APBN Sampai Oktober Tekor Rp 764,9 Triliun, Ini Penyebabnya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

APBN Sampai Oktober Tekor Rp 764,9 Triliun, Ini Penyebabnya


INFOGRAFIS. (JawaPos.com)

NASIONAL

APBN Sampai Oktober Tekor Rp 764,9 Triliun, Ini Penyebabnya


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Oktober 2020 masih tertekan akibat dampak pandemi Covid-19. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan bahwa defisit Oktober mencapai Rp 764,9 triliun. Itu setara dengan 4,67 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Ani, sapaan Sri Mulyani, merinci bahwa pendapatan negara tercatat Rp 1.276,9 triliun. Sementara itu, nominal belanjanya mencapai Rp 2.041,8 triliun. “Defisit APBN 2020 masih cukup baik jika dibandingkan dengan negara lain. APBN melaksanakan fungsinya secara countercyclical,” ujarnya melalui telekonferensi, Senin (23/11).

Dari sisi pendapatan negara, lanjut Ani, ada penurunan 15,4 persen jika dibandingkan dengan perolehan tahun lalu yang mencapai Rp 1.508,5 triliun. Pendapatan itu berasal dari penerimaan perpajakan Rp 991 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 278,8 triliun, dan hibah Rp 1,4 triliun.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, penerimaan perpajakan turun 15,6 persen. Jumlah itu terdiri atas penerimaan pajak Rp 826,9 triliun dan penerimaan bea dan cukai yang naik 5,5 persen menjadi Rp 208,8 triliun. “Berbagai jenis pajak tertekan karena adanya pemanfaatan insentif pajak kepada seluruh sektor perekonomian. Baik untuk karyawan, PPh, maupun PPN,” tambah menteri 58 tahun itu.

Dari sisi belanja negara, ada kenaikan 13,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Itu terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp 1.343,8 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) Rp 698 triliun. Sejauh ini, realisasi belanja negara mencapai 74,5 persen dari alokasi dana yang tercantum dalam Perpres 72/2020 sebesar Rp 2.739,2 triliun.

BACA JUGA: APBN Tekor Rp 682,1 Triliun, Sri Mulyani: Masih Sejalan dengan Target

Terpisah, Executive Director Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun depan hanya 3 persen. Indef juga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia belum akan pulih sepenuhnya tahun depan.

“Updating perhitungan kita pada 2020 pertumbuhan ekonomi sekitar minus 1,35 persen dan 2021 itu 3 persen,” ujar Tauhid kemarin (23/11).

Dia menyatakan bahwa proyeksi itu berdasar pada beberapa hal. Diantaranya, dampak pandemi yang masih akan menahan belanja atau konsumsi kelas menengah atas.

Faktor lainnya adalah laju kredit perbankan yang diramal hanya akan tumbuh pada kisaran 5 persen sampai 6 persen. Padahal, dalam kondisi normal, kredit perbankan bisa tumbuh 9 persen hingga 11 persen.

“Kredit itu ibarat darah. Kalau kita bergerak lari, tapi darah separo dari kapasitas normal, ya artinya permintaan belum normal. Implikasinya, pertumbuhan ekonomi masih tertahan,” kata Tauhid. (dee/c12/hep/jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top