Kadis Pendidikan NTT Sebut Kurikulum Tersembunyi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kadis Pendidikan NTT Sebut Kurikulum Tersembunyi


DISKUSI TIMEX. Dari kiri, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Linus Lusi, Dirut Timex Sultan Eka Putra dan Direktur Haeruddin saat diskusi di Graha Pena Timor Express, Sabtu (7/11). (KRISTO EMBU/TIMEX)

PENDIDIKAN

Kadis Pendidikan NTT Sebut Kurikulum Tersembunyi


Diskusi di Graha Pena Timor Express

KUPANG, TIMEXKUPANG.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi menyebut peran kurikulum tersembunyi dalam menciptakan kualitas SDM generasi muda NTT. Kurikulum tersembunyi tersebut adalah keteladanan dari orangtua atau orang dewasa dalam membentuk karakter generasi muda NTT.

Hal ini diungkapkan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi saat diskusi di Graha Pena Timor Express, Sabtu (7/11).

Linus Lusi yang kini menjadi Penjabat Bupati Ngada itu didampingi Asisten II Setda Ngada, Hironimus Reba Watu dan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Ngada, Ngiso Godja Laurensius.

Dari Timor Express hadir Direktur Utama Sultan Eka Putra, Direktur Haeruddin, Wakil Direktur Stenly Boymau, Pemred Timex Kristo Embu dan Pemred timexkupang.com Marthen Bana.

Dirut Timex Sultan Eka Putra menyampaikan, Harian Timor Express sangat konsen dalam mendukung pembangunan NTT. Termasuk dalam bidang pendidikan.

Menurut Sultan, paling tidak ada tiga faktor yang menentukan kualitas pendidikan di suatu daerah. “Pertama adalah sarana dan prasarana pendukung seperti gedung sekolah beserta isinya untuk mendukung pendidikan. Ini merupakan tanggung jawab pemerintah,” ujar Sultan.

Kedua, lanjutnya, adalah anak didik itu sendiri. Yakni, anak didik harus sehat dan cukup gizi pula sehingga bisa menyerap pendidikan dengan baik. Ini lebih banyak peran orangtua atau keluarga untuk memastikan anak didik sehat sehingga bisa mengikuti proses pendidikan dengan baik.

“Ketiga adalah pendidik. Di sini bukan hanya peran pemerintah, tetap Timex juga pernah turut ambil bagian untuk menciptakan kualitas pendidik yang baik. Yakni Timex pernah melakukan seminar tentang sertifikasi guru di beberapa daerah di daratan Timor dan Rote Ndao,” kata Sultan.

Sultan mengatakan, untuk memperbaiki posisi NTT dari posisi tiga terbawah secara nasional, perlu peran dari semua pihak. Pemerintah, orangtua, siswa dan komponen lain yang memberi perhatian dalam dunia pendidikan.

Linus Lusi mengatakan, sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru. Dan akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, lanjut Linus, hasil kajian tahun 2008 menunjukkan tidak ada korelasi positif antara sertifikasi dengan mutu. “Ini hasil kajian tahun 2008,” jelasnya.

Menurutnya, komitmen berbasis mutu harus jadi urat nadi dalam jiwa pelaku pendidikan di NTT. Selain itu, jelas Linus, adalah kepemimpinan dalam sekolah. “Jika ini didesain betul-betul, maka akan baik,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan, selama ini perhatian pemerintah sudah bagus, tapi kenapa pendidikan masih menjadi persoalan. Menurut mantan Kaban Pengelolaan Perbatasan ini akar masalah adalah komitmen.

“Yang utama adalah komitmen. Itu dari hati. Karena pengelolaan pendidikan dengan komitmen yang tinggi akan menghasilkan output yang berkualitas,” ujar Linus.

Yang menarik adalah ketika Linus menyebut peran kurikulum tersembunyi dalam membentuk karakter anak. Karena karakter atau mental anak merupakan salah satu indikator kualitas SDM. Tidak cukup hanya pengetahuan kognitif.

“Ini disebut dengan kurikulum tersembunyi. Teladan dari orangtua dan orang dewasa yang akan diteladani oleh anak. Teladan yang baik akan membentuk karakter anak yang baik. Yang kemudian akan menentukan kualitas anak itu sendiri,” ujar Linus.

Untuk itu, dirinya mengatakan peran dari kurikulum tersembunyi sangat penting. Sehingga perlu disadari setiap orangtua atau orang yang lebih dewasa yang menjadi panutan anak-anak.

Linus Lusi juga mengatakan, ke depan pihaknya akan mengirim siswa dan guru-guru vokasional ke Bangkok Thailand. “Mengapa ke Bangkok karena pendidikan vokasional di sana bagus dan bisa menjadi contoh penerapan di daerah kita. Kita mau lulusan sekolah vokasional langsung diserap di lapangan kerja karena memiliki kualitas SDM yang mumpuni,” kata Linus seraya menambahkan, tahun 2021 ini akan dilakukan pengiriman perdana siswa guru vokasional NTT belajar di Bangkok.

Dirut Timex, Sultan Eka Putra memberi usul, selain Thailand perlu dipertimbangkan pula Cina karena pendidikan di Cinta, termasuk vokasional sangat maju.

“Saya kira perlu dipertimbangkan pula Cina karena pendidikan di sana sangat maju dengan biaya pendidikan yang tidak mahal pula,” usul Sultan.

Dalam diskusi yang berlangsung dalam suasana santai sekira satu jam itu, terungkap pula ide pendampingan psikolog kepada siswa sebelum menentukan pilihan sekolah atau jurusan dari siswa.

“Jangan sampai pilihan siswa itu kurang tepat. Apalagi kalau sampai ada peran orangtua yang menginginkan anak mengikuti kehendaknya tanpa melihat kemapuan dan minat dari anak. Ini yang perlu kita siapkan dengan baik,” kata Linus.

Peran psikolog dalam melakukan pendampingan dan konseling kepada siswa, kata Linus, akan sangat membantu dalam menentukan pilihan siswa untuk melanjutkan ke sekolah ke jenjang apa dan pilihan jurusan.

“Jangan sampai anak ingin lanjut ke SMA lalu kuliah tetapi orangtua mau SMK lalu kemudian kuliah. Kalau SMK harusnya setelah lulus langsung terserap di pasar kerja atau bisa membuka lapangan kerja sendiri,” kata Linus. (ito/ays)

Komentar Pembaca

Baca Selengkapnya
Rekomendasi untuk anda ...
Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

Populer

To Top