STKIP Weetebula Terus Berbenah Demi Menjadi Universitas | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

STKIP Weetebula Terus Berbenah Demi Menjadi Universitas


Yohanes Ngongo bersama keluarga menyerahkan tanah untuk mendukung pembagunan STKIP Weetebula menjadi universitas. (FOTO: FREDI BULU LADI/TIMEX)

PENDIDIKAN

STKIP Weetebula Terus Berbenah Demi Menjadi Universitas


Keluarga Yohanes Ngongo Hibahkan Tanah untuk STKIP Weetebula

TAMBOLAKA, TIMEXKUPANG.com-Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Weetebula, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) terus berbenah demi perubahan status dari sekolah tinggi menjadi universitas.

Selain perubahan status, STKIP Weetebula terus meningkatkan mutu pendidikan guna menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dalam industri kerja. Seluruh civitas akademika terus bekerja keras demi perubahan status menjadi universitas.

“Saat ini STKIP Weetebula telah memiliki 6 program studi yang terakreditasi C, dan kini sedang mempersiapkan diri untuk menambah beberapa fakultas guna menyongsong perubahan status menjadi universitas,” ungkap Direktur STKIP Weetebula, Wilhelmus Yape Kii, S.Pt.M.Phil.MA kepada media ini, Senin (9/11).

Wilhelmus menyebutkan, enam program studi yang STKIP Weetebula, antara lain Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kimia, Pendidikan Fisika, Pendidikan PGSD, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Keagamaan Katolik. Enam program studi ini menjadi cikal bakal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Sementara untuk persiapan menjadi universitas, kata Wilhelmus, pihaknya mempersiapkan penambahan Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, dan Prodi Pariwisata.

Wilhelmus yang ketika ditemui sementara mempersiapkan acara wisuda bagi 178 mahasiswanya hari ini (10/11) menjelaskan bahwa kini mereka sedang mempersiapkan syarat administrasi apabila sewaktu-waktu Dikti meminta bukti syarat dan prasyarat untuk alih status STKIP menjadi universitas.

Menurut Wilhelmus, salah satu syarat yang harus mereka penuhi dalam perubahan status dari STKIP menjadi universitas adalah soal bukti kepemilikan lahan yang mana nantinya dijadikan sebagai lokasi pembangunan laboratorium peternakan dan pertanian. “Tentu kepemilikan lahan ini harus lengkap agar tidak menjadi kendala administrasi,” katanya.

Wilhelmus menyebutkan, pihaknya telah memiliki master plan rencana pendirian sejumlah gendung dan tata letak kampus STKIP Weetebula beberapa tahun ke depan. Wilhelmus mengatakan bahwa saat ini mereka memiliki tanah seluas 100 hektare yang merupakan hibah dari 78 keluarga tahun 2010 lalu.

Wilhelmus mengaku bersyukur atas kebaikan hati masyarakat di wilayah Desa Karuni yang telah memberikan hibah tanah secara cuma-cuma untuk mendukung pembangunan pendidikan di Kabupaten SBD. Wilhelmus mengatakan pihaknya akan berusaha dengan segala cara untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Loura yang sudah memberikan tanahnya untuk mendukung pendidikan tinggi di wilayah tersebut.

“Kami punya tanah seluas 100 Ha yang dihibahkan oleh keluarga di Desa Karuni untuk pendirian STKIP Weetebula, bahwa kami sudah sertifikatkan 68 Ha lebih dan masih tersisa 30 Ha lebih yang belum kami sertifikatkan. Semestinya sudah selesai kami sertifikat namun karena untuk sertifikat seluas 100 Ha langsung ditagani pemerintah pusat, maka kami lakukan sertifikat hanya seluas 60 Ha lebih,” imbuhnya.

Wilhelmus memohon dukungan seluruh masyarakat Desa Karuni untuk mendukung upaya STKIP memperjuangkan perubahan status dari sekolah tinggi menjadi universitas dan mendukung kerja keras Pemda SBD, Yabnusda dan STKIP untuk memajukan pendidikan.

Tokoh masyarakat Loura, Yohanes Ngongo mengatakan bahwa kehadiran STKIP Weetebula sangat membantu masyarakat di wilayah itu. Menurutnya kehadiran STKIP membuat seluruh masyarakat petani bisa sekolahkan anaknya ke Pendidikan tinggi.

Selama ini, kata Yohanes, bahwa banyak anak tidak melanjutkan pendidikan tinggi karena alasan biaya pendidikan yang mahal. Selain persoalan biaya, keluarga juga harus memikirkan biaya kost-kostan dan biaya makan minum anak yang melanjutkan pendidikan di luar Pulau Sumba.

“Kehadiran STKIP ini sangat membantu keluarga ekonomi lemah, anak bisa sekolah di STKIP dengan biaya yang murah, tidak memikirkan lagi biaya sewa kost dan biaya makan minum anak,” imbuhnya.

Menurut Yohanes Ngongo selama ini banyak anak petani yang pintar namun tidak melanjutkan pendidikan karena alasan biaya, namun dia berbangga saat ini banyak anak petani yang sudah menjadi sarjana dan bahkan menurutnya sudah ada yang menjadi PNS di Pemkab SBD yang merupakan lulusan STKIP Weetebula.

Untuk itu, tambah Yohanes, seluruh elemen masyarakat harus mendukung keberadaan STKIP Weetebula termasuk upaya-upaya orang yang ingin mengagalkan cita-cita pembagunan kampus STKIP Weetebula.

“Bersama seluruh keluarga yang menyerahkan tanah untuk STKIP Weetebula, kami akan siap tampil paling depan melawan siapa saja yang tidak berpikir positif demi kemajuan pendidikan di wilayah Loura,” tegas Yohanes. (*)

PENULIS: Frederikus Bulu Ladi

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

Populer

KABAR FLOBAMORATA

Tambah 8 Kasus Baru, Total Positif Covid-19 di NTT Capai 970 Orang

22 November 2020 - 11:06pm

KABAR FLOBAMORATA

Pemkot Larang Semua Perayaan Pesta

23 November 2020 - 11:50am

NASIONAL

Pulau Komodo Tetap ‘Dijual’, Ini Penjelasan Luhut

27 November 2020 - 11:09pm

PERISTIWA/CRIME

Tersangka Pemberi Suap Menteri KKP Calon Besan Ketua MPR

26 November 2020 - 3:35pm

KABAR FLOBAMORATA

Satu Lagi Pasien Covid-19 Meninggal di Kota Kupang

23 November 2020 - 11:59pm

KABAR FLOBAMORATA

Waspada… Covid-19 Mulai Serang Nakes

23 November 2020 - 12:20pm

ENTERTAINMENT

Tiga Penyanyi Asal NTT Terbaik di AMI Awards 2020

28 November 2020 - 7:02am
To Top