Resmikan Jembatan Wae Laku Hulu, Bupati Agas: Ini Jalur Alternatif Ruteng-Borong | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Resmikan Jembatan Wae Laku Hulu, Bupati Agas: Ini Jalur Alternatif Ruteng-Borong


GUNTING PITA. Bupati Matim, Agas Andreas mengunting pita tanda peresmian jembatan Kali Wae Laku Hulu, Desa Compang Kantar, Kecamatan Rana Mese, Selasa (10/11). Tampak Wabup Jaghur Stefanus, pimpinan dan anggota DPRD, Ketua TP PKK, Kadis PUPR, Camat Rana Mese, dan tokoh masyarakat. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Resmikan Jembatan Wae Laku Hulu, Bupati Agas: Ini Jalur Alternatif Ruteng-Borong


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Bupati Manggarai Timur (Matim), Agas Andreas meresmikan penggunaan jembatan Kali Wae Laku Hulu, Desa Compang Kantar, Selasa (10/11). Jembatan yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 2,8 miliar ini guna mengoptimalkan infrastruktur di wilayah Kecamatan Rana Mese tersebut.

Terpantau, peresmian jembatan itu ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati Agas didampingi Wakil Bupati Jaghur Stefanus, Ketua DPRD Yeremias Dupa, dan Kadis PUPR Matim Yos Marto. Hadir juga sejumlah anggota DPRD Matim, Rikar Runggat, Sipri Habur, dan Donatus Djematu.

Tampak pula Ketua TP PKK Matim Theresia Wisang, Camat Rana Mese Maria Anjelina Teme, Kabid Bina Marga Dinas PUPR Matim, Ima Raydais, Kepala Teknik BLUD SPAM Matim Paul Bero, sejumlah kepala desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, sejumlah staf Kecamatan Rana Mese, staf Dinas PUPR, sejumlah anggota Sat Pol PP, dan perwakilan kontraktor.

Jembatan yang diresmikan itu menghubungkan dua wilayah desa di Kecamatan Rana Mese, yakni Desa Compang Kantar dan Wae Ngori, dan dijadikan jalur baru penghubung sejumlah desa dengan kota kecamatan menuju Kota Borong sebagai ibu kota Kabupaten Matim.

“Tinggal ke depan akses jalan yang ada di jalur ini kita tingkatkan dari jalan telfor ke lapen. Jalan ini merupakan jalur alternatif dari Ruteng ke Borong dan sebaliknya,” ujar Bupati Agas, kepada TIMEXKUPANG.com di sela-sela kegiatan peresmian jembatan tersebut.

Bupati Agas mengatakan, Pemkan Matim menargetkan tahun 2023 ruas jalan Jati-Ndilek, tepatnya dari kampung Golo Nderu-Pinis-Wae Ngori-Ndilek, sudah tuntas dibangun aspal. Sekira 4 km dari kampung Pinis ke Ndilek rencananya akan dibangun tahun 2021. Termasuk membangun crossway di Kali Wae Dingin Hulu.

“Target kita awalnya, tahun 2022 sudah tuntas bangun ruas jalan Jati-Ndilek ini. Tapi karena dilanda Covid-19, anggaranya dipotong dan tuntasnya baru tahun 2023. Tahun 2021 ini kita sudah mulai intervensi aspal dan telfor dari Golo Nderu sampai ke bangunan jembatan Wae Laku Hulu,” ungkap Bupati Agas.

Bupati Agas menyebutkan, dengan peresmian jembatan ini, jarak yang ditempuh dari Ndilek cabang ruas jalan negara Ruteng-Borong menuju Borong lebih kurang mencapai 19km. Sehingga jika akses jalannya sudah dintervensi dengan bagus, maka jarak tempuhnya sangat pendek alias singkat. Sementara melalui jalan negara Trans Flores, jaraknya sekira 30an km.

“Pembangunan infrastruktur ini merupakan salah satu prioritas utama pemerintah. Akses yang kita bangun ini bagian dari pelayanan terhadap masyarakat dalam meningkatkan aksesibilitas kelancaran transportasi sekaligus diharapkan mampu meningkatkan sektor ekonomi masyarakat sekitar,” kata Bupati Agas.

Bupati Agas mengaku, pihaknya menghadirkan sejumlah anggota DPRD Matim dalam acara peresmian itu dengan maksud agar apa yang direncanakan dan disampaikan oleh Bupati-Wakil Bupati, DPRD juga melihat dan dibicarakan bersama dalam pembahasan anggaran. Sementara tugas masyarakat adalah ikut serta dalam memelihara infrastruktur yang dibangun tersebut.

“Kalau ada longsor kecil di bahu jalan atau saluran drainase tersumbat, jangan tunggu kami dari kabupaten untuk bersihkan, masyarakat bisa membantu. Jalan ini dibangun untuk membantu masyarakat, misalnya kalau ada hasil pertanian dan perkebunan serta ternak, bisa pasarkan di kota. Artinya jalan yang sudah dibangun ini harus ada dampak ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.

Kadis PUPR Matim, Yos Marto, yang ditemui TIMEXKUPANG.com di sela-sela kegiatan peresmian menjelaskan, jembatan itu dibangun tahun 2019 dengan biaya sebesar Rp 2,8 miliar. Bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU), dan dikerjakan kontraktor dari CV Dwi Jaya. “Saat ini, status jalan masih dalam tahapan pemeliharaan,” kata Yos Marto.

“Tahun ini kita ada bangun jalan dari kampung Golo Nderu sampai ujung jembatan sekira 1,6 km, yakni sepanjang 500 meter dibangun aspal dan sisanya untuk telfor dan bangunan pelengkap. Anggaranya sebesar Rp 1,7 miliar dari DAU,” sambung Yoos Marto didampingi Kabid Bina Marga, Ima Raydais.

Marto menambahkan, total seluruh paket proyek jalan tahun 2020 yang tersisa setelah banyak anggaran dipotong karena pandemi Covid-19, sebanyak 21 paket. Semua menyebar di sembilan wilayah kecamatan dengan total biaya mencapai Rp 26.804.816.000, bersumber dari DAU dan DAK afirmasi.

DAK afirmasi itu, kata Yos, untuk satu paket proyek jalan lapen sepanjang 7,8 km di Kecamatan Elar Selatan dengan biaya sebasar Rp 5,1 miliar. Sementara paket lainya bersumber dari DAU dengan paket pekerjaaan lapen. Kontraknya sejak 3 September 2020 dengan 100 hari kelender atau kontrak sampai tanggal 11 Desember 2020.

Kepala Desa (Kades) Wae Ngori, Konstantinus Rata, dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada Pemkab dan DPRD Matim yang telah membuka akses di wilayah itu melalui intervensi anggaran untuk pembangunan jalan dan jembatan. Kerinduan masyarakat akan akses jalan dan jembatan yang representatif sudah terobati oleh peran Pemkab dan DPRD Matim.

“Kami masyarakat di sejumlah desa di sepanjang ruas jalan ini dan sekitarnya, sangat senang dan bangga. Akses yang ada sudah memudahkan kami untuk pergi ke ibu kota kabupaten, kecamatan, dan wilayah lainnya. Sehingga saya atas nama masyarakat dan pemerintah dari sejumlah desa, menyampaikan terima kasih,” ungkap Konstantinus. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top