Gegara Kata-kata Ini, Anggota DPRD Matim Polisikan Petugas Medis | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Gegara Kata-kata Ini, Anggota DPRD Matim Polisikan Petugas Medis


LAPOR POLISI. Anggota DPRD Matim, Salesius Medi, saat melapor perawat Puskesmas Borong ke Polres Matim, kemarin (11/11). (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Gegara Kata-kata Ini, Anggota DPRD Matim Polisikan Petugas Medis


Begini Penjelasan Kepala Puskesmas Borong

BORONG, TIMEXKUPANG.com-Seorang petugas medis di Puskesmas Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Kristin Carvalo dilaporkan ke polisi oleh salah satu anggota DPRD Matim, Salesius Medi, Rabu (11/11) siang. Salesius melaporkan petugas medis tersebut dengan aduan dugaan penghinaan.

“Laporan itu karena (Salesius Medi, Red) merasa dihina dengan menyebut kalimat, “Baru jadi dewan satu hari sombong”. Kata-kata ini telah melanggar pasal 310 KUHP tentang penghinaan,” kata kuasa hukum Salesius, Alexius Marianus Adu, kepada TIMEXKUPANG.com melalui HP di Borong, kemarin (11/11) petang.

Dugaan adanya lontaran kata-kata yang diduga menghina itu terjadi ketika Salesius Medi bersama keluarga menghantar seorang pasien kecelakaan lalu lintas, yakni Matius Mundur ke UGD Puskesmas Borong, pada Jumat (6/11) lalu.

Atas laporan itu, Alexius berharap Polres Matim secepatnya bertindak memeriksa para saksi agar ada kepastian hukum bagi kliennya.

“Jadi kita sudah resmi lapor ke Polres Matim dan berharap segera periksa saksi, agar kasus penghinaan yang dialami klien kami menjadi terang-benderang,” kata Alexius.

Kapolres Matim, AKBP Nugroho Arie Siswanto melalui Kasat Reskrim, Iptu Dedy S. Karimoy, membenarkan laporan tersebut. Namun kata Dedy, dirinya belum mencermati substansi laporan tersebut. Secara prosedur, laporan itu disampaikan ke bagian SPKT dan selanjutnya diteruskan ke Kapolres.

“Saya sudah dapat informasi terkait laporan itu, tapi saya belum tahu substansinya. Kalau Bapak Kapolres sudah disposisi ke bagian Reskrim, maka saya akan pelajari dan teruskan ke penyidik. Nanti setelah itu baru kita panggil pihak-pihak yang terkait dalam laporan itu,” jelas Dedy.

Kepala Puskesmas (Kapus) Borong, Yosefina Nirma, yang dihubungi terpisah melalui sambungan telepon, Kamis (12/11) pagi menyatakan bahwa terkait peristiwa di Puskesmas Borong itu, dirinya telah memanggil dan meminta keterangan dari perawat Kristin Carvalo. Termasuk keterangan dari perawat Roswita Herlina, yang bertugas di ruang rawat inap saat kejadian.

Menurut Yosefina, kedua petugas medis itu bertugas sejak 6 November 2020 pukul 21.00 wita hingga pukul 08.00 wita keesokan harinya, 7 November 2020. Dari keterangan keduanya, jelas Yosefina, pasien diantar dari UGD ke ruang rawat inap oleh keluarga dengan dipandu perawat Kristin dan Roswita. Di ruang rawat inap, pasien kemudian dipindahkan dari troli ke tempat tidur oleh keluarga dengan pengawasan dan panduan oleh kedua perawat.

Yosefina melanjutkan, setelah itu, pasien diperiksa dan ditangani sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Dalam ruang rawat inap itu, ada 6 tempat tidur dan 4 diantaranya ditempati pasien. Tentu untuk kenyamanan pasien yang lain, kata Yosefina, perawat Kristin menyampaikan kepada keluarga korban laka lantas yang berjumlah sekira tujuh orang untuk mengurangi jumlahnya dalam ruangan itu.

“Sesuai aturan maka yang boleh ada dalam ruangan hanya 3 orang. Itu disampaikan saat itu dengan nada yang ramah dan sopan. Waktu itu keluarga pasien tidak keberatan untuk mengurangi jumlah orang di dalam ruangan,” terang Yosefina.

Diduga salah paham timbul ketika terjadi keributan setelah perawat Kristin menyampaikan imbauan agar jumlah orang dalam ruangan dikurangi. “Inilah yang diduga memicu adanya salah paham dan perbedaan pemahaman, mengenai apa yang disampaikan oleh perawat Kristin kepada keluarga dan yang disampaikan kepada kerabat korban dari Bapak Medi,” urai Yosefina.

Yosefina menambahkan, sekira pukul 24.00 Wita, kerabat dari korban laka lantas atas nama Mateus Mundur datang ke Puskesmas Borong untuk menjemput pulang pasien. Sesuai prosedur dan melihat kondisi korban yang masih membutuhkan perawatan, maka perawat Kristin dan Roswita mencoba untuk menyampaikan agar keluarga korban menunda kepulangan pasien.

Namun karena keluarga berkeras untuk membawa pasien pulang malam itu juga, maka petugas meminta keluarga untuk menandatangani Surat Pernyataan Pulang Paksa pasien. Surat tersebut ditandatangani istri pasien atas nama Skolastika Pamut. Setelah itu, pada 7 November sekira pukul 01.00 wita, pasien dibawa pulang oleh keluarga.

“Sesuai kronologi ini, kami sampaikan bahwa tidak ada pernyataan atau kalimat kasar yang dikeluarkan oleh perawat Kristin pada saat kejadian. Yang disampaikan oleh perawat saat itu mengenai SOP dan tata tertib yang berlaku di ruang rawat inap Puskesmas Borong,” jelas Yosefina.

Yosefina menegaskan bahwa, penyampaian yang disampaikan petugas medis dilakukan sesuai standar norma dan kalimat yang sopan. Jika kemudian terjadi ketersinggungan terkait hal tersebut, maka hal itu semata adalah kesalahpahaman.

Meski demikian, tandas Yosefina, kejadian ini menjadi bagian dari evaluasi di Puskesmas Borong secara internal demi perbaikan mutu pelayanan kedepannya. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top