Polisi Kantongi Hasil Autopsi dan DNA Almarhum Putu Wisang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Polisi Kantongi Hasil Autopsi dan DNA Almarhum Putu Wisang


Kasat Reskrim Polres TTU, AKP. Sujud Alif Yulamlam. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Polisi Kantongi Hasil Autopsi dan DNA Almarhum Putu Wisang


Kuasa Hukum Korban Desak Polisi Tetapkan Tersangka

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Penyidik Satreskrim Polres Timor Tengah Utara (TTU) terus bekerja dalam upaya mengungkap kasus dugaan tindak pidana aborsi yang dilakukan oleh Debrito Kefi dengan korban Edita Dorothea Putu Wisang bersama janin dalam kandunganya.

Saat ini penyidik telah mengantongi hasil autopsi terhadap jasad dari Edita Dorotea Putu Wisang yang diduga meninggal dunia akibat praktik aborsi. Bahkan, pihak kepolisian juga telah mengantongi hasil kecocokan DNA terduga tersangka Debrito Kefi dan janin korban.

Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Sujud Alif Yulamlam, kepada Timor Express, Senin (30/11) mengatakan, pihak kepolisian masih harus mendengar penjelasan langsung dari dokter ahli terkait hasil autopsi dan kecocokan DNA tersebut. Pasalnya, keterangan hasil autopsi dan kecocokan DNA menggunakan bahasa medis yang hanya bisa dipahami oleh dokter ahli.

“Hasil autopsi dan hasil uji sampel DNA antara terduga tersangka dan janin korban pun sudah dikantongi penyidik. Saat ini hanya menunggu keterangan ahli yang melakukan pemeriksaan terhadap hasil autopsi dan DNA itu,” ungkap Sujud.

Sujud menambahkan, pihaknya telah berupaya meminta penjelasan tambahan dari dokter ahli melalui surat maupun pesan singkat, namun hingga kini belum ditanggapi.

Untuk itu, lanjut Sujud, pihaknya telah mengagendakan keberangkatan ke Jakarta untuk mendengar langsung penjelasan dokter ahli terkait hasil autopsi dan kecocokan DNA. Sayangnya, situasi pandemi Covid-19 dan proses Pilkada menjadi kendala keberangkatan pihaknya ke Jakarta.

Namun, untuk kepastian proses hukum ini, Sujud mengaku, pihaknya akan berangkat ke Jakarta guna meminta penjelasan tambahan dari dokter ahli setelah pelaksanaan Pilkada. Pihaknya juga belum bisa membeberkan hasil autopsi lantaran penjelasan yang diberikan pihaknya bisa saja bertentangan dengan dokter ahli.

BACA JUGA: Polisi Dinilai Lamban Usut Kematian Putu Wisang, Ini Permintaan Keluarga

BACA JUGA: Kematian Putu Wisang Diduga Tak Wajar, Keluarga Polisikan Debrito Kefi

“Kita masih butuhkan keterangan tambahan dari dokter ahli. Namun karena kondisi pandemi dan Pilkada, kita masih terhalang ke Jakarta. Kita harus ambil keterangan karena polisi tidak bisa mengartikan bahasa medis secara sepihak, harus dari dokter ahli yang mengeluarkan hasilnya,” jelasnya.

Sementara, kuasa hukum korban, Magnus Kobesi kepada Timor Express, Senin (30/11) mengatakan, Penyidik Satreskrim Polres TTU dinilai sangat lamban dalam menangani kasus dugaan aborsi yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Padahal, sejumlah saksi dan alat bukti telah mengarah kepada siapa pelaku dan dalang dari kematian korban. Namun pihak kepolisian saat ini masih belum meningkatkan status dari kasus tersebut.

“Seharusnya sudah ada tersangka dalam kasus ini karena alat bukti terutama keterangan medis dan keterangan sejumlah saksi sudah mengarah kepada siapa pelakunya. Namun kami menilai Polisi tidak serius menangani kasus ini,” kata Kobesi.

Kobesi menambahkan, sesuai salinan hasil autopsi yang telah diterima pihak korban menyebutkan bahwa korban meninggal diduga karena praktik aborsi. Sedangkan untuk hasil tes DNA sesuai keterangan dari tim Medis tidak diketahui.

“Penyidik harus periksa dokter yang melakukan pemeriksaan DNA karena hasilnya tidak diketahui. Kalau hasil autopsi sudah diterima pihak keluarga,” ungkap Kobesi.

Atas keterlambatan penanganan kasus tersebut, pihak keluarga, demikian Kobesi, mendesak pihak kepolisian untuk bekerja profesional dalam mengungkap misteri kematian korban secara jelas dan tuntas.

“Polisi harus bekerja profesional dalam mengungkap kasus ini. Toh, saksi dan alat bukti sudah mendukung kenapa masih berjalan di tempat,” tanya Kobesi yang tampaknya kesal dengan lambannya aparat kepolisian menangani kasus ini. (mg26)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top