Hukuman Adat Pegang Besi Panas Berbuntut Panjang, Kades dan Lembaga Adat Dipolisikan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Hukuman Adat Pegang Besi Panas Berbuntut Panjang, Kades dan Lembaga Adat Dipolisikan


KORBAN HUKUM ADAT. Mikael Ariyanto memperlihatkan telapak tangannya yang terluka akibat menuruti hukum adat memegang besi panas sebagai alat mengukur kejujuran. (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Hukuman Adat Pegang Besi Panas Berbuntut Panjang, Kades dan Lembaga Adat Dipolisikan


MAUMERE,TIMEXKUPANG.com-Mikael Ariyanto, 29, seorang pria beristri, warga Desa Maomekot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, mengalami penderitaan fisik lantaran dihukum secara adat dengan cara memegang besi panas membara. Hukum adat ini terpaksa dilakoni Mikael untuk membuktikan kejujurannya atas dugaan perselingkuhan dengan seorang perempuan bersuami.

Akibat hukuman ini, bagian tangan Mikael terluka, dan tidak dapat beraktifitas. Tak terima dengan perlakuan ini, pria yang akrab disapa Yanto ini bersama keluarganya melaporkan lembaga adat dan kepala desa setempat ke Polres Sikka, Sabtu (22/11) lalu.

Peristiwa ini bermula ketika Yanto yang diduga telah meniduri perempuan bersuami di Desa Baomekot diinterogasi kepala desa dan lembaga aday di Desa Mekot. Dalam proses interogasi tersebut, untuk membuktikan kejujurannya, Yanto dipaksa memegang besi panas. Jika tangannya terbakar, maka terbukti Yanto telah meniduri perempuan tersebut. Jika tidak melakukan, maka tangan Yanto tidak akan terbakar meski memegang besi panas.

“Akibat hukum adat yang dijatuhkan kepada Yanto untuk membuktikan kejujurannya, yakni dengan cara memegang besi panas membara, membuat tangannya terluka. Yanto merasa teraniaya sehingga ia melaporkan kasus itu ke Polres Sikka,” ungkap Kapolres Sikka, AKBP Sajimin, kepada awak media di Maumere, Sabtu (22/11) pekan lalu.

Sementara Ketua Lembaga Adat Puter Mudeng Molo, Desa Baomekot, Viktor Solot kepada wartawan menegaskan bahwa hukuman adat yang diberikan kepada Yanto menyalahi prosedur. Menurutnya ritual adat terhadap Yanto yang dilasanakan di pelataran Desa Baomekot itu sudah tidak pernah dilakukan sejak lama.

“Sejak dahulu hukuman adat memegang besi panas tidak pernah dilakukan. Ancaman memegang besi panas hanya untuk menakut-nakuti pelaku untuk mengaku secara jujur tetapi bukan untuk memagang secara langsung besi panas,” tandas Viktor.

Viktor menilai, ritual menggenggam besi panas oleh Yanto di pelataran kantor Desa Baomekot itu telah menyalahi prosedur dan tidak sesuai dengan kebiasaan adat desa Baomekot yang sesungguhnya. Jika ingin membuat sumpah adat, lanjutnya, harus melewati dulu sejumlah tahapan adat, serta tidak boleh memihak.

“Saya mau meluruskan, bahwa sumpah adat baru dapat dilakukan jika didahului beberapa tahapan yang ada dalam sumpah adat, disamping itu dalam melaksanakan sumpah tersebut pihak lembaga adat tidak memihak kepada salah satu pihak,” jelasnya.

Sumpah adat dengan cara memegang besi panas yang dalam tradisi masyarakat Sikka dahulu disebut Nerang Rebu Gahu itu harus melalui tata cara adat yang benar dan harus sesuai prosedur seperti yang dilakukan nenek moyang dahulu.

“Tahapan dalam upacara adat memegang besi panas harus didahului dengan upacara adat untuk memohon restu nenek moyang atau leluhur. Ritual adat ini dimaksudkan untuk memohon Nian Tana Wawa Wulan Reta. Ini harus disampaikan sampai tiga kali memohon kepada leluhur. Tahap berikutnya pada saat membekar besi itupun harus dilakukan ritual adat, dan pada tahap akhirnya pun sebelum diberikan kepada pelaku harus didahului dengan ritual adat,” jelas Viktor.

Dalam setiap tahapan, lanjut Viktor, harus menyediakan terlebih dahulu beras dan ikan berwarna hijau, tujuannya agar para pelaku cepat mengakui perbuatannya.

Dalam melaksanakan sumpah adat itu, kata Viktor, harus diberikan kepada kedua belah pihak yang bermasalah, jika hanya salah satu yang diberikan maka hal itu sudah menyalahi ketentuan adat.

Viktor juga mengaku tidak meghadiri ritual adat yang digelar di kantor Desa Baomekot, lantaran tidak menyetujui prosedur adat yang dilakukan kepala desa dan anggota lembaga adat lainnya.

Menurtnya, ritual adat tersebut tidak memiliki dasar hukum sesuai yang tertuang dalam rancangan peraturan Desa Baomekot.

Dalam melaksanakan hukuman adat terhadap Yanto, demikian Viktor, hanya dihadiri oleh lima orang pemuka adat dan 10 orang lainnya yang dipilih.
Viktor bahkan mempertanyakan sejumlah pemuka adat dan orang yang ikut menandatangani berita acara pelaksanaan ritual adat, yang terkesan sebagai tokoh adat Desa Baomekot.

“Pemuka adat dan nama-nama yang menandatangani berita acara pelaksanaan ritual adat itu, hingga hari ini belum dikukuhkan. Karena itu keputusan terhadap Yanto telah meyalahi prosedur,” tegasnya. (Kr5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top