Dialog “Romo dan Frater Lipus” Diterbitkan jadi Buku | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dialog “Romo dan Frater Lipus” Diterbitkan jadi Buku


BINCANG BUKU. Penulis buku "Romo dan Frater Lipus" Romo Sipri Senda dalam bincang buku yang menghadirkan dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana, Marsel Robot yang berlangsung di Seminari St. Mikael, Jumat (27/11). Bincang ini dipandu Fr. Aditya Arum. (FOTO: ISTIMEWA)

PENDIDIKAN

Dialog “Romo dan Frater Lipus” Diterbitkan jadi Buku


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Dialog jenaka antara “Romo dan Frater Lipus” yang rutin diunggah dalam status akun Facebook Sipri Senda diterbitkan dalam sebuah buku. Buku “Romo dan Frater Lipus” adalah kumpulan dialog satire-jenaka.

Romo Sipri Senda adalah seorang pastor di Keuskupan Agung Kupang (KAK) yang sehari-harinya mengajar sebagai dosen Kitab Suci pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang.

Menandai kehadiran buku “Romo dan Frater Lipus” karangan RD. Sipri Senda tersebut, Seksi Filokalia Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui menyelenggarakan kegiatan Bincang Buku, di Seminari St. Mikael, Jumat (27/11).

Bincang buku yang dipandu Fr. Aditya Arum -penulis buku kumpulan puisi Pelajaran dari Orang Samaria- ini, menghadirkan Marsel Robot, dosen dan sastrawan NTT sebagai pembahas.

Dalam acara itu, Romo Sipri Senda sebagai penulis menceritakan proses kreatif dialog untuk memotivasi para frater supaya kreatif menulis.

Menulis, kata Romo Sipri, merupakan sebuah bentuk pewartaan injil. Penulis yang adalah dosen kitab suci pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang itu menjelaskan konsistensinya dalam menulis dengan mempertahankan gaya dialek melayu Kupang yang kental.

“Penggunaan dialek Melayu Kupang adalah sebuah upaya merawat sebuah kazanah berbahasa khas orang Kupang,” kata Romo Sipri dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/11).

Sementara Marsel Robot yang menulis prolog buku ini, mengupas isi buku sebagai sebuah eksegese jalanan yang mengungkapkan kebenaran injil dalam bahasa jalanan. Jenaka menimbulkan tawa, tapi satire menancapkan kritik bahkan autokritik. Yang menarik adalah kritik terhadap kehidupan para imam, meskipun penulisnya adalah seorang imam.

“Romo Sipri mampu mengolah keluhan umat dan menampilkannya dalam dialog yang lucu tapi menyengat. Tulisan Romo mewakili apa yang diperbincangkan umat,” papar dosen Jurusan Bahasa dan Sastra FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini.

Dalam sesi tanya jawab, beberapa frater bertanya tentang motivasi menulis dan proses kreatif dari penulis dan pembahas. Romo Sipri dan Marsel berbagi pengalaman suka duka dalam menulis.

Marsel dengan kisah perjuangan menulis sampai tulisannya dimuat di koran, sedangkan Romo Sipri berbagi pengalaman menulis buku harian sebagai sarana untuk membentuk kebiasaan menulis.

Ketua Seksi Filokalia, Fr. Sakeng, berharap agar kegiatan ini dapat memicu para frater untuk giat menulis sebagai cara pewartaan injil. Hal yang sama ditegaskan oleh moderator, Fr. Aditya Arum sebagai pernyataan penutup. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top