Kembalikan Ekosistem Pembelajaran, Buka Kembali Sekolah Januari 2021 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kembalikan Ekosistem Pembelajaran, Buka Kembali Sekolah Januari 2021


TATAP MUKA. Anak-anak SD Inpres Mokdale, Kabupaten Rote Ndao mengikuti sekolah tatap muka pada Rabu (18/11/2020). Pemerintah mengambil langkah membuka kembali sekolah pada Januari 2021. (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

PENDIDIKAN

Kembalikan Ekosistem Pembelajaran, Buka Kembali Sekolah Januari 2021


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membeberkan dampak negatif pembelajaran jarak jauh (PJJ). Salah satunya adalah ancaman putus sekolah. Atas pertimbangan tersebut, pemerintah melakukan penyesuaian pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri, di mana pada Januari 2021 satuan pendidikan di setiap jenjang boleh melakukan pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Kita telah mengevaluasi hasil dari pada pembelajaran jarak jauh ini bahwa dampak negatif yang terjadi pada anak itu sesuatu hal yang nyata. Kalau terus-menerus dilaksanakan bisa menjadi suatu risiko yang permanen dan risiko pertama adalah ancaman putus sekolah,” terang dia dalam telekonferensi pers Pengumuman Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap TA 2020/2021 di masa Pandemi Covid-19, Jumat (20/11).

Kata dia, banyak sekali anak-anak yang harus bekerja atau didorong oleh orang tuanya untuk bekerja. Tentunya ini berhubungan dengan situasi ekonomi keluarga yang tidak memadai.

Begitu juga dengan persepsi orang tua yang menganggap bahwa sekolah tidak lagi berperan penting dalam peningkatan kompetensi anak karena hanya melalui PJJ. Maka dari itu, banyak orang tua yang memberhentikan anaknya sekolah dulu. “Banyak anak dikeluarkan dari sekolah dan risikonya akan meningkat semakin lama,” tambahnya.

Kedua adalah berbagai resiko tumbuh kembang peserta didik. Kesenjangan pendidikan akan semakin meningkat karena perbedaan akses ataupun status sosial keluarga.

“Banyak sekali anak-anak sekarang tidak sekolah dan tentunya risiko-risiko bahwa ada satu generasi di Indonesia, anak-anak kita yang kesenjangan pembelajarannya dan harus mengejarnya, itu mungkin sebagian akan ketinggalan dan tidak bisa mengejar kembali pada saat kembali sekolah,” jelas Nadiem.

Lalu, alasan terakhir pembukaan sekolah adalah tekanan psikososial dan kekerasan dalam keluarga. Minimnya interaksi dengan guru, teman dan lingkungan luar ditambah tekanan akibat sulitnya PJJ dapat menyebabkan stres pada anak.

“Tentunya peningkatan insiden kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga juga meningkat dan ini menjadi salah satu pertimbangan kita yang terpenting,” pungkas dia.

Mendengar keputusan itu, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda pun memberikan dukungan.

Pasalnya, metode PJJ ini dikhawatirkan akan semakin menimbulkan kesenjangan peserta didik. Bahkan sampai menyebabkan loss learning seperti yang disampaikan Bank Dunia dan Unicef beberapa waktu lalu.

Lebih parah lagi jika peserta didik kemudian harus putus sekolah karena tidak mempunyai biaya atau terpaksa harus membantu orang tua mereka.

“Kami menerima laporan bahwa jumlah pekerja anak selama pandemi ini juga meningkat, karena mereka terpaksa harus membantu orang tua yang kesulitan ekonomi,” kata Syaiful dalam keterangannya, Jumat (20/11).

Pembukaan sekolah dengan pola tatap muka, kata Huda akan mengembalikan ekosistem pembelajaran bagi para peserta didik. Hampir satu tahun ini, sebagian peserta didik tidak merasakan hawa dan nuansa sekolah tatap muka.

“Kondisi ini membuat mereka seolah terlepas dari rutinas dan kedisplinan pembelajaran. Pembukaan kembali sekolah tatap muka akan membuat mereka kembali pada rutinitas dan mindset untuk kembali belajar,” ucap dia.

Kendati demikian, Huda menegaskan jika pemerintah harus memastikan syarat-syarat pembukaan sekolah tatap muka terpenuhi. Di antaranya ketersediaan bilik disinfektan, sabun dan westafel untuk cuci tangan, hingga pola pembelajaran yang fleksibel.

“Penyelenggara sekolah juga harus memastikan jika physical distancing benar-benar diterapkan dengan mengatur letak duduk siswa dalam kelas. Waktu belajar juga harus fleksibel, misalnya siswa cukup datang sekolah 2-3 seminggu dengan lama belajar 3-4 jam saja,” pungkasnya. (jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

Populer

To Top