEDUNG PUTIH. Capres-cawapres Partai Demokrat Joe Biden-Kamala Harris menyampaikan pidato politik di The Queen Theater, Wilmington, Delaware, Amerika Serikat, Kamis (5/11). (FOTO: CAROLYN KASTER/AP PHOTO/JPC)

POLITIK

Biden Pecundangi Trump, Hakim Tolak Tuntutan Stop Penghitungan Suara


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Harapan Donald Trump-Mike Pence untuk memenangi pilpres AS semakin kecil. Sebab, hasil penghitungan suara di Georgia dan Pennsylvania mulai berbalik arah. Trump yang sebelumnya unggul tipis di dua negara bagian itu mulai tertinggal kemarin (6/11).

Berdasar data yang dirilis The Associated Press (AP) pukul 21.19 WIB tadi malam, Joe Biden unggul tipis atas Trump. Di Georgia yang penghitungannya mencapai 99 persen, Biden meraih 2.449.582 suara, sedangkan Trump hanya mendapat 2.448.485 suara. Selisihnya 1.097 suara.

Kondisi serupa tampak di Pennsylvania yang penghitungannya dilaporkan mencapai 98 persen.

Di sana Biden meraih 3.295.327 suara, sedangkan Trump hanya 3.289.731 suara. Selisihnya 5.596 suara. Padahal, dua hari lalu Trump masih unggul di dua negara bagian tersebut.

Tambahan suara untuk Biden disebut datang dari hasil penghitungan votes yang dikirim melalui pos. Kemenangan Pennsylvania datang lebih lambat ketimbang Georgia. Namun, serbuan pos surat suara yang dihitung di wilayah urban seperti Philadelphia langsung memberikan keunggulan besar. ’’Saya meminta agar semuanya bersikap tenang. Biarkan pemilih yang menentukan pemenang, bukan lainnya,’’ ujar Biden sebagaimana dilansir CNN.

Keunggulan Biden di Georgia memang lebih kecil. Namun, secara politis, hal itu sangat strategis. Sebab, Georgia sejak lama dianggap sebagai basis kuat Partai Republik yang mengusung Trump-Mike Pence. Capres terakhir Demokrat yang menang di peach state adalah Bill Clinton pada Pemilu 1992. Artinya, wilayah tersebut setia terhadap Republik selama hampir tiga dekade. Sementara itu, Pennsylvania merupakan basis Demokrat yang direbut Trump pada pemilu empat tahun lalu.

Biden harus berterima kasih kepada aktivis Demokrat di Georgia. Terutama kepada kandidat gubernur Georgie Stacey Abrams. Setelah kalah pada Pemilu 2018, Abrams memang berfokus mendaftarkan simpatisan Demokrat untuk Pemilu 2020. Hal tersebut juga membuat dua kursi Senat AS milik Republik terancam direbut pada pemilu ulang tahun depan.

’’Semuanya berkat perempuan kulit hitam yang kuat seperti Stacey Abrams yang bekerja tanpa pamrih,’’ tutur anggota Kongres Pramila Jayapal menurut USA Today.

BACA JUGA: Joe Biden Unggul Sementara, Trump Curiga Dicurangi

Jika bisa mempertahankan keunggulannya, Biden bakal melenggang ke Gedung Putih dengan perolehan 300 suara elektoral. Saat ini Biden memegang 264 suara. Batas minimal untuk memenangi pilpres adalah 270 suara elektoral.

Tentu kubu Trump tak mau menyerah. Mereka sudah meluncurkan berbagai upaya hukum di negara bagian penentu kemenangan. Meskipun, upaya mereka sementara ini tak mempan untuk mencegah penghitungan pemilu.

Gugatan di Michigan untuk mengawasi penghitungan suara lebih dekat ditolak. Hakim mengatakan bahwa penghitungan sudah selesai. Gugatan di Georgia untuk mempertanyakan status 53 surat suara prapemilu juga ditolak. Putusan itu dikeluarkan setelah juri mendengar kesaksian panitia pemungutan suara Chatham County bahwa semua surat tersebut diterima tepat waktu.

Sebaliknya, Trump menang dalam gugatan di Pennsylvania. Namun, hal tersebut tak membuat penghitungan suara dihentikan. Sebab, tim kampanye Trump hanya meminta agar bisa mengawasi penghitungan suara lebih dekat. Hakim mengabulkan permintaan tersebut.

’’Setiap malam presiden (Trump, Red) tidur dengan posisi unggul. Lalu, balot tiba-tiba muncul dan menggesernya,’’ ungkap kepala tim kampanye Bill Stepien.

Soal rumor dan fitnah, kubu Trump tak pernah kekurangan. Pihaknya selalu mencari alasan untuk membenarkan tudingan mereka bahwa pemilu kali ini penuh dengan kecurangan.

Yang baru-baru ini muncul adalah #SharpieGate. Isu tersebut viral setelah video seorang perempuan yang mengaku bahwa panitia pemilu di Maricopa County, Arizona, berusaha mencurangi pemilu dengan memaksa pemilih menggunakan pena sharpie alias spidol untuk mencontreng pilihan mereka. Menurut dia, spidol bisa membuat tinta tembus di balik kertas suara dan membuat mesin pemindai menganggap suara tersebut tidak sah.

Panitia menegaskan bahwa mereka sudah melatih pekerja agar bisa memastikan semua surat suara bisa terhitung. Mereka menyarankan penggunaan spidol karena tinta bolpoin justru berisiko meninggalkan noda. ’’Jangan menyebarkan disinformasi,’’ ujar Direktur Cybersecurity and Infrastructure Security Agency Christopher Krebs.

Pemerintah resah dengan info-info dan klaim palsu dari sekutu Trump. Sebab, mereka bisa menyulut kerusuhan dan tindak kriminal lainnya. Kamis lalu (5/11) Philadelphia Police Department menangkap dua pria yang berada di luar pusat penghitungan suara. Mereka diduga berencana menyerang orang-orang di dalam fasilitas tersebut. Sampai saat ini, belum ada kejelasan apakah ada senjata yang ditemukan. (bil/c19/oni/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya POLITIK

Populer

To Top