Mengenal Marna Babut, ASN Berjiwa Entrepreneur dan Sosial di Matim | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Mengenal Marna Babut, ASN Berjiwa Entrepreneur dan Sosial di Matim


Marna Babut. (FOTO: ISTIMEWA)

TOKOH

Mengenal Marna Babut, ASN Berjiwa Entrepreneur dan Sosial di Matim


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Menyandang status sebagai aparatur sipil negara(ASN) bukan merupakan hambatan bagi seorang Marna Babut untuk mengembangkan jiwa entrepreneurshipnya. Menariknya Marna bukanlah pegawai biasa di lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Mantan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) ini kini dipercaya sebagai Kepala Bidang (Kabid) Penempatan dan Pelatihan Tenaga Kerja (PPTK), pada Dinas Nakertrans Kabupaten Matim. Meski menyandang jabatan eselon di pemerintahan, Marna ternyata memiliki jiwa entrepreneur. Tak cuma itu, ia juga punya jiwa sosial.

Bagaimana tidak, di tengah kesibukannya sebagai seorang pejabat yang juga bergelut dengan sejumlah usaha bisnis, ibu enam orang anak ini ikut mencurahkan perhatiannya berbagi bersama orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), membantu masyarakat ekonomi lemah, dan penyandang disabilitas di wilayah itu.

Bagi Marna, berkat akan selalu dilimpahkan Tuhan bagi umatnya jika ada kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama. Hal ini sudah menjadi rutinitas Marna dan keluarga, dimana di waktu tertentu pada hari libur, Marna selalu memberi perhatiannya dengan memberi bantuan bagi sesama yang membutuhkan, khususnya ODGJ, masyarakat ekonomi lemah, dan penyandang disabilitas. “Kebiasaan ini saya lakukan di hari libur dengan tujuan agar tidak mengganggu jam kerja di kantor,” ungkap Marna saat diwawancarai di kediamannya, Kampung Toka, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Sabtu (14/11) pekan lalu.

Sementara itu, diurusan terkait entrepreneurship, Marna ternyata membangun sejumlah usaha atau bisnis, yakni kuliner, salon kecantikan, dan jasa ekspedisi/pengiriman barang. Semuanya terpusat di Matim.

Saat ditanyai apakah tidak mengganggu pekerjaan sebagai ASN dalam menjalankan semua bisnis ini? Marna dengan santai menjawab bahwa semua itu bisa di-manage dengan baik.

Pasalnya usaha seperti warung makan, salon kecantikan, bisnis jasa pengiriman barang/ekspedisi (JNE) sudah ada karyawan yang ia percaya sehingga sebagai owner, Marna tinggal mengontrol saja.

“Sebagai seorang ASN, profesi tersebut tetap menjadi pekerjaan utama. Dalam rumah, saya tetap menjadi ibu rumah tangga, yakni melaksanakan peran sebagai istri dan ibu dari anak-anak. Semuanya, saya membagi waktu dengan baik,” ungkap istri Rofinus Babut ini.

Marna menyebutkan, bisnis warung makan yang ia bangun itu berlokasi di ruas jalan negara Trans Flores. Tepatnya depan kantor Kecamatan Borong, Kelurahan Kota Ndora.

Di rumah makan ini, Marna menyediakan menu khas asal daerahnya, Sulawesi Selatan, yakni Soto Makassar, juga Bakso dan aneka minuman. Usaha salon kecantikan juga berlokasi samping usaha warungnya. Sementara usaha jasa pengiriman barang berlokasi di Kelurahan Rana Loba. “Semua usahanya ini demi menopang ekonomi rumah tangga kami,” ujar sosok yang juga terlibat aktif dalam kegiatan apa saja bersama warga di lingkungan tempat tinggalnya.

Kisah Marna hingga sampai menetap di Kabupaten Matim dijalani dengan penuh liku. Dilahirkan di Paladan, Kabupaten Polmas, Provinsi Sulsel, 15 Maret 1967, Marna mengaku meniti karir sebagai ASN sejak 1 Maret 1988. Saat itu ia ditempatkan sebagai Guru Agama Kristen di SDI Gotong-Gotong Kota Madya Makasar, Sulsel. Status ASN itu disandang Marna setahun setelah dirinya tamat dan berijazah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen di Mamasa tahun 1987.

KELUARGA BAHAGIA. Marna bersama suaminya, Rofinus Babut. (FOTO: ISTIMEWA)

Sebelum merengkuh jenjang pendidikan tinggi, Marna memulai sekolahnya di SD Negeri Paladan dan tamat tahun 1980. Lalu ke SMP Katolik Messawa (tamat tahun 1984). Setelah itu ia lanjut dan tamat Pendidikan Guru Agama (PGA) tahun 1987. Setelah menjadi ASN di SDI Gotong-Gotong, Marna mengambil pendidikan diploma dua (D2) di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Intim Makasar dan lulus tahun 1994.

Tahun 2002, Marna pindah tugas ke Ruteng, Kabupaten Manggarai. Dia mejadi guru di SD Kumba II. Tahun 2007, Marna pindah tugas dan menjadi guru SLB Tenda. Dalam perjalanan tugasnya sebagai guru di SLB Tenda, Marna mengambil pendidikan S1 dengan jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Universitas Negeri Makassar dan tamat tahun 2011.

Disaat masih kuliah, pada tahun 2009, Marna dimutasi ke Matim untuk merintis SLB Peot, Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong. Tahun 2012, dia dipindah ke Dinas Sosial sebagai Kepala Seksi Penyandang Cacat, hingga Desember 2017, dipindahkan ke Dinas Nakertrans dan dipercaya sebagai Kabid PPTK.

“Tugas yang diberikan kepada saya sebagai ASN adalah kepercayaan. Karena itu saya selalu tekun menjalankan amanah itu sepenuh hati. Termasuk pekerjaan di luar jam kantor, kita jalankan dengan tekun tanpa kenal lelah,” ungkap Marna.

Sebagai seorang ASN, Marna menyadari bahwa tugas itu adalah mulia sehingga harus dijalankan dengan penuh integritas dan berjiwa melayani. Karena, sejatinya ASN merupakan pelayan masyarakat. “Untuk itu, peningkatan pelayanan publik harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan jiwa melayani,” ungkap sosok perempuan yang resmi menikah dengan sang suami, Rofinus Babut tahun 1989 silam. Marna mengaku bahwa sang suami saat ini juga sebagai ASN di Dinas Nakertrans.

Dari hasil perkawinan itu, Marna dan Rofinus kini memiliki enam orang anak, yakni tiga anak laki-laki dan tiganya perempuan. Berkat kerja keras mereka, saat ini lima orang anaknya sudah berhasil tamat di bangku kuliah, bahkan ada yang sudah menyandang status sebagai ASN.

“Satu anak yang bungsu, saat ini masih kuliah di Jakarta. Semua anak itu menjadi harta berharga bagi kami. Kami orang tua bangga karena sudah ada lima anak yang tamat kuliah, bahkan dua orang diantaranya sudah menjadi ASN. Sementara tiga yang lainnya bergelut sebagai wirausaha,” beber Mirna.

Mirna mengaku, dari tiga jenis usaha yang ia jalankan saat ini, ia mempekerjakan belasan orang tenaga kerja. Menurut Marna, usaha bisnis yang digelutinya saat ini selalu mendapat dukungan dari suami tercinta.
Berkat kesuksesannya ini, Marna selalu mendorong masyarakat, khusus kaum milineal untuk bisa menjadi wirausaha dengan membaca peluang bidang apa saja.

Bagaimana membagi waktu antara pekerjaan sebagai seorang ASN juga wirausaha? “Yah…pukul 05.00 Wita, saya bangun. Saya selesaikan pekerjaan rumah tangga. Termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak-anak. Habis itu, pukul 06.30 saya langsung ke warung untuk melihat persiapan di warung. Pukul 07.00 wita saya ke kantor,” urai Marna.

Sepulang dari kantor pukul 15.30 Wita, Marna langsung memantau kegiatan usaha di jasa pengiriman barang. Mulai pukul 17.30 Wita, berada di usaha warung makan dan salon. Tepat pukul 22.00, Marna pulang ke rumah dan menyempatkan diri membagi waktu bersama suami dan anak-anaknya.

“Sebelum tidur, saya harus luangkan waktu untuk ngobrol bersama dengan suami dan anak-anak. Seutuhnya di tempat usaha, saya mempercayakan kepada tenaga kerja. Saya serius menggeluti usaha bisnis ini semata-mata untuk menambah ekonomi keluarga,” pungkas Marna. (*)

PENULIS: Fansi Runggat

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya TOKOH

Populer

To Top